Undang-undang - ISTERI MENGGUGAT CERAI

UNDANG-UNDANG HUKUM ISTERI MENGGUGAT CERAI

Pertanyaan :

Saya seorang wanita bekerja beragama Islam, telah menikah selama 2 tahun lebih dan mempunyai seorang anak di bawah umur. Saya bermaksud melakukan gugat cerai ataupun talak kepada suami saya. Kami tidak pernah melakukan hubungan suami istri lagi sejak 2 tahun yang lalu dan sering terjadi pertengkaran. Suami saya belum pernah melukai jasmani saya, tetapi sudah beberapa kali ia melempar saya dengan benda-benda ringan dan berkinginan memukul/menampar saya. Suami saya tidak pernah memberikan uang kepada saya setiap bulan karena saya juga bekerja. Keperluan saya pribadi (pakaian, jajan, dsb) dipenuhi oleh saya sendiri. Namun keperluan rumah tangga seperti belanja bulanan, gaji pembantu, keperluan anak, kadang dibayar oleh saya kadang oleh suami, tergantung siapa saat itu yang memiliki uang cash. Awalnya saya ingin melakukan perceraian secara baik-baik, tetapi suami saya mengancam antara lain mau membunuh saya, tidak mau menceraikan saya dan akan membuat saya menderita dan kalau pun proses perceraian terjadi ia akan merebut hak atas anak saya.


Berdasarkan research yang saya lakukan saya ketahui bahwa menurut UU, perceraian dapat terjadi karena alasan-alasan berikut:
a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok; pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah karena hal lain di luar kemampuannya;
c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.
d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain;
e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri;
f. Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
g. suami melanggar taklik-talak;
h. peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga.

Pertanyaan saya:

1. Dari kasus saya dapatkan saya menggugat cerai atau talak berdasarkan UU/hukum dan kuatkah alasan saya? Apakah ada kemungkinan gugatan saya ditolak jika seandainya suami saya benar-benar tidak mau menceraikan saya?

2. Dapatkah saya memperoleh hak atas anak saya, dalam arti anak ikut saya setelah perceraian? Dan sebesar apa chance saya?

Terima kasih atas bantuannya,

Ncl

Jawaban :

Suatu perceraian hanya dapat dilakukan apabila telah memenuhi salah satu dari alasan-alasan yang telah anda sebutkan diatas. Dalam Undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974, pasal 39 ayat (2), disebutkan "Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan bahwa suami isteri itu tidak akan dapat rukun sebagai suami isteri."

Dilihat dari kasus yang anda alami, jika anda mengajukan gugatan cerai kepada suami dengan berdasarkan perbuatan-perbuatan yang telah dilakukannya, berupa sering melakukan kekejaman yang membahayakan isteri dan dalam rumah tangga terus menerus terjadi perselisihan, pertengkaran dan sudah tidak ada harapan akan hidup rukun dalam rumah tangga, walaupun telah berusaha keras untuk mempertahankan rumah tangga anda, atas dasar tersebut sudah merupakan alasan yang kuat untuk dikabulkannya gugatan cerai kepada suami. Karena anda dan suami beragama islam, maka perceraian diajukan ke Pengadilan Agama.

Untuk masalah hak atas anak, karena anak masih dibawah umur berarti masih sangat membutuhkan ibunya, maka anda dapat mengajukan tuntutan ke Pengadilan agar hak perwalian atas anak berada ditangan anda. Walaupun perkawinan antara kedua orang tuanya putus, kedua orang tua tetap wajib memelihara dan mendidik anak mereka sebaik-baiknya. Kewajiban ini berlaku sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri

Home