|
Penduduk
Karen
Kelompok Karen merupakan suku minoritas yang
terbesar kedua di Myanmar, dengan jumlah 7
% dari jumlah penduduk Myanmar. Meskipun hanya
sebagian dari orang-orang Karen yang tinggal di
wilayah Myanmar, dan sebagian lagi tinggal di
Thailand. Ketika selama Perang Dunia II, Myanmar
berpihak kepada Jepang untuk melawan pasukan kolonial
Inggris agar keluar dari negara Myanmar, tetapi
kelompok Karen malah berpihak kepada tentara
sekutu.
Ketika
Inggris memberikan kemerdekaan kepada Myanmar,
kelompok Karen berharap bisa diakui menjadi sebuah
negara yang berkuasa atas daerah mereka
sendiri. Tetapi mimpi tersebut tidak bisa terkabulkan,
sehingga semenjak Perang Dunia II, kelompok Karen
masih berjuang untuk bisa menjadi negara sendiri.
Tentara Pembebasan Nasional Karen dipimpin
oleh seorang pimpinan tertinggi yang bernama Bo
Mya selama beberapa tahun.
Secara
tradisional, ibukota dari Karen telah menjadi
Manerplaw di daerah perbatasan Thailand
dan Myanmar, kira-kira 300 kilometer dari sebelah
timur Yangon. Tetapi pada permulaan tahun 1995,
kota itu direbut oleh tentara Myanmar. Wilayah
pemukiman utama dari kelompok Karen terbentang
lebih dari 1.000 kilometer disepanjang perbatasan
Thailand dan Myanmar, sama seperti di bagian
dari delta Ayeyarwaddy.
Agama
yang dianut diantara orang-orang Karen adalah
Kristen, yang mana selain berbeda dari
segi etnografi dan bahasanya, juga merupakan salah
satu faktor yang membedakannya dengan agama Budha
di Myanmar.
Salah
satu ras dari kelompok Karen yaitu Padaung,
terkenal memiliki hiasan yang khas dari para wanita-wanitanya
yang memakai kalung logam disekitar lehernya
yang bergelantungan sampai kebawah sehingga dapat
merusak bahunya. Dan hal itu menimbulkan kesan
wanita-wanita itu memiliki leher yang panjang.
Menurut literatur zaman dahulu, para wanita yang
cantik tersebut dipanggil dengan sebutan wanita
jerapah.
back
to content page
|