|
Dinasti Taungu
Setelah dua abad, selama masa kerajaan-kerajaan
di Myanmar, kerajaan Shan dan kerajaan
Mon yang berada di wilayah Myanmar terus
menerus tanpa henti-hentinya berperang satu sama
lain. Raja Minkyino naik menjadi penerus
tahta kerajaan kota Birma di Taungu pada tahun
1486. Pada masa kekuasaannya Dia memulai
untuk membangkitan kembali masa kejayaan dari
kerajaan Birma.
Setelah
Raja Minkyino meninggal dunia pada tahun 1530,
putranya yang pertama yang baru berumur 16 tahun
yaitu Tabengshweti menjadi raja Taungu.
Tabengshweti mengikuti kebijaksanaan agresif yang
bertujuan untuk menghidupkan kembali kejayaan
kerajaan Birma yang berbatasan langsung dengan
bekas kerajaan Bagan.
Pada
tahun 1535, pasukan Tabengshweti menaklukan
pelabuhan Mon di kota Bassein dan juga pada tahun
1539, kota Mon yang terpenting pada saat
itu yaitu Bago berhasil ditaklukan. Penaklukan
selanjutnya diteruskan ke sebelah utara bukit
Ayeyarwaddy memastikan daerah kekuasasan kerajaan
Tabengshweti, yang sekarang merupakan daerah Myanmar.
Tabengshweti
meninggal pada tahun 1550. Penaklukannya
adalah pada beberapa daerah-daerah alam saja,
karena pada waktu itu Birma memiliki masalah dengan
beberapa kekuatan dari kerajaan Shan di
utara. Putra dari Tabengshweti yaitu Byinnaung
menaiki tahta kerajaan Taungu dan harus kembali
menaklukan banyak kota-kota lainnya, di mana ayahnya
telah menaklukan sebelumnya, diantaranya adalah
Bago.
Pada tahun 1564, Bayinnaung (Menurut sumber
dari suku Siam : Bhueng Noreng) mengepung penuh
daerah ibukota Siam dari Ayutthaya, sampai wilayah
itu menyerah pada syarat yang diajukan kerajaan
Birma. Raja Siam dan keluarganya di culik dan
di bawa ke Myanmar, begitu pula beberapa gajah
putih yang bernilai tinggi.
Semenjak
Siam tidak memenuhi peraturan untuk memberikan
upeti kepada kerajaan Birma, pada tahun 1569,
Bayinnaung memaksa untuk menyerang Siam kembali,
dengan memimpin pasukan sebanyak 200.000 tentara.
Setelah di kepung selama tujuh bulan Ayutthaya
dapat di rebut dengan paksa.
Raja
Bayinnaung meninggal dunia pada tahun 1581.
Penggantinya, yaitu putranya Nandanaung, bagaimanapun
juga dia tidak memiliki bakat yang sama dengan
ayahnya. Selama 18 tahun masa kekuasaannya, Nandanaung
kehilangan banyak daerah taklukan yang pernah
ditaklukan oleh ayahnya dahulu.
15
tahun setelah kejatuhan Ayutthaya, pad tahun 1584,
Siam sekali lagi menyatakan kemerdekaannya. Beberapa
kampanye ke Siam, terakhir pada tahun 1592, mendapatkan
ketidakberhasilan. Selama dekade berikutnya kerajaan
dari Dinasti Taungu di Myanmar menjadi terpecah
belah.
Pada tahun 1636, Birma memindahkan ibukota
mereka dari Taungu ke Ava di sebelah utara (dekat
dengan daerah Mandalay yang sekarang). Kerajaan
Birma berlanjut kehilangan akan pengaruhnya. Pada
saat yang sama kerajaan Mon, yang masih
beribukota di Bago, tumbuh menjadi kuat.
Kerajaan Mon menaklukan Ava pada tahun 1752, dan
menjadikannya sebagai ibukota sementara mereka.
back
to content page
|