|
Perang Dunia II, dan Periode Setelah Perang
Pada tahun 1924, 15 orang tentara Jepang
menyerang Myanmar. Penyerangan itu awalnya di
dukung oleh sebagian kecil pasukan dari nasionalis
Myanmar, di antara mereka terdapat Aung San
dan kawan-kawannya Ne Win. Ketika pasukan
Jepang dengan cepat menguasai wilayah sentral
dari Myanmar, Penjajah Inggris terpaksa mundur
ke India tetapi tanpa menghancurkan sebagian
besar infrastruktur yang ada, yang telah di bangun
dalam dekade kekuasan Inggris, dalam pengertian
tanpa melakukan politik Bumi Hangus.
Jepang
menyatakan kemerdekaan Myanmar. Aung San
menjadi Menteri Peperangan Birma, Ne Win
naik menjadi kepala staf jenderal yang pro terhadap
tentara Jepang dan Myanmar. Selama tiga tahun
menduduki Myanmar oleh tentara Jepang, Pasukan
Inggris kembali melanjutkan aksinya dalam menyerang
pasukan Jepang dan pemerintahan Myanmar, dengan
melakukan perang bergerilya. Keduanya menderita
kerugian yang sangat besar.
Ketika
mulai jelas, bahwa Jepang akan kalah dalam perang,
pada Maret 1945, tentara Myanmar
yang dipimpin oleh Aung San berpindah pihak dan
menyatakan daerahnya bergabung dengan tentara
sekutu. Pada bulan berikutnya tentara Myanmar
mendukung penaklukan kembali Myanmar ke tangan
pasukan Inggris.
Pasukan
Jepang yang ada di Myanmar menyerah pada Agustus
1945. Inggris hanya sementara waktu menempatkan
kembali pemerintahan kolonial mereka, tetapi bertemu
dengan pihak oposisi yang kuat dari partai nasionalis
Myanmar di bawah kepemimpinan dari Aung San.
Januari 1947, pada konferensi di London
Pemerintahan bagian tenaga kerja di Inggris di
bawah Perdana Menteri Atlee mengabulkan
keinginan Myanmar untuk merdeka.
Selama
masa pemilihan parlementer yang diselenggarakan
April 1947, Aung San Kelompok Masyarakat
anti fasis dan kebebasan memenangkan 248 dari
255 kursi parlemen yang ada. Tetapi pada 19
Juli 1947, Aung San dan lima orang
penasehat terdekatnya menjadi sasaran pembunuhan
yang dilakukan oleh Perdana Menteri sebelum
perang, yaitu U Saw.
back
to content page
|