|
Kota Yangon
Rangoon atau Yangon dalam bahasa Myanmar,
sebenarnya bukanlah sebuah kota kuno, meskipun
perkampungan tersebut sudah ada sejak 2.500 tahun
yang lalu. Walaupun kota itu sendiri tidak terlalu
tua, kota itu menampilkan lebih banyak daya tarik
dari pada kota-kota lain yang ada di Asia Tenggara.
Alasannya, selama 30 tahun lalu hanya sedikit
yang berubah dari kota tersebut sehingga kota
ini disebut sebagai kota dari masa lalu.
Kota itu sendiri menampilkan sedikit perkembangan
dan tidak pernah terjadi kemacetan lalulintas.
Di jalan-jalan anda bisa menemukan apa saja yang
lalu lalang, di pinggir-pinggir gedung dari berbagai
macam bangunan tua merupakan tempat untuk para
pejalan kaki dan orang yang menaiki sepeda, di
sebelahnya merupakan tempat untuk lalulalang kendaraan
biasanya di sana terdapat kendaraan dari tahun
50 an sampai dengan tahun 60 an,
beberapa kendaraan bahkan ada yang berasal dari
tahun 40 an. Hanya baru-baru ini saja daerah
itu diperbolehkan untuk mengimpor kendaraan-kendaraan
bekas yang berasal dari Jepang.
Sampai pertengahan abad ke-18, Yangon telah menjadi
sebuah perkampungan kecil dari suku Mon dengan
nama Dagon. Dagon tidak pernah menjadi pusat dari
suatu kerajaan yang pernah ada. Walaupun demikian,
bahkan di permulaan dari sejarah Myanmar,
tempat itu merupakan daerah yang penting, karena
Dagon merupakan rumah dari pagoda Shwedagon,
yang sudah ada tidak hanya berabad-abad tetapi
sudah ribuan tahun menjadi tempat yang keagamaan
yang sangat penting.
Pada
tahun 1775, Dagon ditaklukan oleh raja Birma yaitu
Alaungpaya, yang membaptis kota itu menjadi
Yangon, yang apabila diartikan menjadi
akhir dari peperangan.
Pada tahun 1824, selama perang pertama antara
orang-orang Myanmar
dengan Inggris, Yangon berhasil diduduki oleh
Inggris, tetapi diambil alih tidak lama kemudian
oleh Myanmar.
Di tahun 1841 kota itu dibakar dan dihancurkan
sampai dasar dari dinding kota, tetapi atas perintah
Raja Tharrawaddy kota itu dibangun kembali.
Pada
tahun 1852, selama perang Inggris-Myanmar
yang kedua, kota kecil Yangon sekali lagi
berhasil ditaklukan oleh Inggris, yang kali ini
tidak bisa di ambil kembali oleh Myanmar,
tetapi sebaliknya Inggris merubah kota itu menjadi
pusat pemerintahan dari Myanmar selatan, yang
pada saat itu dibawah kekuasaan mereka. Inggris
juga merubah nama yangon menjadi Ranggon.
Pada
tahun 1855, setelah Inggris berhasil memenangkan
perang ketiga antara Inggris dengan Myanmar
dengan mudah dan berhasil menaklukan Myanmar
selatan, Yangon menjadi ibukota dari Myanmar
yang merupakan bagian dari koloni India. Inggris
kembali membangun kota itu menjadi benar-benar
seperti kota baru dan menggunakan pola segi empat
untuk rencana tata kotanya, yang sampai sekarang
membuat pertemuan di pusat kota menjadi mudah.
back
to content page
|