|
Pakistan / Sejarah / Asal Mula Bahasa Urdu
Sebagai
bagian dari system keagamaan, Urdu dipergunakan
dikalangan masyarakat muslim sebagai identitas
bangsa Pakistan.
Ciri
Khas Islam - Sebuah pertanyaan urdu sebagai ciri
khas islam? Bagaimanapun asumsi tersebut dipergunakan
selama mundurnya kekuasaan islam di asia bagian
selatan. Orang pertama yang mewujudkan kecerdasannya
tentang hal ini adalah sarjana teologi, Shah Waliullah
(1703 - 1762). Dia telah mendirikan yayasan bangkitnya
kembali kekuasaan islam di sub benua dan menjadikannya
sebagai sumber inspirasi untuk segala bidang,
selanjutnya menginspirasi gerakan reformasi social
dan agama pada abad ke 19 dan 20.
Menyusul
kesuksesannya , yang terinspirasi oleh ajarannya
tersebut, maka didirikanlah sebuah negara islam
sederhana di bagian barat laut India, dibawah
kepemimpinan Sayyed Ahmad Shaheed Barelvi (1786
- 1831 ), dengan mengikuti petunjuk dari ajaran
tersebut. Gerakan ekspansi Inggris dan gerakan
menentang islam lainnya , yang dimulai dengan
persekutuan India timur, Inggris muncul sebagai
negara dengan gerakannya yang dominan di asia
selatan.
Mereka
menggantikan Shariah dengan apa yang mereka istilahkan
sebagai aturan/hukum Anglo-Muhammad, sedangkan
bahasa Urdu diganti dengan bahasa Inggris, yang
kemudian dijadikan sebagai bahasa resmi. Ini membuat
perkembangan yang pesat pada bidang sosial, ekonomi
dan politik yang berbenturan khususnya dengan
masyarakat muslim di Asia Selatan.
Pemberontakan
pada tahun 1857, diistilahkan sebagai Pemberontakan
India terhadap Inggris. Perang kemerdekaan oleh
Muslim, merupakan peristiwa dari rangkaian usaha
yang sia-sia yang tidak menguntungkan. Kegagalan
institusi agama pada gerakan kemerdekaan tahun
1857 justru menimbulkan malapetaka buat muslim
sendiri, kemudian Inggris mengambil alih tanggung
jawab.
Keputusan
berhenti untuk tidak mengulang di masa depan,
Inggris melanjutkan secara hati-hati melalui kebijakan
represif dengan berusaha menentang kaum muslim.
Segala properti dan harta benda itu disatukan
dengan usaha yang sadar dibuat mencapai sesuatu
secara jujur. Reaksi kaum muslim dalam situasi
ini juga memperburuk keadaan. Pemimpin agama mereka,
menarik diri dari kehidupan bermasyarakat dan
mereka mencurahkan perhatian pada pendidikan keagamaan.
Meskipun
Akademi keagamaan, didirikan oleh Ulema, terutama
Deoband, Farangi Mahal dan Rai Bareilly, menolong
kaum muslim untuk memelihara identitas mereka,
institusi ini dilengkapi dengan pelatihan tetapi
tetap tidak bisa melengkapi mereka dalam menghadapi
tantangan baru, Reformasi pendidikan islam tetap
memisahkan diri dari pendidikan barat begitu juga
dalam hal pemerintahan.
Tetapi,
teman sebangsa mereka, orang Hindustan, juga tidak
dapat menerima penguasa baru. Mereka memperoleh
pendidikan barat, dengan menyerap kebudayaan baru.
Jika situasi ini diperpanjang, bisa menyebabkan
kerusakan yang sangat buruk. Pria yang menyadari
adanya bahaya tersebut adalah Syed Ahmad Khan
( 1817 - 1889 ), sebagai buktinya peristiwa tragis
pada tahun 1957. Dia menggunakan kebesarannya
untuk memadukan hubungan muslim inggris. Penilaiannya
atas keselamatan muslim diperoleh dari pendidikan
barat dan pengetahuan Dia mendapat banyak langkah
positif untuk mencapai sasaran. Dia menemukan
sebuah ikatan di Aligarh untuk meneruskan pendidikan
pada jalur pendidikan barat. Yang sama pentingnya
adalah konferensi ajaran Anglo-Muhammad, disponsori
olehnya pada tahun 1886, untuk mempersiapkan sebuah
forum intelektual bagi kaum muslim untuk mendukung
rencana penyebaran pendidikan barat dan reformasi
dibidang sosial. Sama seperti yang menjadi sasaran
dari yayasan kesusastraan Muhammad, didirikan
oleh Nawab Adbul Latif ( 1828 - 1893 ), aktif
di Bengal, Syed Ahmad Khan juga mendirikan sebuah
gerakan, yang dikenal sebagai Gerakan Aligarh,
dan hal ini membekas pada diri kaum muslim di
asia bagian selatan.
Dibawah
inspirasinya itu, perkumpulan tersebut didirikan
sebagai institusi pendidikan yang bertujuan untuk
meneruskan ajaran muslim Syed Ahmad Khan menentang
ide bahwa kaum muslim ikut berpartisipasi aktif
didalam organisasi politik, dia takut, Inggris
memusuhi mereka. Dia juga tidak menyukai Kaum
muslim hindu berkolaborasi dalam berbagai bentuk
kerjasama. Kekecewaannya dalam hal ini merupakan
dasar untuk membendung kontroversi Urdu Hindi
pada akhir tahun 1860 ketika Hindu bersemangat
untuk menggantikan Urdu dengan Hindi. Dia, dalam
kongres nasional India yang diadakan pada tahun
1885, menyarankan kaum muslim untuk tidak aktif
di kongres tersebut. Bersamaan dengan itu terdapat
juga seorang sarjana besar islam, Syed Ameer Ali
( 1849 - 1928 ), membagi pandangannya tentang
kongres, tetapi dia tidak menentang kaum muslim
untuk aktif dibidang organisasi politik. Dia mengorganisir
badan politik pertama bagi kaum muslim , yaitu
Asosiasi Muhammad nasional pusat. Meskipun, asosiasi
ini memiliki jumlah keanggotaan yang terbatas,
telah memiliki lebih dari 50 cabang diberbagai
tempat dibelahan dunia. Asosiasi ini memiliki
tim kerja yang solid dalam hal pengajaran dan
memberikan kemajuan dalam bidang politik bagi
kaum muslim. Tetapi, aktifitasnya mulai berkurang
mendekati akhir abad ke 19.
Persatuan
muslim mulai dikenal pada permulaan abad 20, sejumlah
factor dipercayai bahwa kaum muslim memerlukan
organisasi politik yang efektif. Oleh sebab itu,
pada oktober 1906, 35 orang pemimpin kaum muslim
melakukan pertemuan dengan wakil dari raja inggris
di Simla dan didesaknya pemisahan pemilih. Tiga
bulan kemudian, persatuan seluruh kaum muslim
India yang didirikan oleh Nawab Salimullah Khan
di Dhaka, dengan sasaran utama yaitu meminta hak
perlindungan politik dan kepentingan bagi kaum
muslim. Pemerintahan Inggris akhirnya mengakui
pemisahan para pemilih dituangkan dalam undang-undang
pemerintahan India pada tahun 1909, yang isinya
menegaskan bahwa posisi persatuan kaum muslim
sama dengan semua partai India.
Usaha
Persatuan Hindu-Islam, yang memiliki gambaran
jelas terhadap arah yang bertentangan didalam
dua masyarakat mayoritas, disebabkan keprihatinan
yang mendalam para pemimpin dari petinggi India.
Perjuangan mereka adalah untuk membawa Kongres
dan Persatuan Kaum Muslim dalam sebuah program
partai. Quaid-i-Azam Mohammad Ali Jinnah (1876-1948)
adalah seorang figure pemimpin diantara mereka.
Setelah batalnya Pemecahan Bengal dan agresi kekuatan
eropa dirancang untuk menentang kekuasaan kerajaan
Ottoman dan Afrika Utara, kaum muslim mau menerima
ide mengenai kolaborasi dengan Hindus untuk menyerang
penguasa Inggris.
Kongres
Persatuan Kaum Muslim dicapai pada sidang Lucknow
dari dua partai di tahun 1916 dan gabungan dari
susunan program partai tersebut diterima. Isi
perjanjian Lucknow umumnya mengarah pada kongres,
diterimanya prinsip tentang pemisahan para pemilih,
dan kaum muslim mayoritas berpengaruh pada kaum
muslim golongan minoritas dalam propinsi, di Punjab
dan Bengal. Periode akhir perjanjian Lucknow adalah
persahabatan antara Hindu-Muslim, dua partai ini
akan mengadakan sidang setiap tahunnya di kota
yang sama dan berhasil memecahkan permasalahan.
back
to content page
|