pt.asiamaya dotcom indonesiaH O M Etravel / wisata
Pandu Asiamap / peta indonesiaMaps Jakarta with PhotosSingapore Streets AtlasIndonesia GuideAsia GuideTravel AsiaHotel BookingsApartments in Jakartadictionary / kamusIndonesia - EnglishVIP / Figur IndonesiaBintang IndonesiaTokoh IndonesiaInternational FiguresBintang IndiaBintang MeksikoBintang MalaysiaBintang MandarinInternational CelebritiesSports / OlahragaPemain SepakbolaKlub Sepakbola
Business / BisnisPublic CompaniesHealth / KesehatanBerita KesehatanJamu InformationNutrisiLaw / HukumKonsultasi HukumUndang-undangBerita HukumEducation / PendidikanPerguruan TinggiDirectory / DirektoriIndonesia ISPPostal RatesCompany Profile


Pakistan


Pakistan / Sejarah / Asal Mula Bahasa Urdu

Sebagai bagian dari system keagamaan, Urdu dipergunakan dikalangan masyarakat muslim sebagai identitas bangsa Pakistan.

Ciri Khas Islam - Sebuah pertanyaan urdu sebagai ciri khas islam? Bagaimanapun asumsi tersebut dipergunakan selama mundurnya kekuasaan islam di asia bagian selatan. Orang pertama yang mewujudkan kecerdasannya tentang hal ini adalah sarjana teologi, Shah Waliullah (1703 - 1762). Dia telah mendirikan yayasan bangkitnya kembali kekuasaan islam di sub benua dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi untuk segala bidang, selanjutnya menginspirasi gerakan reformasi social dan agama pada abad ke 19 dan 20.

Menyusul kesuksesannya , yang terinspirasi oleh ajarannya tersebut, maka didirikanlah sebuah negara islam sederhana di bagian barat laut India, dibawah kepemimpinan Sayyed Ahmad Shaheed Barelvi (1786 - 1831 ), dengan mengikuti petunjuk dari ajaran tersebut. Gerakan ekspansi Inggris dan gerakan menentang islam lainnya , yang dimulai dengan persekutuan India timur, Inggris muncul sebagai negara dengan gerakannya yang dominan di asia selatan.

Mereka menggantikan Shariah dengan apa yang mereka istilahkan sebagai aturan/hukum Anglo-Muhammad, sedangkan bahasa Urdu diganti dengan bahasa Inggris, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa resmi. Ini membuat perkembangan yang pesat pada bidang sosial, ekonomi dan politik yang berbenturan khususnya dengan masyarakat muslim di Asia Selatan.

Pemberontakan pada tahun 1857, diistilahkan sebagai Pemberontakan India terhadap Inggris. Perang kemerdekaan oleh Muslim, merupakan peristiwa dari rangkaian usaha yang sia-sia yang tidak menguntungkan. Kegagalan institusi agama pada gerakan kemerdekaan tahun 1857 justru menimbulkan malapetaka buat muslim sendiri, kemudian Inggris mengambil alih tanggung jawab.

Keputusan berhenti untuk tidak mengulang di masa depan, Inggris melanjutkan secara hati-hati melalui kebijakan represif dengan berusaha menentang kaum muslim. Segala properti dan harta benda itu disatukan dengan usaha yang sadar dibuat mencapai sesuatu secara jujur. Reaksi kaum muslim dalam situasi ini juga memperburuk keadaan. Pemimpin agama mereka, menarik diri dari kehidupan bermasyarakat dan mereka mencurahkan perhatian pada pendidikan keagamaan.

Meskipun Akademi keagamaan, didirikan oleh Ulema, terutama Deoband, Farangi Mahal dan Rai Bareilly, menolong kaum muslim untuk memelihara identitas mereka, institusi ini dilengkapi dengan pelatihan tetapi tetap tidak bisa melengkapi mereka dalam menghadapi tantangan baru, Reformasi pendidikan islam tetap memisahkan diri dari pendidikan barat begitu juga dalam hal pemerintahan.

Tetapi, teman sebangsa mereka, orang Hindustan, juga tidak dapat menerima penguasa baru. Mereka memperoleh pendidikan barat, dengan menyerap kebudayaan baru. Jika situasi ini diperpanjang, bisa menyebabkan kerusakan yang sangat buruk. Pria yang menyadari adanya bahaya tersebut adalah Syed Ahmad Khan ( 1817 - 1889 ), sebagai buktinya peristiwa tragis pada tahun 1957. Dia menggunakan kebesarannya untuk memadukan hubungan muslim inggris. Penilaiannya atas keselamatan muslim diperoleh dari pendidikan barat dan pengetahuan Dia mendapat banyak langkah positif untuk mencapai sasaran. Dia menemukan sebuah ikatan di Aligarh untuk meneruskan pendidikan pada jalur pendidikan barat. Yang sama pentingnya adalah konferensi ajaran Anglo-Muhammad, disponsori olehnya pada tahun 1886, untuk mempersiapkan sebuah forum intelektual bagi kaum muslim untuk mendukung rencana penyebaran pendidikan barat dan reformasi dibidang sosial. Sama seperti yang menjadi sasaran dari yayasan kesusastraan Muhammad, didirikan oleh Nawab Adbul Latif ( 1828 - 1893 ), aktif di Bengal, Syed Ahmad Khan juga mendirikan sebuah gerakan, yang dikenal sebagai Gerakan Aligarh, dan hal ini membekas pada diri kaum muslim di asia bagian selatan.

Dibawah inspirasinya itu, perkumpulan tersebut didirikan sebagai institusi pendidikan yang bertujuan untuk meneruskan ajaran muslim Syed Ahmad Khan menentang ide bahwa kaum muslim ikut berpartisipasi aktif didalam organisasi politik, dia takut, Inggris memusuhi mereka. Dia juga tidak menyukai Kaum muslim hindu berkolaborasi dalam berbagai bentuk kerjasama. Kekecewaannya dalam hal ini merupakan dasar untuk membendung kontroversi Urdu Hindi pada akhir tahun 1860 ketika Hindu bersemangat untuk menggantikan Urdu dengan Hindi. Dia, dalam kongres nasional India yang diadakan pada tahun 1885, menyarankan kaum muslim untuk tidak aktif di kongres tersebut. Bersamaan dengan itu terdapat juga seorang sarjana besar islam, Syed Ameer Ali ( 1849 - 1928 ), membagi pandangannya tentang kongres, tetapi dia tidak menentang kaum muslim untuk aktif dibidang organisasi politik. Dia mengorganisir badan politik pertama bagi kaum muslim , yaitu Asosiasi Muhammad nasional pusat. Meskipun, asosiasi ini memiliki jumlah keanggotaan yang terbatas, telah memiliki lebih dari 50 cabang diberbagai tempat dibelahan dunia. Asosiasi ini memiliki tim kerja yang solid dalam hal pengajaran dan memberikan kemajuan dalam bidang politik bagi kaum muslim. Tetapi, aktifitasnya mulai berkurang mendekati akhir abad ke 19.

Persatuan muslim mulai dikenal pada permulaan abad 20, sejumlah factor dipercayai bahwa kaum muslim memerlukan organisasi politik yang efektif. Oleh sebab itu, pada oktober 1906, 35 orang pemimpin kaum muslim melakukan pertemuan dengan wakil dari raja inggris di Simla dan didesaknya pemisahan pemilih. Tiga bulan kemudian, persatuan seluruh kaum muslim India yang didirikan oleh Nawab Salimullah Khan di Dhaka, dengan sasaran utama yaitu meminta hak perlindungan politik dan kepentingan bagi kaum muslim. Pemerintahan Inggris akhirnya mengakui pemisahan para pemilih dituangkan dalam undang-undang pemerintahan India pada tahun 1909, yang isinya menegaskan bahwa posisi persatuan kaum muslim sama dengan semua partai India.

Usaha Persatuan Hindu-Islam, yang memiliki gambaran jelas terhadap arah yang bertentangan didalam dua masyarakat mayoritas, disebabkan keprihatinan yang mendalam para pemimpin dari petinggi India. Perjuangan mereka adalah untuk membawa Kongres dan Persatuan Kaum Muslim dalam sebuah program partai. Quaid-i-Azam Mohammad Ali Jinnah (1876-1948) adalah seorang figure pemimpin diantara mereka. Setelah batalnya Pemecahan Bengal dan agresi kekuatan eropa dirancang untuk menentang kekuasaan kerajaan Ottoman dan Afrika Utara, kaum muslim mau menerima ide mengenai kolaborasi dengan Hindus untuk menyerang penguasa Inggris.

Kongres Persatuan Kaum Muslim dicapai pada sidang Lucknow dari dua partai di tahun 1916 dan gabungan dari susunan program partai tersebut diterima. Isi perjanjian Lucknow umumnya mengarah pada kongres, diterimanya prinsip tentang pemisahan para pemilih, dan kaum muslim mayoritas berpengaruh pada kaum muslim golongan minoritas dalam propinsi, di Punjab dan Bengal. Periode akhir perjanjian Lucknow adalah persahabatan antara Hindu-Muslim, dua partai ini akan mengadakan sidang setiap tahunnya di kota yang sama dan berhasil memecahkan permasalahan.

 

back to content page


This page : http://www.asiamaya.com/panduasia/pakistan/e-01land/ep-lan13_b.htm
Copyright Asiamaya.com 2000
PT Asiamaya Dotcom Indonesia