28
Desember 1941. Tentara Philipina dan AS menarik diri
ke Bataan.
30
Desember 1941. Presiden Quezon dan Wakil Presiden Osmena
diambil sumpahnya didalam kantor Corregidor Tunnel.
2
Januari 1942. Tentara Jepang masuk ke Manila.
3
Januari 1942. Panglima Tertinggi Jepang, Jenderal Masaharu
Homma, memproklamirkan akhir dari pendudukan AS di Philipina.
Ia menyatakan bahwa tentara Kekaisaran Jepang tiba di Philipina
untuk membebaskan Philipina dari penindasan dominasi AS
dan untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat Philipina
dibawah pemerintahan militernya. Ia juga menetapkan keadaan
perang.
13
Januari 1942. Suatu hukum ditetapkan mengenai hukuman
mati atas tindakan menyebarkan hasutan, perusakan peralatan
milik militer, mencemari air minum, perampokan dan penjarahan,
menghindar dari penyitaan yang dilakukan oleh pihak militer.
23
Januari 1942. Sebuah komite eksekutif yang terdiri dari
orang-orang Philipina, dibentuk sebagai aliran kebijakan
pemerintahan militer . Jorge Vargas, walikota Manila
Raya, diangkat sebagai ketua dan mengangkat para koleganya
untuk memimpin berbagai departemen, seperti : Benigno S.
Aquino Sr, Departemen Urusan Dalam Negeri; Jose P. Laurel
(9 Mar 1891 - 6 Nov 1959), Departemen Kehakimam; Antonio
delas Alas, Departemen Keuangan; Rafael Alunan (16 Des 1885
- 18 Mei 1947), Departemen Pertanian dan Perdagangan; Claro
M. Recto, Departemen Pendidikan, Kesejahteraan dan Kesehatan
Masyarakat; Quintin Paredes, Departemen Pekerjaan dan Komunikasi.
17
Februari 1942. Jepang mengeluarkan perintah untuk menerapkan
sistem pendidikan Jepang di Philipina, menghapuskan
sistem lama yang berasal dari AS dan Spanyol. Sistem pendidikan
baru ini setuju untuk menyebarkan kebudayaan Philipina,
pengajaran di Nipongo, pembauran lapangan kerja dan pendidikan
dasar, dan meningkatkan keselarasan buruh.
20
Februari 1942. Presiden Quezon dan kabinet perangnya
mengunjungi beberapa negara.
11
Maret 1942. Jenderal MacArthur pergi menuju Australia
untuk mengambil alih komando Wilayah Pasifik Barat Daya.
13
Maret 1942. Pemerintah Negara Persemakmuran pindah ke
AS.
29
Maret 1942. Masyarakat Anti-Tentara Jepang atau
Hukbong Bayan Laban sa Hapon (Hukbalahap) terbentuk. Luis
Taruc merupakan pemimpinnya. Organisasi ini terdiri dari
para petani dan buruh yang berasal dari berbagai provinsi
Luzon pusat seperti Pampanga, Bulacan, dan Nueva Ecija.
Tujuan organisasi ini dalah untuk kemerdekaan. Organisasi
ini juga hanyalah merupakan unit gerilya yang tidak akan
menerima perintah dari MacArthurdengan melancarkan perlawanan.
Dalam pandangan MacArthur, Hukbalahap merupakan organisasi
semi-politik dan semi-penjahat yang berencana untuk mendirikan
pemerintahan komunis di Philipina.
April
1942. Suatu pergerakan pro-perlawanan AS terbentuk,
terutama untuk menyediakan data kepada AS pada posisi sebagai
musuh. Para pengurus yang penting adalah : Marcelo Adurru,
Roque Ablan (9 Agt 1906 - 31 Jan 1943), Alejo Santos, Lorenzo
Tanada, Wenceslao Vinzon (28 Sep 1910 - 1942), Macario Peralta,
Tomas Confessor, dan Wendell Fertig.
9
April 1942. Bataan dibawah komando AS, Jenderal Edward
King, merupakan provinsi terakhir yang menyerah kepada tentara
Jepang. Suatu kejadian dengan nama buruk yaitu Kematian
Maret mengikutinya, perjalanan menyakitkan yang dilakukan
oleh 36.000 tentara AS dan Philipina beserta para gerilya
tanpa makanan dan air minum. Tawanan perang dibayonet atau
secara brutal dibantai hingga mati oleh para penjaga. Mereka
yang mencapai San Fernando, Pampanga, dibawa ke kemp konsentrasi
di Capaz, Tarlac.
6
Mei 1942. Corregidor menyerah kepada Jepang beserta
12.000 tentara Philipina dan AS ditangkap sebagai tawanan
perang.
14
Juni 1942. Negara Persemakmuran Philipina menjadi anggota
Perserikatan Bamgsa Bangsa (PBB).
30
Desember 1942. Kalibapi terbentuk. Kalibapi merupakan
suatu organisasi yang disponsori oleh Jepang, memiliki fungsi
sebagai alat kendali dan indoktrinasi. Organisasi ini membubarkan
partai-partai politik yang ada dan organisasi-organisasi
masyarakat Philipina. Benigno Aquino, Sr. diangkat
menjadi Direktur Jenderal Kalibapi. Dalam organisasi ini
terdapat juga anggota muda Kalibapi dan diambil dari para
pemuda Philipina yang berusia antara tujuhbelas sampai delapanbelas
tahun.
20
Juni 1943. Perdana Menteri Jepang, Hideki Tojo mencalonkan
duapuluh anggota Komisi Persiapan Kemerdekaan Philipina
dimana seluruhnya adalah orang Philipina.
4
September 1943. Komisi tersebut merancang Konstitusi
baru yang membentuk dewan nasional tunggal.
20
September 1943. 108 delegasi Dewan Nasional
dipilih oleh anggota Komisi Persiapan Kemerdekaan Philipina.
15
September 1943. Anggota Dewan Nasionalmemilih Jose P.
Laurel sebagai Presiden Philipina.
14
Oktober 1943. Pemerintahan boneka dilantik. Laurel diambil
sumpah jabatannnya dan ia meminta AS untuk memangakui "kemerdekaan"
Philipina.
November
1943. Perekonomian Philipina ambruk, kekurangan beras
menjadi masalah yang serius.
Mei
1944. Pemerintahan boneka melantik Pergerakan Revolusi
Hijau. Pergerakan ini memerlukan setiap orang yang berusia
16 sampai dengan 60 tahun agar menanami seluruh lahan yang
tersedia untuk memperhitungkan ancaman bahaya kelaparan.
1
Agustus 1944. Sergio Osmena menggantikan jabatan kepresidenan,
diakibatkan wafatnya Manuel Quezon di Danau Saranak karena
menderita TBC.
21
September 1944. AS menggerebek Manila. Persediaan bahan
makanan penduduk semakin menipis. Tindakan AS ini mendesak
Jepang untuk menekan Laurel agar mengumumkan perang
melawan AS.
20
Oktober 1944. Jenderal MacArthur mendarat di Palo,
Leyte, ditemani oleh Presiden Sergio Osmena dan tentara
AS.
23
Oktober 1944. Pemerintahan negara Persemakmuran Philipina
didirikan kembali di Tacloban, Leyte dimana diumumkan
ibukota negara Philipina yang sementara untuk menunggu pembebasab
seluruh negeri ini.
8
Desember 1944. Jenderal Philipina yang pro terhadap
Jepang yaitu Pio Duran dan Benigno Ramos mendirikan Makapilis.
Makapalis merupakan sekumpulan serdadu Philipina yang berjuang
untuk Jepang dalam sejumlah pertempuran.