pt.asiamaya dotcom indonesiaH O M Etravel / wisata
Pandu Asiamap / peta indonesiaMaps Jakarta with PhotosSingapore Streets AtlasIndonesia GuideAsia GuideTravel AsiaHotel BookingsApartments in Jakartadictionary / kamusIndonesia - EnglishVIP / Figur IndonesiaBintang IndonesiaTokoh IndonesiaInternational FiguresBintang IndiaBintang MeksikoBintang MalaysiaBintang MandarinInternational CelebritiesSports / OlahragaPemain SepakbolaKlub Sepakbola
Business / BisnisPublic CompaniesHealth / KesehatanBerita KesehatanJamu InformationNutrisiLaw / HukumKonsultasi HukumUndang-undangBerita HukumEducation / PendidikanPerguruan TinggiDirectory / DirektoriIndonesia ISPPostal RatesCompany Profile

Philipina


Dari Tahun 1989 Sampai Tahun 1990


1 Maret 1989. Presiden Cory Aquino menjanjikan pencapaian deregulasi ekonomi Philipina. Dalam suatu pidato pada saat peringatan keduapuluh Institut Manajemen Asia di Manila, dia mengatakan : "Kita tidak hanya harus melonggarkan, tetapi kita harus benar-benar melepaskan rintangan regulasi yang menghambat investasi swasta dan mematikan investasi lokal maupun luar negeri serta berkurangnya bantuan bagi pembangunan". Tetapi tidak banyak yang terjadi setelahnya.

9 - 10 Maret 1989. 47 orang para pemberontak NPA tewas dalam pertempuran dua hari dengan pasukan pemerintah di Lupon, Davao Oriental.

21 April 1989. Perwira AS, Kol. James Rowe, kepala divisi angkatan darat gabungan Kelompok Penasehat Militer AS (JUSMAG) terbunuh dalam suatu penyergapan komunis. Ia merupakan perwira tertinggi yang dibunuh oleh NPA sampai saat itu.

8 Mei 1989. Hans Juergen Tittel, seorang eksekutif pertambangan Jerman, tertembak dalam suatu penyergapan di Malate. Rival bisnisnya menyadari adanya suatu motiv dibalik pembunuhan tersebut.

15 Agustus 1989. Lima orang sandera, termasuk seorang misionaris Australia Jacqueline Hanill, dan 16 orang tawanan tewas selama terjadinya tembak-tembakan dalam sutu operasi penyelamatan di penjara Daerah Komando Metropolitan Davao.

26 September 1989. Wakil Presiden AS, Quayle mengunjungi Philipina; dua warga sipil AS tewas dalam suatu penyergapan para pemberontak NPA di provinsi Tarlac.

28 September 1989. Presiden Marcos yang telah dipecat (lahir 11 Sep 1917) wafat pada pukul 18:40 waktu Manila di Hawaii dengan usia 72 tahun; Presiden Aquino menolak pemakamannya di Philipina.

6 Oktober 1989. Angin topan Rubing menghantam daerah bagian utara Luzon, membunuh 116 jiwa.

11 Oktober 1989. Angin topan Saling membunuh 55 jiwa di Manila dan Luzon bagian selatan.

19 November 1989. Plebisit diselenggarakan oleh sejumlah provinsi di Mindanao dan Palawan untuk memutuskan yang selanjutnya disebut Undang-undang Organik Mindanao, memberikan provinsi ini otonomi terbatas. Hanya empat provinsi peserta yang diberikan kekuasaan otonomi terbatas.

29 November 1989. 30 orang pemberontak Penjaga Hutan melumpukan peralatan komunikasi tentara di selatan Manila. Kelompok ini muncul tidak mengenal waktu dan beraksi baik siang maupun malam.

30 November 1989. Larut malam, pemberontakan para tentara dimulai yang selanjutnya disebut pemberontakan tiba-tiba di bulan Desember. Sekelompok Marinir pemberontak menangkap dan memblokir jalanan menuju Pangkalan Udara Villamor; para pemberontak juga mengambil alih stasiun TV saluran 2 dan 4 di Kota Quezon.

1 Desember 1989. Pada pagi harinya, para pemberontak Penjaga Hutan menangkap beberapa orang komandan militer, merampas tank di Benteng Bonifacio dan mengambil alih kendali Bandara Mactan di Cebu. Di Manila, pemberontak Tora-Tora berencana membom Istana Malacanang; beberapa helikopter pemberontak membakar gedung-gedung didua kamp militer besar di Metro Manila yaitu Markas Besar Angkatan Darat Kamp Aguinaldo dan Markas Besar Angkatan Kepolisian Kamp Crame. Para pemberontak, dimana mereka menguasai Metro Manila dengan pesawat udaranya, awalnya terlihat unggul; sejumlah besar pasukan militer Philipina tidak tersedia untuk melindungi pemerintah pada saat yang sama mereka tidak secara aktif bergabung dengan para pemberontak. Karena kebanyakan para anggota militer Presiden Aquino bersikap menunggu dan melihat, maka ia meminta bantuan kepada AS. Dini harinya, pesawat penyerang AS F-4 muncul diatas Metro Manila. Yang mengesankan adalah bahwa pesawat F-4 tersebut secara aktif melancarkan serangan sengit terhadap para pemberontak, menghancurkan kekuatan Tora-Tora pemberontak di Sangley Point, Cavite, dan kemudian memberikan perlindungan udara bagi Istana Malacanang. Setelah pemberontakan padam, kepentingan campur tangan AS yang masih berkelanjutan dianggap sepele oleh pemerintah. Menyadari takut akan menjadi kacung pihak AS, pemerintah bersikeras bahwa para penyerang AS melakukan semua tindakan tersebut tidak bermaksud ikut berperan aktif dalam pertempuran di Philipina. Kehadiran mereka hanya akan dianggap sebagai penerbangan bantuan bagi pemerintah Philipina.

2 Desember 1989. Pesawat udara pemerintah secara tidak sengaja menyerang tentara dan penduduk sipil; para pemberontak pindah ke kondominium dan hotel-hotel berbintang lima di Makati serta menahan ribuan penduduk setempat dan menawan para turis.

3 Desember 1989. Para tentara yang patuh kepada pemerintah menangkis serangan penaklukan pemberontak di Kamp Aguinaldo dan Crame.

4 Desember 1989. Tentara pemberontak dan pasukan pemerintah menemui jalan buntu di Makati. Pada saat para pemberontak tidak cukup kuat untuk dianggap membahayakan bagi pemerintah, tetapi pihak militer tidak dapat melakukan gerakan besar untuk melawan para pemberontak karena takut akan membunuh warga sipil, terutama para warga asing yang berada di hotel-hotel berbintang lima yang diduduki oleh para pemberontak.

6 Desember 1989. Pihak sipil diizinkan mengungsi dari Makati; diantara mereka terdapat ratusan warga asing yang telah beberapa hari disandera oleh para pemberontak. Presiden Aquino menyatakan bahwa negara dalam keadaan darurat.

7 Desember 1989. Pagi harinya, para pemberontak di Makati kembali ke barak mereka. Pada saat mereka tidak mampu untuk menggulingkan pemerintahan, tetapi mereka juga tidak menunjukkan sikap menyerah. Ketika kembalinya mereka ke barak, mereka tetap bersenjata penuh dan sebenarnya beberapa diantara mereka bersorak gembira sebagaimana halnya suatu pawai kemenangan.

1 Januari 1990. Sembilan tewas dan sejumlah 2000 orang cedera dalam perayaan Tahun Baru.

2 - 7 Pebruary 1990. 128 pemberontak NPA dibunuh selama lima hari penyerangan pihak militer di Mindanao.

8 - 12 Pebruary 1990. Sebuah gempa bumi dengan beberapa guncangan terjadi di Cebu dan Bohol. Gempa ini mengakibatkan kerusakan yang sangat besar di Bohol.

27 Pebruary 1990. Satu-satunya Senator dari pihak oposisi yaitu Juan Ponce Enrile, ditangkap di gedung Senat dengan tuduhan terlibat serangkaian pemberontakan dengan pembunuhan. Ia dituduh telah melakukan pertemuan dengan pemimpin pemberontakan Gringo Honasan selama terjadinya pemberontakan pada bulan Desember 1989.

4 Maret 1990. Selama pertempuran hebat antara pihak tentara pemerintah dan pasukan bersenjata yang setia kepada Gubernur Cagayan Rodolfo Aguinaldo, Brig. Jend. Oscar Florendo secara fatal tertembak. Florendo merupakan anggota partai pemerintah yang pindah ke ibukota provinsi Cagayan, Tuguegarao, untuk menahan Aguinaldo. Seperti Enrile, Aguinaldo dituduh telah mendanai para pemberontak dalam serangan mendadak yang gagal dibulan Desember.

6 Maret 1990. Mahkamah Agung memerintahkan untuk melepaskan Senator Enrile dengan jaminan 100.000 peso. Enrile mengirimkan sejumlah uang yang dikehendaki tersebut dan dibebaskan pada pukul 21:10.

25 Maret 1990. Bandar Udara Internasional di Laoag, Ilocos Norte, dibuka kembali. Bandara ini telah ditutup setelah revolusi EDSA untuk memenjarakan Marcos kembali.

4 Mei 1990. Marinir Meriam AS, Sersan John Fredette dibunuh di Kota Olopango baik oleh kecanduan obat-obatan, berdasarkan pernyataan pihak penguasa maupun oleh para NPA berdasarkan keterangan sumber militer AS.

13 Mei 1990. Dua perwira udara AS, John Raven, 21, dan James Green, 22, ditembak oleh anggota sparrow NPA pada pukul 20:20 pada saat mereka meninggalkan hotel di Dau Mabalacat, Pampanga dekat pangkalan Udara AS Clark.

14 Mei 1990. Para wakil dari AS dan Philipina bertemu di gedung Bank Sentral di Malate, Manila untuk memulai pembicaraan mengenai usaha-usaha penyelidikan dimana Philipina mengizinkan AS untuk tetap memiliki basis di Philipina.

18 Mei 1990. Dipagi harinya, seorang pria yang tidak dapat diidentifikasikan melemparkan dua buah granat ke Pusat Kebudayaan AS Thomas Jefferson di Makati tanpa mencederai atau mengakibatkan kerusakan. Pada sore harinya, pembicaraan mengenai usaha-usaha penyelidikan berakhir dengan perjanjian adanya diskusi penuh mengenai hubungan AS-Philipina akan dimulai dalam beberapa bulan mendatang.

12 Mei 1990. Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan suatu peringatan mengenai perjalanan ke Philipina selama masa pembicaraan antara AS dan Philipina.

12 Juni 1990. Sebuah tornado menghantam Sityo Siparok, Manukan di Zamboanga del Norte pada pukul 19:00 dan menewaskan 50 jiwa.

28 Juni 1990. Dalam beberapa ancaman NPA, Korps Perdamaian AS menangguhkan operasinya di Philipina dan memerintahkan 261 relawannya untuk pergi ke Hawaii.


- Dari tahun 25.000 SM sampai tahun 1380
- Dari tahun 1450 sampai tahun 1536
- Dari tahun 1543 sampai tahun 1603
- Dari tahun 1622 sampai tahun 1809
- Dari tahun 1812 sampai tahun 1882
- Dari tahun 1884 sampai tahun 1894
- Dari tahun 1896 sampai tahun 1898
- Dari tahun 1899 sampai tahun 1900
- Dari tahun 1901 sampai tahun 1903
- Dari tahun 1904 sampai tahun 1935
- Dari tahun 1941 sampai tahun 1944
- Dari tahun 1945 sampai tahun 1946
- Dari tahun 1947 sampai tahun 1954
- Dari tahun 1955 sampai tahun 1968
- Dari tahun 1969 sampai tahun 1972
- Dari tahun 1973 sampai tahun 1977
- Dari tahun 1978 sampai tahun 1982
- Dari tahun 1983 sampai tahun 1985
- 1986
- 1987
- 1988

Informasi Lebih Lanjut Mengenai Negara dan Penduduknya :

- Geografi
- Iklim
- Penduduk
- Pemerintahan
- Sejarah
- Media
- Pekerjaan Dan Bisnis
- Seni Dan Budaya
- Transportasi
- Hiburan
- Pendidikan
- Kesehatan
- Olah Raga
- Flora dan Fauna

 

 


This page : http://www.asiamaya.com/panduasia/philipina/e-01land/ep-lan14_v.htm
Copyright Asiamaya.com 2000
PT Asiamaya Dotcom Indonesia