|
Dari Tahun 1989 Sampai Tahun 1990
1 Maret
1989. Presiden
Cory Aquino menjanjikan pencapaian deregulasi ekonomi
Philipina. Dalam suatu pidato pada saat peringatan keduapuluh
Institut Manajemen Asia di Manila, dia mengatakan : "Kita
tidak hanya harus melonggarkan, tetapi kita harus benar-benar
melepaskan rintangan regulasi yang menghambat investasi swasta
dan mematikan investasi lokal maupun luar negeri serta berkurangnya
bantuan bagi pembangunan". Tetapi tidak banyak yang terjadi
setelahnya.
9
- 10 Maret 1989. 47 orang para pemberontak NPA tewas dalam
pertempuran dua hari dengan pasukan pemerintah di Lupon,
Davao Oriental.
21
April 1989. Perwira AS, Kol. James Rowe, kepala
divisi angkatan darat gabungan Kelompok Penasehat Militer
AS (JUSMAG) terbunuh dalam suatu penyergapan komunis.
Ia merupakan perwira tertinggi yang dibunuh oleh NPA sampai
saat itu.
8
Mei 1989. Hans Juergen Tittel, seorang eksekutif pertambangan
Jerman, tertembak dalam suatu penyergapan di Malate. Rival
bisnisnya menyadari adanya suatu motiv dibalik pembunuhan
tersebut.
15
Agustus 1989. Lima orang sandera, termasuk seorang misionaris
Australia Jacqueline Hanill, dan 16 orang tawanan tewas
selama terjadinya tembak-tembakan dalam sutu operasi penyelamatan
di penjara Daerah Komando Metropolitan Davao.
26
September 1989. Wakil Presiden AS, Quayle mengunjungi
Philipina; dua warga sipil AS tewas dalam suatu penyergapan
para pemberontak NPA di provinsi Tarlac.
28
September 1989. Presiden Marcos yang telah dipecat (lahir
11 Sep 1917) wafat pada pukul 18:40 waktu Manila di Hawaii
dengan usia 72 tahun; Presiden Aquino menolak pemakamannya
di Philipina.
6
Oktober 1989. Angin topan Rubing menghantam daerah
bagian utara Luzon, membunuh 116 jiwa.
11
Oktober 1989. Angin topan Saling membunuh 55 jiwa
di Manila dan Luzon bagian selatan.
19
November 1989. Plebisit diselenggarakan oleh sejumlah
provinsi di Mindanao dan Palawan untuk memutuskan yang selanjutnya
disebut Undang-undang Organik Mindanao, memberikan
provinsi ini otonomi terbatas. Hanya empat provinsi peserta
yang diberikan kekuasaan otonomi terbatas.
29
November 1989. 30 orang pemberontak Penjaga Hutan melumpukan
peralatan komunikasi tentara di selatan Manila. Kelompok ini
muncul tidak mengenal waktu dan beraksi baik siang maupun
malam.
30
November 1989. Larut malam, pemberontakan para tentara
dimulai yang selanjutnya disebut pemberontakan tiba-tiba di
bulan Desember. Sekelompok Marinir pemberontak menangkap dan
memblokir jalanan menuju Pangkalan Udara Villamor;
para pemberontak juga mengambil alih stasiun TV saluran 2
dan 4 di Kota Quezon.
1
Desember 1989. Pada pagi harinya, para pemberontak Penjaga
Hutan menangkap beberapa orang komandan militer, merampas
tank di Benteng Bonifacio dan mengambil alih kendali
Bandara Mactan di Cebu. Di Manila, pemberontak Tora-Tora
berencana membom Istana Malacanang; beberapa helikopter pemberontak
membakar gedung-gedung didua kamp militer besar di Metro Manila
yaitu Markas Besar Angkatan Darat Kamp Aguinaldo dan
Markas Besar Angkatan Kepolisian Kamp Crame. Para pemberontak,
dimana mereka menguasai Metro Manila dengan pesawat udaranya,
awalnya terlihat unggul; sejumlah besar pasukan militer Philipina
tidak tersedia untuk melindungi pemerintah pada saat yang
sama mereka tidak secara aktif bergabung dengan para pemberontak.
Karena kebanyakan para anggota militer Presiden Aquino bersikap
menunggu dan melihat, maka ia meminta bantuan kepada AS. Dini
harinya, pesawat penyerang AS F-4 muncul diatas
Metro Manila. Yang mengesankan adalah bahwa pesawat F-4 tersebut
secara aktif melancarkan serangan sengit terhadap para pemberontak,
menghancurkan kekuatan Tora-Tora pemberontak di Sangley
Point, Cavite, dan kemudian memberikan perlindungan udara
bagi Istana Malacanang. Setelah pemberontakan padam, kepentingan
campur tangan AS yang masih berkelanjutan dianggap sepele
oleh pemerintah. Menyadari takut akan menjadi kacung pihak
AS, pemerintah bersikeras bahwa para penyerang AS melakukan
semua tindakan tersebut tidak bermaksud ikut berperan aktif
dalam pertempuran di Philipina. Kehadiran mereka hanya akan
dianggap sebagai penerbangan bantuan bagi pemerintah
Philipina.
2
Desember 1989. Pesawat udara pemerintah secara tidak sengaja
menyerang tentara dan penduduk sipil; para pemberontak pindah
ke kondominium dan hotel-hotel berbintang lima di Makati
serta menahan ribuan penduduk setempat dan menawan para turis.
3
Desember 1989. Para tentara yang patuh kepada pemerintah
menangkis serangan penaklukan pemberontak di Kamp Aguinaldo
dan Crame.
4
Desember 1989. Tentara pemberontak dan pasukan pemerintah
menemui jalan buntu di Makati. Pada saat para pemberontak
tidak cukup kuat untuk dianggap membahayakan bagi pemerintah,
tetapi pihak militer tidak dapat melakukan gerakan besar untuk
melawan para pemberontak karena takut akan membunuh warga
sipil, terutama para warga asing yang berada di hotel-hotel
berbintang lima yang diduduki oleh para pemberontak.
6
Desember 1989. Pihak sipil diizinkan mengungsi dari Makati;
diantara mereka terdapat ratusan warga asing yang telah beberapa
hari disandera oleh para pemberontak. Presiden Aquino menyatakan
bahwa negara dalam keadaan darurat.
7
Desember 1989. Pagi harinya, para pemberontak di Makati
kembali ke barak mereka. Pada saat mereka tidak mampu untuk
menggulingkan pemerintahan, tetapi mereka juga tidak menunjukkan
sikap menyerah. Ketika kembalinya mereka ke barak, mereka
tetap bersenjata penuh dan sebenarnya beberapa diantara mereka
bersorak gembira sebagaimana halnya suatu pawai kemenangan.
1
Januari 1990. Sembilan tewas dan sejumlah 2000 orang cedera
dalam perayaan Tahun Baru.
2
- 7 Pebruary 1990. 128 pemberontak NPA dibunuh selama
lima hari penyerangan pihak militer di Mindanao.
8
- 12 Pebruary 1990. Sebuah gempa bumi dengan beberapa
guncangan terjadi di Cebu dan Bohol. Gempa ini mengakibatkan
kerusakan yang sangat besar di Bohol.
27
Pebruary 1990. Satu-satunya Senator dari pihak oposisi
yaitu Juan Ponce Enrile, ditangkap di gedung Senat
dengan tuduhan terlibat serangkaian pemberontakan dengan pembunuhan.
Ia dituduh telah melakukan pertemuan dengan pemimpin pemberontakan
Gringo Honasan selama terjadinya pemberontakan pada bulan
Desember 1989.
4
Maret 1990. Selama pertempuran hebat antara pihak tentara
pemerintah dan pasukan bersenjata yang setia kepada Gubernur
Cagayan Rodolfo Aguinaldo, Brig. Jend. Oscar Florendo
secara fatal tertembak. Florendo merupakan anggota partai
pemerintah yang pindah ke ibukota provinsi Cagayan, Tuguegarao,
untuk menahan Aguinaldo. Seperti Enrile, Aguinaldo dituduh
telah mendanai para pemberontak dalam serangan mendadak yang
gagal dibulan Desember.
6
Maret 1990. Mahkamah Agung memerintahkan untuk melepaskan
Senator Enrile dengan jaminan 100.000 peso. Enrile mengirimkan
sejumlah uang yang dikehendaki tersebut dan dibebaskan pada
pukul 21:10.
25
Maret 1990. Bandar Udara Internasional di Laoag,
Ilocos Norte, dibuka kembali. Bandara ini telah ditutup setelah
revolusi EDSA untuk memenjarakan Marcos kembali.
4
Mei 1990. Marinir Meriam AS, Sersan John Fredette dibunuh
di Kota Olopango baik oleh kecanduan obat-obatan, berdasarkan
pernyataan pihak penguasa maupun oleh para NPA berdasarkan
keterangan sumber militer AS.
13
Mei 1990. Dua perwira udara AS, John Raven, 21, dan James
Green, 22, ditembak oleh anggota sparrow NPA pada pukul 20:20
pada saat mereka meninggalkan hotel di Dau Mabalacat, Pampanga
dekat pangkalan Udara AS Clark.
14
Mei 1990. Para wakil dari AS dan Philipina bertemu di
gedung Bank Sentral di Malate, Manila untuk memulai pembicaraan
mengenai usaha-usaha penyelidikan dimana Philipina mengizinkan
AS untuk tetap memiliki basis di Philipina.
18
Mei 1990. Dipagi harinya, seorang pria yang tidak dapat
diidentifikasikan melemparkan dua buah granat ke Pusat
Kebudayaan AS Thomas Jefferson di Makati tanpa
mencederai atau mengakibatkan kerusakan. Pada sore harinya,
pembicaraan mengenai usaha-usaha penyelidikan berakhir dengan
perjanjian adanya diskusi penuh mengenai hubungan AS-Philipina
akan dimulai dalam beberapa bulan mendatang.
12
Mei 1990. Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan suatu
peringatan mengenai perjalanan ke Philipina selama masa pembicaraan
antara AS dan Philipina.
12
Juni 1990. Sebuah tornado menghantam Sityo Siparok,
Manukan di Zamboanga del Norte pada pukul 19:00 dan menewaskan
50 jiwa.
28
Juni 1990. Dalam beberapa ancaman NPA, Korps Perdamaian
AS menangguhkan operasinya di Philipina dan memerintahkan
261 relawannya untuk pergi ke Hawaii.
-
Dari tahun 25.000 SM sampai tahun
1380
- Dari tahun 1450 sampai tahun 1536
- Dari tahun 1543 sampai tahun 1603
- Dari tahun 1622 sampai tahun 1809
- Dari tahun 1812 sampai tahun 1882
- Dari tahun 1884 sampai tahun 1894
- Dari tahun 1896 sampai tahun 1898
- Dari tahun 1899 sampai tahun 1900
- Dari tahun 1901 sampai tahun 1903
- Dari tahun 1904 sampai tahun 1935
- Dari tahun 1941 sampai tahun 1944
- Dari tahun 1945 sampai tahun 1946
- Dari tahun 1947 sampai tahun 1954
- Dari tahun 1955 sampai tahun 1968
- Dari tahun 1969 sampai tahun 1972
- Dari tahun 1973 sampai tahun 1977
- Dari tahun 1978 sampai tahun 1982
- Dari tahun 1983 sampai tahun 1985
- 1986
- 1987
- 1988
Informasi
Lebih Lanjut Mengenai Negara dan Penduduknya :
- Geografi
- Iklim
- Penduduk
- Pemerintahan
- Sejarah
- Media
- Pekerjaan Dan Bisnis
- Seni Dan Budaya
- Transportasi
- Hiburan
- Pendidikan
- Kesehatan
- Olah Raga
- Flora dan Fauna
|