asiamaya.com - optimized for cell phone and PC browsing

MAIN NAVIGATION PAGE

PHILIPINA PAGE

Lukisan

Pada tahun 1785 lukisan kembali mendunia dengan seizin Charles III. Para senimanpun mulai melukis dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Beberapa master seniman pertama Philipina pada era tersebut diantaranya adalah Antonio Malantic, Isidro Arceo, Justiniano Asuncion and Severino Javier. Tetapi para seniman pada periode ini masih melakukan salinan langsung dari hasil kerja asli mereka.

Pada tahun 1825, orang-orang Philipina diizinkan untuk mendaftar pada sekolah kesenian yang didirikan oleh Sociedad Economic de los Amigos del Pais di Manila. Sekolah kesenian tersebut ditutup pada tahun 1827 akibat kekurangan dana. Pada tahun 1849, Akademi Menggambar dan Melukis dibuka di Manila. Para seniman diajarkan melukis dengan gaya tradisional dan dilanjutkan dengan tradisi artistik Eropa. Biasanya digunakan kertas dan cat Cina karena bahan-bahan dari Eropa terlalu mahal.

Lorenzo Guerrero adalah salah satu seniman Philipina pertama yang menyimpang dari pola seni konvensional dan mencoba teknik artistik baru. Selanjutnya Guerrero menjadi instruktur Juan Luna. Juan Luna menjadi pelukis terbesar Philipina pada masa itu. Lukisannya berpusat pada tema-tema epik dan sosok kepahlawanan. Pada Pameran Madrid tahun 1881, lukisan Luna yang berjudul La Nuerte de Cleopatra mengejutkan seluruh pengunjung yang berasal dari Spanyol maupun Italia dan pada tahun 1884 dengan kompetisi yang sama, lukisannya yang berjudul Spolarium memenangkan medali emas. Medali perak dimenangkan oleh Felix Hidalgo dengan karyanya yang berjudul Virgenes Christiana Expuertas de Populacho.

Pada akhir abad ke-19, Isabelo Guerrero dan Simon Flores mulai berkonsentrasi pada tema-tema mengenai Philipina. Tahun 1890, Flores menghasilkan karya lukis terbaik pada saat itu yang berjudul Primera Letras. Karena diinspirasi oleh maha karya yang berjudul Fabian dela Rosa, seorang seniman Philipina yang beraliran modern melukis dengan judul Penanaman Padi pada tahun 1904. Lukisan ini memenangkan medali emas pada acara Pameran Internasional di St. Louis. Ia adalah pelukis ketiga yang memperoleh penghargaan internasional Philipina setelah Luna dan Hidalgo. Bentuk seni orisinilnya diturunkan kepada generasi muda yang dipimpin oleh murid dan kemenakannya yaitu Fernando Amorsolo.

Selama permulaan era AS, kolonial memenjarakan para seniman karena takut akan membangkitkan semangat nasionalisme dikalangan masyarakat Philipina. Kolonial menerapkan program Amerikanisasi, mengajarkan tradisi kebudayaan masyarakatnya dan melatih bidang baru dalam seni periklanan kepada para seniman. Para seniman Philipina pun mulai mendisain poster, kalender, dan pemaketan produk, karena dapat mengkomersialisasikan seni. Perlindungan seni bergeser dari gereja menjadi pedagang kelas menengah. Subjek lukisanpun berubah dari objek-objek religius menjadi dunia alam, kehidupan sosial dan pekerjaan masyarakat. Karena adanya sekelompok pembeli AS di dalam pasar seni, maka lukisan-lukisanpun cenderung lebih merefleksikan pandangan orang asing terhadap dunia daripada perspektif orang-orang Philipina. Kebudayaan bangsa pun dibuang dan diabaikan karena lebih mengunggulkan bentuk kesenian asing. Lukisan-lukisan yang menggambarkan selera masyarakat perkotaan dengan tidak ditemukannya bakat dan pengalaman seperti karya-karya pelukis era gaya Spanyol. Orang-orang Amerika lebih menyukai motif-motif yang nyaman dilihat, seperti gubug nipa yang eksotis, senyuman wanita berkulit coklat, pematang sawah, dan lain sebagainya.

Armosolo menjadi terkenal dikarenakan lukisan dalam gayanya sendiri yang berjudul Penanaman Padi dan Vicente Dizon dengan lukisannya yang berjudul Hari Kerja Keras dimana keduanya memenangkan penghargaan internasional pada tahun 1939 di New York World Fair dan dalam acara Golden Gate World Fair and Exposition di San Francisco. Pada tahun 1936, Amorsolo menerima medali emas dari UNESCO, penerima Penghargaan Rizal Propatria dan penerima Araw ng Maynila. Pada tahun 1973, ia secara anumerta dinyatakan sebagai Seniman Nasional.

Pada saat yang sama dengan Dizon dan Amorsolo, Carlos "Botong" Francisco meraih popularitas. Pada tahun 1948, ia memenangkan penghargaan pada kompetisi pertama Asosiasi Seni Philipina (AAP). Ia merupakan salah satu pelukis dinding yang terbaik di negara ini, karena itu pada tahun 1953 ketika Pameran Internasional diselenggarakan di Manila, ia ditugaskan untuk membuat lukisan dinding pada tanah pameran dimana ia menggambarkan lima ratus tahun sejarah Philipina hingga masa pemerintahan Presiden Aquino dari belahan batang pohon bambu. Lukisan dinding tersebut bernilai sejumlah 15 sampai 20 juta peso. Botong dinyatakan sebagai seniman nasional pada tahun 1973.

Seniman terkenal lainnya adalah Vicente Manansala. Ia memenangkan penghargaannya yang pertama pada tahun 1940 dalam acara Pameran Kesenian Nasional yang diselenggarakan di Universitas Sto. Tomas, Manila. Ia juga menerima berbagai penghargaan dalam kompetisi kesenian AAP pada tahun 1950, Eksposisi Republik pada tahun 1951, dan kompetisi kesenian PBB pada tahun 1951. Ia juga penerima Penghargaan Pusaka Republik pada tahun 1963, dan Penghargaan Araw ng Maynila pada tahun 1970, serta dinyatakan sebagai Seniman Nasional pada tahun 1980.

Kini, akademisme klasik barat tetap tidak mempermasalahkan dasar dari pelatihan seni dimana penyajian hasil karya para seniman terhadap objek-objek seni murni berdasarkan pada persepsinya masing-masing. Dinatara seniman modern Philipina adalah Victoria Edades, Galo Ocampo, Diosdado Lorenzo, Romeo Tabuena, Tomas Bernardo, Gregorio Lim, Tom Austria, dan Vicente Reyes.

Galeri Besar di Pusat Kebudayaan dan Museum Metropolitan menampilkan hasil karya dari para seniman lokal maupun mancanegara, umumnya dilukiskan pada pamflet-pamflet ataupun brosur-brosur yang mendampingi penyelenggaraan eksebisi.

Beberapa lukisan dari para maestro Philipina, seperti Luna, Hildalgo, Guerrero, dan Flores dapat dilihat di Museum Peringatan Lopez. Lukisan yang paling terkenal, yaitu Spoliarium yang dilukis oleh Juan Luna, dipamerkan pada pintu masuk gedung Museum Nasional.

- Pusat Kebudayaan Philipina
- Galeri Ateneo de Manila
- Galeria de Las Islas
- Chong Rong
- Galeri Luz
- Rumah Seni Asia - Lobi, Hotel Hyatt
- Galeri Emcee
- Genesis Galeri - 307 Ortigas St, Greenhills
- Pusat Kesenian Pusaka - William cor
- Ruang Belakang - Loteng Tengah (dihotel atau gedung)


Copyright: Dan Kardarron
Srinakarin Road
Bangkok, 10250
Thailand
webmaster@asiamaya.com