|
Versi
Inggris
Bahasa
Bunyi
dan Homonim
Orang
Thai mempergunakan suatu tata bahasa serupa dengan
China. Sudah dinyatakan oleh ahli bahasa Thai
yang terkenal namanya adalah Phaya Anuman Rajadhon
mengarang dalam buku yang sederhana dan Perkembangan
Bahasa Thailand, yang diterbitkan 1961 oleh departemen
kesenian pemerintahan Thailand, sebenarnya terdapat
beratus-ratus kata-kata yang sama di Thai dan
China. Kebanyakan kata-kata dapat menjadi kebudayaan
pinjaman, untuk keseluruhannya oleh orang Thai,
setelah lama dan berhubungan terus dengan China.
Sebaliknya, terdapat kelas tertentu yang mana
secara jelas diterbitkan dari sumber yang sama
pada perkataan. Dan lebih penting, di balik kesamaan
kata-kata tunggal, orang Thai dan orang China
berbicara yang lebih kurang sama dibentuk(walaupun
bila) menulis, dua buah bahasa yang berbeda.
Bahasa
Thai asal usulnya berasal dari kata satu suku
kata yang di dalam bentuk perkataan. Itu adalah
suatu sifat untuk dapat agar di China dan, lebih
kurang, di dalam bahasa Asia Tenggara lain. Setiap
kata-kata lengkap dalam sendiri dan mengizinkan
masuk tidak ada mengubah yang berkaitan dengan
susunan bahasa dengan perbedaan masalah, kelamin,
nomor.
Tambahan
lagi, meniadakan sebuah aturan tegas dan ketat
yang membuat perkataan Thai tergolong kepada suatu
tertentu bagian ucapan. sebuah kata-kata boleh
menjadi suatu perkataan nama, suatu katakerja,
suatu adjektif atau suatu adverba, dan sebagainya,
semata-mata melalui kedudukan perkataan di dalam
kalimat. Kecuali beberapa buah perkataan yang
perkataan diterbitkan pada bahasa Sansekerta masing-masing
ada secara jelas dan dengan sendirian, dan mengaku
kalah tidak ada sambungan bunyi atau penyerapan
antara perkataan.
Akibat
bilangan penggabungan yang terjadi pada bunyi
huruf mati (konsonan) diizinkan masuk (di Thai
aslinya sana biasa saja menjadi satu huruf vokal
setiap perkataan ketika orang Thai asli satu suku
kata), di sana timbul secara semula jadi banyak
kata-kata dengan yang sama bunyi tetapi dengan
suatu perbedaan di dalam makna (homonyms). Mengatasi
kekurangan ini, bahasa Thai, menyukai orang China.
Mereka
telah berbagai-bagai macam bunyi suara sebagai
suatu ciri utama untuk membedakan maksud dalam
perkataan yang berbunyi sama.
Terdapat
lima bunyi suara dalam bahasa Thai taraf, tetapi
di dalam ucapan sebenar bisa terdapat enam atau
tujuh bunyi yang dibedakan di bidang logat tertentu.
Kenyataan yang terdapat sebilangan besar homonyms
di dalam bahasa Thai selalu terlalu walau bagaimanapun,
ditegaskan di dalam penerbitan Barat, terutamanya
dengan bimbingan buku. Orang Thai itu adalah suatu
bunyi bahasa bukan suatu halangan yang tidak dapat
mengatasi sebuah halangan Thai dengan suatu minat
dalam belajar bahasa. Untuk sesuatu, homonyms
adalah sesuatu yang tidak secara unik terdapat
di Thai dan lain bunyi bahasa seperti China. Bahasa
Inggeris pun mempunyai sebilangan besar homonyms:
pesawat, jelas; kepada, terlalu, dua; di sana,
mereka; dan ratusan lebih.
Semasa
di dalam beberapa masalah yang diberi di atas,
dua buah perkataan yang dieja mana dipastikan
sebagai yang sama dengan cara yang berlainan,
terdapat suatu bilangan perkataan yang amat besar
yang dieja dan berbicara yang sama dengan satu
sama lain. Namun demikian, perbedaan yang berbeda
dalam sebutan dua kata-kata mungkin di dalam sebuah
tempat hampir-hampir tidak diperhatikan jika dibandingkan
dengan perbedaan sebutan sama saja perkataan di
dalam berbeda bagian dunia di mana Bahasa Inggeris
adalah bahasa umum. Seseorang dari Oxford selau
akan menemui dan memang susah untuk difahami seorang
penduduk asli Newcastle, dan jutawan Texas sederhana
tidak benar-benar bunyi Putera Charles -walaupun
kedua-dua dengan benar bisa mendakwa dan berbicara
dengan menggunakan Bahasa Inggeris.
Bahasa;
sedang hidup dengan sungguh-sungguh, terutama
tidak set formula matematik, mereka tidak menjalani
tujuan untuk betul tetapi untuk difahami. Semua
bahasa mudah dimengerti, dan orang Thai tidak
ada pengecualian. Oleh kerana itu, Semasa terdapat
sebutan memutuskan bahwa, aturan sebutan ini tidak
lebih tegas sepertinya untuk perkataan serupa
dengan cara yang berbeda dibuat muncul dalam banyak
yang dipublikasikan oleh Barat. Hanya saja seperti
Penduduk New York dan Londoners umumkan Bahasa
Inggeris digunakan dengan cara yang berlainan,
Orang Thai dari Hat Yai dan Thai dari Udon Thani
mempunyai sebutan yang sangat berbeda - dan ini
meliputi kebiasaan bunyi.
Di
Thai, seperti di dalam Bahasa Inggeris, ia selalu
konteks, dalam masalah ragu-ragu lebih daripada
sebutan, yang memberi suatu bukti supaya bagaimana
sebuah perkataan tertentu harus difahami.
Di
dalam kata pendahuluan kepada buku mereka Asas
Bahasa Thai yang hari ini pun adalah yang terbaik
buku teks untuk orang asing yang mahu belajar
bahasa Thai, Stuart Campbell dan Chuan Shaweevongs
menulis 1956: "Di Dalam lebih awal buku tentang
Thai untuk orang asing ... bunyi dari awal lagi
tetapi kami telah menyimpang daripada kebiasaan
dalam kehormatan ini karena kami merasa bahwa
ia sedang mengelirukan isu untuk mencoba dan menguruskan
bunyi saja sehingga anda telah memperoleh sesuatu
untuk suatu perbendaharaan kata ... Kami rasa
suatu penelitian tentang bunyi tidak harus penting
dari segi perolehan suatu perbendaharaan kata
... Di dalam secara hanya agak beberapa masalah
yang akan suatu bunyi salah disebabkan karena
anda salah faham .
"
Setelah satu langkah lebih tambahan, Siamese King
Rama VI, kemudian raja mutlak negara, menulis
1912 dalam sepucuk surat ke Masyarakat Siamese
tentang suatu sistem yang direncanakan untuk Rome
bahasa Thai: "Saya merencanakan nilai bunyi konsonan
Siamese itu tidak boleh diperhatikan semuanya
... sejak konteks sentiasa akan jelas makna ...
Untuk sebab yang sama yang diberi di atas saya
memikirkan Ia akan menjadi terbaik untuk tidak
memperhatikan semua bunyi Siamese tekanan pada
suku kata. ("Mengutip dari kata pendahuluan Asas
Bahasa Thai Stuart Campbell dan Chuan Shaweevongs,
1957).
Di
dalam sebuah bahasa hidup, meniadakan sebarang
keperluan menghilangkan homonyms pun -dan sebarang
bahasa dunia sebenarnya, penuh masalah yang mana
kata-kata berbeda arti bukan saja diumumkan yang
sama walaupun dieja dengan cara yang berlainan
( di sana, mereka; kepada, dua) tetapi di mana
perkataan disebut tetapi hanya mempunyai cara
yang berbeda dan mengeja yang sama (sekeping papan
dapat saja diperbuat dari kayu atau suatu papan
penunjuk; kebagusan dapat saja diartikan itu sesuatu
hanya hak milik, atau bahwa ia menghabiskan, atau
ia adalah seseorang yang harus membayar -dan;)
terdapat beribu-ribu buah masalah perbandingan
di dalam Bahasa Inggeris hampir-hampir setiap
patah kata-kata sebenarnya ada cara yang berbeda.
Semasa
bahasa difahami oleh konteks, ia hampir-hampir
tidak dapat menjadi suatu kejutan yang walaupun
perbedaan perkataan oleh bunyi telah dimasuki
ke dalam bahasa Thai, di sana masih merupakan
suatu bilangan homonymous perkataan yang amat
besar, dan kecuali konteks sebaris frosa atau
sebaris kalimat penunjuk, makna perkataan masih
bisa menjadi tidak jelas. Di dalam misalan seperti
itu, lain sebuah perkataan atau perkataan harus
diperkenalkan untuk menjelaskan makna. Stelah
diringkaskan oleh Phaya Anuman Rajadhon dalam
kertasnya Sifat Awal dan Perkembangan Bahasa Thai,
terdapat tiga buah alat karena membuat ini.
Pertama
dengan awal suatu arti perkataan kepada penunjukan
kelas kebendaan kata-kata tergolong. Misalnya:
yang boleh berarti seekor burung seperti burung
bangau, egret atau bittern; sebatang pohon seperti
suatu dipterocarpaceae, Pohon getah; sebuah bahan
berminyak dan lekat seperti berdosa semula, gusi,
getah susu, minyak kayu. Jika burung berarti nok
perkataan itu awal ia menjadi nok yang mana berarti
apakah burung bangau, suatu egret atau suatu bittern.
Jika kata-kata memakai arti suatu sebatang pohon
atau suatu batang awal pada perkataan yang dalam
don yang berarti sejenis spesies batang pohon
(Dipterocarpus alatus). Awalan memperkatakan fungsi
sebagai jodoh bilangan.
Kemungkinan
ke-dua dengan menaruhnya ditempat yang berdampingan
dengan dua kata yang bermakna sama atau bersekutu
yang menjelaskan sepatah perkataan tertentu. Misalnya:
kipas kah bermakna membunuh. Perkataan kah ada
beberapa cara, dan satu daripada mereka harus
membunuh. Jika kah ditempatkan secara berdampingan
dengan kipas perkataan yang bermakna menebas dengan
sepucuk senjata, kah tidak dapat bermakna lain
selain membunuh saja. Perkataan kipas memberikan
penjelasan makna perkataan kah.
Sedikit
kata-kata yang ditempatkan secara berdampingan
telah menghilangkan cara mereka yang berdikari
secara individu di dalam penggunaan semasa dan
telah menjadi hanya suatu alat.
Kadang-kadang
dua patah perkataan yang sama atau bersuku kata
yang ditempatkan secara berdampingan untuk membentuk
suatu makna baru suatu jenis suku kata. Misalnya:
bahn muang bermakna negara atau negara (desa bahn
=, kota muang = atau kota). Empat buah perkataan
kadang-kadang
disertai bersama untuk membentuk suatu arti frasa
tetapi dengan suatu ketunggalan. Misalnya: paeng
mak kao yak bermakna musim paceklik (nasi kao
= , yak = yang tidak mencukupi , mak = buah ,
paeng = berharga).
Di
dalam membentuk perkataan seperti itu atau frasa
terdapat suatu pilihan bunyi yang tidak sadar.
Sebuah perkataan dengan suatu bunyi terutama atau
lebih berirama sentiasa dipilih saat dua patah
perkataan. Dalam sambungan dari empat buah perkataan
dalam bentuk sebaris frasa pada waktu di atas
dua buah perkataan antara yang pertama dan perkataan
terakhir pada keseluruhannya sesuai dengan rima.
Perkataan yang ditempatkan secara berdampingan
seperti diterangkan itu bisa dipanggil sinonim
campuran.
Kemungkinan
ke-tiga untuk menjelaskan yang mana dapat merasakan
sepatah istilah homonymous harus difahami adalah
dengan mengikut sertakannya ke dalam suatu campuran
suatu katakerja mudah yang mana jumlah kebendaan
kandungan logika didalamnya. Misalnya: ying puen
bukan kiasan "menembak senjata api" bermakna menembak,
gin dibuat bukan kiasan "Makan (di atas) meja"
bermakna makan di suatu meja. Nôhn sua bukan kiasan
" menidurkan (di atas a) tikar" cara mengistirahatkan
sebentar untuk tidur. Paling ini untuk pembinaan
sama adalah gin kao, bukan kiasan untuk "makan
nasi" yang mana digunakan secara sinonim "makan".
Phaya
Anuman Rajadhon menyatakan cenderung menerima
seperti itu bercampurnya perkataan sebagai suatu
faktor itu untuk mencipta Pidgin English. Karlgren
di dalam bunyi bukunya dan lambang di China juga
menerima bercampurnya perkataan seperti itu di
China. Dia memanggil mereka dengan nama penjelasan
yang bercampur.
Nomor
Orang
Thai, sangat menyukai orang China dan bahasa Asia
Tenggara lain, menggunakan perkataan satu demi
satu dengan menggunakan nomor dengan perkataan
nama. Di sana sebagian besar kategori perkataan
untuk tiap-tiap patah perkataan nama.
Jika
di dalam beberapa patah perkataan nama tidak ada
perkataan nama terang yang berangka-angka dengan
yang sesuai dengan yang dapat digunakan, atau
seseorang tidak dapat ingat jika terdapat perkataan
seperti itu, perkataan nama yang diulang setelah
nomor.
Misalnya
kon lihat kon bermakna " kaum lelaki empat orang
lelaki"; mah sahm mah bermakna "kuda tiga ekor
kuda". Dalam contoh ini kata-kata yang melukiskan
dan sesuai dengan angka-angka adalah dua, maka
betul ungkapan akan menjadi mah sahm dua yang
dimakna " kuda tiga buah badan", tetapi mah sahm
mah adalah frasa dahulu yang di toleransi.
Kata
Bersuku dua, Tindakan Euphonic
Semasa
telah dinyatakan oleh Phaya Anuman Rajadhon, terdapat
suatu kecenderungan serupa dengan Orang Melayu
untuk perkataan satu suku kata Thai untuk menjadi
dua suku kata, tetapi mereka berbeda dengan Bahasa
Melayu pada dasarnya di dalam kata-kata dua suku
kata Thai adalah pada umumnya euphonic (dengan
senang hati didengar) yang merupakan tindakan
cemerlang.
Mereka
kadang-kadang dicipta pendek kata dengan huruf
vokal yang sama di dalam artikulasi penyataan
oleh perbedaan bunyi vocal. Misalnya tidur makna
nôhn mempunyai na atau noen sebagai tindakan cemerlangnya.
Kata-kata ke-dua atau suku kata tidak sadar mempunyai
arti dengan dirinya; Suatu peninggalannya akan
meninggalkan makna tidak rusak. Di sana sejumlah
besar jenis perkataan dua suku kata ini tidak
terlalu sadar di dalam secara keseluruhannya merupakan
berbicara dengan bahasa sehari-hari.
Phaya
Anuman Rajadhon menyebutkan dalam kertasnya yang
bersifat alam dan Perkembangan Bahasa Thai yang
perkataan euphonic ini atau akhir kadang-kadang
didapat sebagai perkataan sebenarnya dalam dialek
tertentu dan juga di beberapa Thailand di luar
bahasa. Sebenarnya beberapa buah patah kata-kata
euphonic mengingatkan tentang perkataan China
yang tertentu. Misalnya ngo bermakna bodoh di
Thai dan mempunyai ngau sebagai terakhir euphonicnya.
Dalam Kantonis seorang temen yang bodoh atau ngau
adalah seorang lelaki yang bodoh.
Di
antara dialek China terdapat kecenderungan yang
sama ke mutasi huruf vokal. Gigi di dalam Kantonis
adalah nga tetapi menjadi nge di dalam dialek
Swatow. Nga identik dengan nga bahasa thai yang
bermakna gading. Perkataan dua suku kata juga
dicipta dengan mengubah huruf vokal sepatah perkataan
dengan penyesuaiannya tetapi bukan semestinya
sesuai dengan bunyi huruf vokal. Bunyi huruf vokal
seperti itu adalah au-ae, o-e, i-u. Misalnya ngaun-ngan
bermakna kelemahan, tidak stabil; tong-teng bermakna
goyang untuk dan posisi seseorang yang mondar
mandir seperti berayun-ayun; chu-chi bermakna
marah-marah.
Sepatah
kata-kata dengan suatu huruf-vokal-diphthong juga
boleh mempunyai suatu diphthong yang sesuai sebagai
akhir euphonicnya. Misalnya yua-yia bermakna kumpulan;
cara mun-mai mabuk.
Banyak
kelas akhir euphonic ini adalah bentuk kata yang
menirukan perkataan bunyi (ajukan suatu bunyi
membuat atau mengaitkan dengan surat pengantar)
seperti gila di dalam Bahasa Inggeris. Dengan
beberapa pengecualian, kedua-duanya tidak perkataan
pertama ataupun perkataan ke-dua atau akhir itu
dapat dipisahkan dari penggabungannya tanpa menghilangkan
makna butirannya.
Tambahan
pula, perkataan dua suku kata dibentuk dengan
mengubah perkataan berakhir di g, t ke dalam ng,
masing-masing n dan m mereka yang sesuai dengan
akhir nasal dan p. Misalnya saek-saeng yang bermakna
campur tangan, mengganggu. Saek saja bermakna
kemasukan, sesak di dalam, kalak saeng sendiri
bermakna menjadi perantara, kemasukan. Tot-Ton
yang bermakna berpindah. Tot saja bermakna mengejek
sehelai pakaian, jangan menganggap, pengeluaran
dimana Ton saja yang bermakna pull out, keluar
akar. Yap-yam bermakna rasa benci, hina. Yam saja
bermakna bersendirian kasar, Yam saja bermakna
bersendirian mencerca, memandang rendah terhadap.
Setiap patah kata-kata di dalam tindakan cemerlang
yang dikutip di atas mempunyai suatu arti yang
sedikit bermakna jika digunakan dengan sendirian.
Untuk
singkatnya, mengulasnya ketika orang Thai pada
dasarnya merupakan satu suku kata bahasa, terdapat
berbagai jenis patah kata-kata yang dua suku kata.
Jenis di atas itu dikutip saja sebagai contoh
tertentu, dan terdapat yang lain banyak di dalam
keseluruhannya penggunaan berbicara. Kebanyakan
patah kata-kata telah menjadi bagian perbincangan
rakyat sehari-hari.
Ketika
bahasa Thai tidak bermanfaat untuk membentuk perkataan
baru dengan cara penambahan kepada sebuah perkataan
seperti bahasa inflect dengan imbuhan mereka dan
masalah akhir, berbagai-bagai proses yang diterangkan
di atas adalah dengan nyata alat yang orang Thai
telah bentuk penerbitan dan perkataan baru.
Kalimat
Penyusunan
perkataan di dalam sebaris kalimat pada dasarnya
subjek-action-objek, dengan perkataan layak, adjektif
dan adverba yang mengikut setiap patah perkataan
sesuai. Seperti dinyatakan oleh Phaya Anuman Rajadhon,
meniadakan sebarang aturan tegas dan ketat yang
dihubungkan kepada pembagian untuk ucapan di dalam
arti kata perkataan yang sebenarnya. Sepatah kata-kata
boleh menjadi suatu perkataan nama, suatu adjektif,
suatu katakerja atau suatu adverba saja berkaitan
dengan perkataan lain di dalam suatu frasa atau
suatu kalimat.
Dengan
demikian benda penting di dalam bahasa Thai adalah
perkataan pesanan. Perkataan nahu, seperti makalah,
preposition, kata penghubung, dan sebagainya yang
mana di dalam bahasa Barat bertugas sebagai suatu
pertolongan untuk menjelaskan perkataan nama di
dalam sebaris kalimat dan katakerja, tidak perlu
di Thai jika konteks logika jelas. Di Thai, berkata
" seorang ayah dan seorang anak lelaki duduk di
atas kursi" secara semata-mata " ayah dan kanak-kanak"
duduk di kursi.
Sebanyak
perkataan yang diinginkan, pun semua bagian ucapan
yang sama, bisa dikaitkan bersama, membekalkan
bahwa setiap patah kata-kata berada kedudukan
atau, dalam hal katakerja, untuk pertama kali.
Misalnya, " seekor anjing hitam yang besar mengejar
seekor kucing putih yang kecil dan menggigitnya"
di Thai " anjing badan hitam pengejaran larian
besar" menggigit kekecilan badan putih kucing.
Sering
kali dua atau lebih banyak perkataan digabungi
untuk menyatakan satu tanggapan yang dibedakan
dari setiap cara perkataan yang bergabung; saat
pertama dan satu pendirian berikut dalam hubungan
adjectival. Misalnya fa fai bukan kiasan adalah
"api langit" tetapi bermakna kekuatan elektrik.
Mai kheet bukan kiasan "melekatkan api berhenti"
tetapi hanya bermakna sebuah perlawanan.
Seperti
kenyataannya kata-kata Thai mengizinkan masuk
dengan tidak mengubah masalah, nomor dan kelamin.
Misalnya kon mah hah kao bisa bermakna seorang
lelaki (atau kaum lelaki, wanita) datang (atau
mari, kedatangan, mari, telah mari, dan sebagainya
) Melihatnya (atau) dia,mereka. Jika makna tidak
segera "perkataan nahu" yang jelas atau "menolong
memperkatakan", sebagai orang China memanggil
mereka , dimasuki ke dalam kalimat. Misalnya "kon
cha mah hah kao lagu kon" bukan kiasan cara dua
orang lelaki akan mari lihatlah dia. kon perkataan
dalam hal ini adalah kaum lelaki, dan perkataan
kao adalahnya atau mereka.
Tata
Bahasa
Cornelius
B Bradley nyata dalam Sedikit Ciri Siamese berbicara
dan Tulisan, diterbitkan pada tahun 1923, orang
Thai itu " kata-kata adalah lambang konsep setiap
se, dengan menyeluruh tidak mempunyai untuk inflect
alat untuk menyatakan kenyataan dan mendefinisikan
cerita dengan perkataan lain mereka di dalam kalimat.
Oleh karena mereka itu, membebaskan untuk berfungsi
di dalam sebarang hubungan sintaksis" sesuai dengan
makna kepentingan mereka.
Sesungguhnya,
bahasa Thai mempunyai salah satu cara yang paling
mudah semua bahasa, dan ramai para pengarang telah
mendakwa meniadakan sebarang cara pun walau sedikit
pun. Walau bagaimanapun, di dalam pertimbangan
Phaya Anuman Rajadhon itu, Orang Thai mempunyai
masanya dalam mengenai sejarah dan perkembangan
kebudayaan menderita di tangan grammarians Thai
yang telah memperkenalkan aturan eksotik dan batasan
mendasarkan di atas Bahasa Inggeris, Sanskrit
atau cara kitab Pali.
Dan
juga bisa dilihat yang berikut yang berkaitan
dengan laporan dari majalah Travel-Asia (Cerita
yang menyajikan suatu peluncuran internet baru).
Kembali
ke halaman Daftar Isi
|