pt.asiamaya dotcom indonesiaH O M Etravel / wisata
Pandu Asiamap / peta indonesiaMaps Jakarta with PhotosSingapore Streets AtlasIndonesia GuideAsia GuideTravel AsiaHotel BookingsApartments in Jakartadictionary / kamusIndonesia - EnglishVIP / Figur IndonesiaBintang IndonesiaTokoh IndonesiaInternational FiguresBintang IndiaBintang MeksikoBintang MalaysiaBintang MandarinInternational CelebritiesSports / OlahragaPemain SepakbolaKlub Sepakbola
Business / BisnisPublic CompaniesHealth / KesehatanBerita KesehatanJamu InformationNutrisiLaw / HukumKonsultasi HukumUndang-undangBerita HukumEducation / PendidikanPerguruan TinggiDirectory / DirektoriIndonesia ISPPostal RatesCompany Profile



Thailand

Versi Inggris

Sejarah / Ayutthaya

1350 - yang memandu Jendral Utong, atas kematian pemerintah kerajaan itu, untuk menjadi Raja Utong sendiri dan mengambil Rama Tibodi I sebagai bukti adalah salah satu keputusan pertamanya yang harus menyerahkan modalnya lebih kurang 50 kilometer ke timur (31mi), ke kota berkembang perdagangan Ayutthaya. (Kesamaan dalam sejarah Thai dalam permulaan waktu Bangkok sedang mogok; setelah tahun 432 itu, hal itu sekali lagi terkemuka Jendral sebelumnya raja yang menjadi raja; kedua-dua contoh, Salah satu tugas pertama mereka serahkan modal-modal; tentang apa yang selalu dibaca buku pemandu bahasa Inggris, kedua-dua kota, Ayutthaya dan Bangkok, tidak "mendirikan" dua orang raja tetapi sudah dengan baik timbul penyelesaian, walaupun tanpa fungsi politik).

1350-1359 - Raja Rama Tibodi I memperkenalkan dan menyusun undang-undang

1352 -Ayutthaya mulai berperang dengan Cambodia di dalam peperangan. Cambodia direbut pemerintahnya, Raja Pasat, menjadi vassal dari Siam. Walaupunnya orang Khmer (atau orang Cambodia) siapa yang dikalahkan di dalam peperangan ini, hal itu agak menembus kebudayaan Khmer dan mempengaruhi masyarakat Thai ada sepuluh tahun berikut dan abad kebudayaan Thai yang menembusi masyarakat Khmer. Sebuah contoh Siam menerima sistem Khmer perhambaan dan juga konsep mutlak raja.

1357 - Cholera merata di kerajaan Siam itu dan menuntut hak, di antara beribu-ribu yang lain, hidup dari dua puteranya, Chaokeo dan Chaotai.

1361 - Raja Rama Tibodi I akan menjadi pendeta Budha.

1369 - Raja Rama Tibodi I meninggal pada usia 57 tahun, dan anak lelakinya, Pangeran Ramesuan, berjaya di atas takhta. Bukan karena kepintaran yang ditunjuk semasa peperangan Cambodia membuatnya tidak popular di antaranya penurunan.

1370 - Atas banyaknya permintaan masyarakat dan nasihat menterinya, Pangeran Ramesuan turun tahta atas dukungan bapak dari saudaranya, Pangeran Boromaraja yang merupakan abang ipar dari Raja Rama Tibodi.

1371 - Raja Boromaraja mulai menyerbu Sukhothai, dan menangkap beberapa buah kota.

1375 - Phitsanulok, sebagai modal pengganti Sukhothai, diambil alih oleh kekuasaan Boromaraja dan para narapidana dilepas dan dimasukan dalam perbudakan.

1378 - Raja Tammaraja II dari Sukhothai terpaksa menjadi suatu vassal tersebut bagi Raja Ayutthaya. Ini menandai akhirnya berdiri sendiri bagi kerajaan Sukhothai di Thai setelah 140 tahun keberadaannya.

1388 - Raja Boromaraja mati dan Tonglan anak lelakinya, yang berusia 15 tahun, menggantikan takhtanya. 7 hari kemudian, bekas Raja Ayutthaya, Ramesuan, merebut tahta raja muda, mungkin juga membunuhnya untuk mengambil tahta tersebut.

1390 - Senmuangma, raja muda Chiang Mai (Kerajaan Lannatai ), mencoba menggulingkan Raja Ayutthaya dan mendapatkan kembali Sukhothai untuk Raja Tammaraja II nya tetapi tentara angkatan darat Chiang Mai itu dikalahkan Raja Ayutthaya. Raja Ramesuan sukses dalam penyerbuan Chiang Mai dan menetapkan bagian penduduk kota ke daerah lain dengan Siam (Ayutthaya), beberapa ke selatan Semenanjung Malaya. Walaupun orang Chiang Mai adalah dari segi etnik Thai, mereka mempunyai suatu dialek yang agak berbeda dari pembicaraan di Siam pada waktu itu, telah berkunjung dari yang sekarang dikenal dengan Yunnan di selatan China beberapa abad setelah itu ketika Thai telah menyelesaikan yang di selatan.

1393 - Peperangan pecah sekali lagi dengan Cambodia yang di timbulkan oleh Raja Kodombong Cambodia yang menahan Chonburi dan Chantaburi kebanyakan yang diambil adalah penduduk dua buah kota yang kembali ke Cambodia. Raja Ramesuan, belajaratas peristiwa ini, kepada Cambodia memerintahkan para tentaranya, untuk menyerbu Angkor dan mengambil 90,000 bahasa Cambodia hampir-hampir sebagai tahanan ke Siam, dengan meninggalkan kerajaan Khmer itu sekali lagi sebagai vassal dari Siam. Tahun 1393 dengan itu mengadakan sebuah cara yang jauh dan akan ditempelkan kepada di Asia Tenggara selama abad untuk masa yang akan datang. Raja menang dan Jendral tidak mengalahkan kota dan menggunakan penghormatan. Sebagai peperangan yang senantiasa antara Thai, orang Myanmar dan orang Khmer mengambil korban penduduk kerajaan, mendapat bukti baru untuk menggantikan yang dibunuh dalam pertempuran menjadi suatu informasi peperangan. Adil dasar penduduk sebegini harus memang kenal peperangan antara tiga negara sering kali adalah dengan jumlah peperangan. Secara hal, kebanyakan lelaki diwajibkan untuk menjadi seorang prajurit kerajaan, dari umur menganggap sebagai masa kanak-kanak.Tambahan pula, wanita juga tetap bertempur dalam peperangan. Dasar penduduk yang menahan bukti juga telah menyumbang etnik mencampurkan dapat sekarang di Asia Tenggara. Penurunan kekauman tidak cukup kriteria untuk membedakan orang Thai, Mons, orang Khmer, Shans dan sebagianya merupakan bahasa dan kebudayaan yang membuat perbedaan.

1395 - Ramesuan mati pada usia 62 tahun dan meraih sukses serta memberikan kesuksesannya untuk anak lelakinya Ramraja selama 14 tahun dan juga penuh dengan peristiwa yang damai.

1409 - Raja Ramraja dijatuhkan kekuasaannya oleh Pangeran Nakonin dari tahtanya, gubernur Sysan Raja Boromaraja I dan anak lelaki dari adik lelakinya Nakonin yang mengumumkan setelah Raja sendiri dengan Intharaja menjadi buktinya.

1424 - Raja Intharaja meninggal dan tiga orang anak lelakinya bergaduh berebut tahta; dua diantaranya mereka bertiga mati dan yang paling muda dan orang yang selamat diantara mereka bertiga adalah Raja Ayutthaya dengan Boromaraja II.

1431 - Setelah Cambodia sekali lagi mendapat kemerdekaan, sebuah peperangan baru antara Ayutthaya dan Cambodia kembali pecah. Hal itu menahan selama tujuh bulan pada waktu dimana orang Thai memaksa lagi menyerbu Angkor. Raja Tammasok dari Cambodia mati semasa peperangan dan Raja dari Siam mengerahkan anak lelakinya, Pangeran Intaburi sebagai Raja Cambodia. Intaburi mati setelah hanya beberapa bulan menjabat kekuasaan. Kemudian Cambodia kembali mendapatkan kemerdekaannya sekali lagi.

1432 - Orang Khmer membumihanguskan Angkor, dan menganggap hal itu hampir terlalu ke pinggir dengan Siam dan menempatkan modal semula di Basan di sebelah timur Sungai Mekong.

1434 - Orang Khmer memindahkan modal mereka sekali lagi, kali ini ke Phnom Penh dalam sejarah mereka akan mengubah beberapa waktu antara dekat Phnom Penh dan Lawak dekat dengan Phnom Penh.

1438 - Sukhothai digabungkan sepenuhnya dalam Siam Raja Ayutthaya. Pangeran Ramesuan dilantik sebagai gubernur Phitsanulok.

1442 - Ayutthaya pada peperangan dengan Chiang Mai. Chiang Mai mengalami kegagalan tetapi bukan sampai pada Kerajaan Lannatai Chiang Mai menggabungkan dalam Siam atau menjadi suatu vassal sebenar. Walau bagaimanapun, kekuasaan Ayutthaya sekali lagi menahan bagian penduduk Lannatai dan menempatkan semula rakyatmereka sendiri di negeri mereka.

1448 - Boromaraja II Raja meninggal dan Putera Phitsanulok, Ramesuan, menjadi raja Ayutthaya. Dia mengambil Raja Trailok sebagai bukti. Semasa menjadi milik dia secara luar biasa banyak aturan 40 tahun, Raja Trailok membentuk sistem administrasi dari Siam, hal itu memberi suatu struktur hieraki yang lebih tegas. Sistem kaum bangsawan juga, dipakai oleh Raja Trailok yang mencipta tujuh tingkat di Siam untuk kaum bangsawan. Tingakatan yang paling tinggi sampai ke yang paling rendah adalah: 1. Phaya, 2. Phra, 3. Luang, 4. Khun, 5. Muen, 6. Pun, 7. Tanai (b) b. Suatu angka tambahan, yang bahagian atas salah satu Phaya, diciptakan setelah itu, pangkat Chao Phaya. Untuk sejarah dari Siam dalam semua, tingkatan yang di atas bukan waris. Pangkat waris saja adalah salah satu putera atau puteri untuk anak raja. Pangkat waris diberi oleh raja yang berpengaruh dan juga dapat mengambil balik mereka. Warisan tingakatan tidak berarti mendapatkan harta; semasa terdapat aturan tertentu, yang dibuat oleh Raja Trailok, tentang bantuan tanah menurut tingkatan mereka, hanya didapat bila berada di pengasingan raja.

1456 - Pada saat menentang Lantanai Kerajaan Chiang Mai sedang membara.

1462 - Sukhothai, secara sementara telah menggunakan kekuasaan Chiang Mai, yang didapat kembali dari Ayutthaya.

1463 - Sebagai konflik luar saja pemerintahannya dengan Kerajaan Lannatai, Raja Trailok menyerahkan modalnya dari Phitsanulok untuk Ayutthaya di utara negerinya, yang meninggalkan anak lelakinya, Pangeran Boromaraja, yang bertanggungjawab pada Ayutthaya.

1465 - Raja Trailok mengikuti sebuah seminar Budha untuk menjadi seorang rahib.

1471 - Untuk pertama kalinya gajah putih ditawan di Siam. Untuk penentuan masa depan, gajah putih dalam negeri semua yang dimiliki oleh raja.

1474 - Terbukanya peperangan antara Chiang Mai dan Ayutthaya pecah sekali lagi. Pemerintah Chiang Mai itu, Maharaja Tilok, tentera angkatan daratnya membunuh semua anggota kedutaan Siam. Sebagai peperangan tidak lagi menghasilkan sebuah kemenangan yang jelas, Trailok dari Ayutthaya dan Tilok kedua-duanya setuju dengan suatu penyelesaian keamanan untuk Chiang Mai. Bahwa ancaman dari utara tidak lagi terkemuka, walaupun dengan kenyataan Raja Trailok tidak memindahkan modal pada Ayutthaya dan kekal di Phitsanulok, meninggalkan Ayutthaya di bawah asuhan anak lelakinya, Pangeran Boromaraja.

1487 - Maharaja Tilok mati.

1488 - Raja Trailok mati di Phitsanulok dan suksesnya diberikan kepada anak lelakinya, Boromaraja III, siapakah yang menjadi wakil dia di Ayutthaya selama 25 tahun. Sebagai Boromaraja III mempunyai bahan asas pribadi di Ayutthaya, fungsi tradisional sebagai modal kota untuk dikembalikan lagi. Adik lelaki Boromaraja, Pangeran Jutta, menjadi gubernur Phitsanulok.

1491 - Boromaraja III mati dan Pangeran Jutta menggantikannya yang diambil oleh Rama Tibodi II dengan bukti.

1507 - Sebuah peperangan saudara pecah di Chiang Mai dan pemerintah setempat, Maharaja Yai, dijatuhkan dan digantikan oleh Maharaja Ratna anak lelakinya. Tahun berikut, sehingga tahun 1515, terdapat beberapa pertentangan di antara Siam (Ayutthaya) dan Lannatai (Chiang Mai) tentera angkatan darat yang mana tidak walau bagaimanapun mengubah kekuasaan selebihnya antara dua orang kerajaan.

1511 - Duarte Fernandez, seorang Portugis, tanah di Siam dan merundingkan suatu perjanjian dengan Raja Rama Tibodi II untuk membenarkan orang Portugis menetap dan terus mengadakan perdagangan di Ayutthaya.

1515 - Sukhothai menyerbu pemerintah dari Laos, kemudian suatu keutamaan yang merupakan daerah kecil yang dipimpin oleh seorang raja dari Laos sampai-suatu hari secara lebih kurang.

1529 - Raja Rama Tibodi II mati setelah sebuah pemerintahan selama 38 tahun. Anak lelakinya, Pangeran Atityawong, menggantikan takhta sebagai Raja Boromaraja IV.

1533 - Raja Boromaraja IV mati muda akibat penyakit cacar, dan tahtanya, ditinggalkan kepada seorang anak lelakinya yang berusia 4 tahun sebagai penggantinya Pangeran Ratsadatiratkumar. Setelah sebuah pemerintahan selama lima bulan adil yang mananya menteri-menteri diperintah dalam pihaknya, Pangeran Prajai seorang abang Boromaraja Raja IV dahulu tersebut, mengatur mengikut ukuran tahta pada tahun 1534 selepas mempunyai raja anak-anak yang dibunuh. Setelah Raja Tonglan yang berusia 15 tahun 1388, Pangeran Ratsadatiratkumar adalah anak-anak raja untuk naik kepada, dan dahulu dia dibuang dan mau dibunuh oleh seorang sanak saudara yang lebih tua. Pada sepuluh tahun berikut dan abad berikut, merupakan sebuah takdir serupa akan menimpa secara hampir-hampir semua tidak menular. Tambahan pula, pemberontakan istana dan rampasan menjadi hak takhta suatu dengan adil ciri kebiasaan selama abad kekal. Tempoh Ayutthaya dalam sejarah Thai. Semasa masalah Ratsadatiratkumar / Prajai tidak mengganggu awal dinasti untuk Ayutthaya (Prajai suka Ratsadatiratkumar hampir sanak saudara bekas raja) pemberontakan istana abad berikut membuat gangguan barisan dinasti dan tiada suatu dari tiga buah dinasti berikut membuat hal itu ke 80 tahun di dalam kuasa.

1545 - Raja Prajai ikut campur tangan dalam urusan Chiang Mai yang menimbulkan sebuah peperangan pendek antara Myanmar dan Ayutthaya. Siam mengeluarkan ultimatum mundur setelah mengalahkan Lamphun, kemudian wilayah Myanmar. Kerajaan Lannatai memilih untuk bersekutu dengan Myanmar untuk Chiang Mai dan akan lebih sering lagi sebelah Myanmar dari Siam kebanyakan pada sepuluh tahun berikut.

1546 - Raja Prajai kembali kepada Ayutthaya dan mati di sana. Raja dikatakan telah diracun oleh isterinya, Tao Sri Sudachan . Raja Prajai terlebih dahulu digantikan oleh Kaeofa anak lelaki yang berusia 11 tahun. Semasa Pangeran Tienraja bertindak sebagai Pemangku Raja mewakili Raja Kaeofa, Tao Sri Sudachan permaisuri yang mempunyai pengaruh dan perlu dipertimbangkan dan dapat memperluaskan bahan asas kuasanya. Setelah dia sukses dengan Pangeran Tienraja menolak untuk menjadi rahib, dia memutuskan kecantikan tidak menantang. Dalam hidupnya yang sulit dia pilihkan sebuah istana resmi yang kecil sebagai kekasihnya.

1548 - Raja Kaeofa yang berusia 13 tahun, siapakah yang sebenarnya cantik tanpa kuasa, kelompok yang menghapuskan kekasih ibunya itu. Kekasih ibunya walau bagaimanapun, menemui kelompok dan menghapuskan raja muda. Akibatnya, Adik lelaki Raja Kaeofa, Pangeran Srisin yang berusia 7 tahun naik tahta. Kekasih ibunya sementara itu dinaikkan ke tingkat Khun dan mejadi raja kecil yang memangku jabatan Raja yang mewakili anak-anak raja - walaupun dengan kenyataan bahwa dia membunuh raja sebelumnya . Hal itu hanya beberapa minggu, dan permaisuri Sri Sudachan Tao dan kekasihnya, Khun Waraniongsu, membuang anak lelakinya Tao Sri Sudachan dari tahta.

1548, 11 November - Khun Waraniongsu memproklamirkan dirinya sebagai Raja Ayutthaya.

1548 Desember - Khun Waraniongsu, Tao Sri Sudachan isterinya dan anak perempuan yang baru lahir dan mereka dibunuh dalam suatu pemberontakan istana yang diatur oleh Khun Pirentoratep. Konflik di istana itu pun dapat sambungan dalam ilmu politik Thai yang modern, mungkin lebih banyak lagi tindakan cemerlang 'etats' daripada sejarah modern negara lain. Khun Pirentoratep boleh sebagai pertama suatu talian secara kecuali tindakan yang mahir cemerlang untuk suatu nomor agak jauh akan Thailand yang dipunyai pada pertengahan tahun abad ke-20.

1549, 19 Januari - Khun Pirentoratep dan pengikut-pengikutnya memasang jabatan raja dahulu untuk mewakili jangan menular Raja Kaeofa, Pangeran Tienraja, abang Raja Prajai, ke tahta Ayutthaya. Tienraja mengambil bawah nama Chakrapat. Untuk dirinya sendiri, Khun Pirentoratep dapat kedudukan Gubernur Phitsanulok, secara tradisional kebanyakan kedudukan kuat di Siam sebagai Gubernur Phitsanulok itu yang dua-duanya pada dasarnya mengawal bagian utara negeri. Cukup dengan ini, Pangeran Tienraja anugerah kepada Khun Pirentoratep yang (membuatnya sebagai Raja Chakrapat) Pangeran Maha Tammaraja sebagai bukti tua dan memberikan kepada anak perempuannya, Pemprince Wisutkasatri sebagai isteri. Di sebalik keragu-raguannya, Khun Pirentoratep (Pangeran Maha Tammraja) membuat bahwa raja kedua yang kuat adalah lelaki di dalam negeri.

1549, Agustus - A 4 bulan peperangan pecah dengan orang Myanmar yang, menyerbu wilayah Siam dan mengepung Ayutthaya. Hal itu dilakukan untuk beberapa penyerbuan Myanmar dan peperangan antara Myanmar- Thai, mnegangkan dan dalam kurun waktu lebih kurang 50 tahun. Hal itu membuat Myanmar terlebih dahulu mencetuskan penyerbuan atas adanya konflik istana yang melemahkan konflik dinasti di Ayutthaya ketika orang Myanmar bisa berfikir Siam, akan menjadi mangsa yang menyenangkan. Untuk Siam secara malangnya, tempoh konflik dinasti di Ayutthaya bersamaan dengan suatu waktu dimana Myanmar bertetangga diperintah oleh suatu raja yang sangat mampu. Terlebih dahulu hal itu Raja Myanmar Tabengshweti yang memerintah dari 1531 sampai 1550 dan mencapai persatuan suatu wilayah yang secara lebih kurang mirip Myanmar dengan menaklukkan beberapa orang Myanmar. Mon di selatan dan Shan di utara. Setelah Raja Tabengshweti diracun pada tahun 1550, dia digantikan oleh Jendral dan abang iparnya yang menjadi Raja Bhueng Noreng ( juga membuktikan kebenaran atas nama King Hanthawadi dan pahlawan yang tidak kurang dari Tabengshweti.

1550 - Karena penyerbuan Myanmar yang sebelumnya, Raja Chakrapat meminta bantuan kekuatan dari Ayutthaya dengan membangun benteng tinggi yang berguna untuk modal perang.

1561 - Pemberontakan yang disebabkan oleh Pangeran Srisin di Siam, anak lelaki paling muda dari Raja Prajai dimana ibunya Tao Sri Sudachan telah digulingkan dan membiarkan Pangeran Tienraja sebagai Raja Chakrapat dimana membuat Khun Pirentoratep dan temannya.Setelah pemberontakan istana pada 1548 yang disebabkan oleh ibu dari, Pangeran Srisin diterima oleh Raja Chakrapat. Telah dituduh membajak dan menentang hidup Raja yang sudah tiga tahun lebih pada awal usia 16 pada tahun 1558, Dia dengan secara tegas mengadakan pengawasan. Di umur 19 tahun, tentang keputusannya sebagai rahib Buddha pada tahun 1561, itu membuatnya terlepas, mengumpulkan pengikut-pengikutnya dan mengkritik istana. Dia dibunuh oleh anak lelaki Pangeran Mahin dalam sebuah peristiwa yang merupakan anak Raja Chakrapat.

1563 - Dalam penyerbuan Myanmar yang ke-dua, Raja dari Myanmar, Bhueng Noreng, dengan suatu tentara angkatan darat diberi kekuasaan oleh beberapa kebesaran vassal yang capai dari Laos yang jauh di timur yang didukung oleh wilayah Siam. Sumber mengenai sejarah meletakkan kekuatan tentera angkatan darat Myanmar di atas 200,000 orang prajurit. Pada mulanya, kota Sawankalok dan Pijai direbut dan banyak tebusan diambil.

1564, Februari - Orang Thai mengira Myanmar salah strategi, tentera angkatan darat Myanmar membuat sebuah kejutan yang mengkritik atas Ayutthaya. Untuk kekurangan persiapan di bagian Siam, Raja Chakrapat dipaksa setuju dengan istilah yang membebankan keamanan yang diciptakan oleh Bhueng Noreng.

1564, Desember - Orang Myanmar sedang mengambil atau menduduki Chiang Mai.

1565 - Dalam usaha menguatkan Siam, Raja Chakrapat berencana untuk Raja Jaijetta dari Laos untuk kawin dengan anak perempuannya yang paling muda, Putri Tepkasatri. Perbuatan Raja Khun Pirentoratep (Pangeran Tammaraja) dan Permaisuri Wisutkasatri yang adalah isterinya yang adalah kakak dari Pemprince Tepkasatri yang tidak menyetujui perkahwinan yang menimpa dan menculik Putri Tepkasatri dan dia hampir saja dibawa ke Raja Jaijetta dari Laos dengan pertolongan Myanmar. Raja Chakrapat sesudah itu menghilangkan kemudahan dalam kerajaan dan menobatkan anak lelaki, Pangeran Mahin, sebagai pemangku jabatan Raja Ayutthaya dalam persiapan untuk pensiun dari hidupnya yang sulit. Walau bagaimanapun, ini adalah minyak di atas api yang membara pada Khun Pirentoratep siapa saja tidak marah atas tidak diminta nasehat dalam hal keluarga tetapi juga dia merasa telah dibiarkan dalam pewarisan tahta. Keputusan itu adalah suatu sebab perpecahan yang berlaku di Siam yang mana setiap bagian bersedia membawa masuk secara memaksa dan menaklukkan yang lain; Raja Chakrapat dan Pangeran Mahin anak lelakinya merayakan suatu hubungan yang baik dengan Raja Laos pada waktu Khun Pirentoratep dan mempunyai hubungan yang baik dengan Raja Bhueng Noreng Myanmar.

1568 - Akibat dari tanpa persiapan dari Pangeran Mahin yang jelas untuk mempersembahkan fungsi raja, Raja Chakrapat kembali kepadanya.

1568, Desember - Raja Bhueng Noreng Myanmar menyerbu Siam dengan suatu tentara angkatan darat yang mana membuktikan kebenaran pada yang telah pergi lebih besar jumlahnya daripada sebelumnya salah satu hampir 200,000 prajurit. Bhueng Noreng kali ini ke Siam tidak bisa memilih Myanmar yang termasuk klasik, Jalur Tiga Pagoda, tetapi memindahkan dari utara. Siam memerintah Phitsanulok, Khun Pirentoratep, bersamaan dengan tentara angkatan daratnya dengan kuasa Myanmar, dengan itu orang Thai meletakkan prajuritnya yang bertentangan tentara angkatan darat yang bergabung dengan Ayutthaya.

1569, Januari - detik paling mengejutkan, adil bila kumpulan besar bergabung Bhueng Noreng dan Khun Pirentoratep yang berbaris ke arah Ayutthaya, Raja Chakrapat mati dan Pangeran Mahin yang sukses atas Siam Tahta. Tidak terdapat tanda-tanda bersejarah bahwa Raja Chakrapat dibunuh, walaupun suatu pembunuhan mempunyai penyesuaian sangat strategi Myanmar Raja Bhueng Noreng baik-baik dan Khun Pirentoratep.

1569, 30 Agustus -Setelah suatu pengepungan selama 7 bulan, Ayutthaya jatuh buat pertama kalinya. Tetapi kemenangan Bhueng Noreng dan Khun Pirentoratep tidak dipercayai kepada kekerasan tetapi pengkhianatan, ke suatu perangkap, mungkin dirancang oleh Pangeran Maha Tammaraja. Bhueng Noreng dan Pangeran Maha Tammaraja mencapai untuk menyeludup pengkhianat Pijai Chakri masuk kota dengan mengepung. Tebusan telah dibawa ke Pijai Chakri oleh orang Myanmar pada tahun 1563 dengan lengkap mencuci otak. Dia membuat masuk ke Ayutthaya dengan muncul di hadapan pintu pagar kota, memakai pakaian sebagi narapidana dan mendakwa yang telah terlepas dari orang Myanmar untuk pertolongan mempertahankan Ayutthaya. Dia sukses dalam menang kepercayaan Raja Mahin dan bertanggungjawab tentang pemasangan pertahanan yang penting. Tetapi sebagai ganti perbuatan yang baik menolong dalam pertahanan Ayutthaya, dia mengumumkan informasi ke orang Myanmar dan dengan sengaja melemahkan pertahanan Ayutthaya melalui kekuasaan Bhueng Noreng dan Pangeran Maha Tammaraja akhirnya mencapai keuntungan

1569, Desember 21 setahun setelah memandu suatu pemberontakan istana, setelah menobatkan seorang raja dan telah menjual dua, Pangeran Maha Tammaraja sendiri naik tahta Ayutthaya dan mengambil bukti Phra Srisanpet. Bhueng Noreng yang merasa bahwa misi pengembalian disempurnakan ke Myanmar, mengambil Raja Mahin dengannya dan sebagian yang agak banyak penduduk Ayutthaya dan juga sebuah harta rampasan besar tetapi menahan diri daripada menaklukan kerajaan dari Siam itu ketika dia mungkin merasa agak selamat telah memasang sekutu Pangeran Maha Tammaraja sekarang Phra Srisanpet di atas takhta Siam. Walau bagaimanapun, Bhueng Noreng secara jelas melanggar kurang Maha Tammaraja yang segera mulai dengan membina kerajaan itu - yang dengan jelas menyetujui untuk membuat berdiri sendiri atas kuasa sekali lagi. Dia melantik Pangeran Naresuan anak lelakinya yang mempunyai orang dewasa jagaan Myanmar setelah penyerbuan Myanmar pada tahun 1563 yang ke-dua dan sebagai Putera Phitsanulok dan Gubernur, kedudukan Maha Tammaraja sendiri lebih daripada 20 tahun. Kedua-dua, raja dan putera, segera mulai mempersenjatai Siam dan juga membina kepintaran baru untuk Ayutthaya dan kota di utara.

1770 - Bekas pemerintah Siam, King Mahin, itu mati sebagai narapidana yang sedang dalam perjalanan ke Myanmar.

1575-1578 - Cambodia membuat satu sisi kritik atas Ayutthaya, tetapi ketidaksuksesannya karena kekuatan kuasa yang baru tersusun di Siam.

1581 - Raja Bhueng Noreng digantikan oleh Nanda Bhueng anak lelakinya dari Myanmar dan banyak tentara yang tidak suka ayahnya.

1584, 3 Mei -15 tahun setelah jatuhnya Ayutthaya, Pangeran Naresuan terbuka mengancam, dengan persetujuan Raja Maha Tammaraja ayahnya, yang setia pada negara Siam ke Myanmar.

1584, Desember - Suatu tentera angkatan darat Myanmar mengutus 300,000 orang lelaki untuk mengkritik Siam tetapi gagal. Di dalam pertahanan wilayah Siamnya, Pangeran Naresuan menggunakan suatu strategi membakar tanah, pengunduran tetapi peninggalan kota Siam dan menghanguskan kota orang Myanmar dengan menggunakan mereka.

1586 - Pangeran Naresuan mengkritik Chiang Mai, kemudian dibawah aturan Myanmar, dan mendapat kembali kerajaan itu sebagai vassal dari Siam.

1586, November - Nanda Bhueng membentuk sekumpulan besar orang lelaki 250,000, untuk menyediakan suatu kritikan baru tentang Ayutthaya.

1587, Januari - tentera angkatan darat Myanmar mengkritik Siam tetapi rintangan begitu kuat bahwa berat kehilangan yang disusahkan pada orang Myanmar secara langsung terpaksa mereka berdua mengundurkan diri.

1587 - Cambodia menyerbu wilayah Siam, sekali lagi mencoba mempergunakan sebuah peperangan Siam-myanmar. Akibat kekurangan persiapan di sebelah Siam, penaklukan mungkin untuk orang Cambodia tetapi strategi Pangeran Naresuan menyelamatkan Ayutthaya.

1590, July - Raja Maha Tammaraja mati dan Pangeran Naresuan dinobatkan sebagai Raja Ayutthaya.

1590, November - Suatu tentera angkatan darat Myanmar lebih kuran 200,000 orang lelaki mengkritik Ayutthaya tetapi tidak menarik.

1592, Desember - Dengan serangan 250,000 tentera angkatan darat kaum lelaki, Myanmar membuatnya berusaha untuk menakluk kembali Ayutthaya. Semasa suatu pertempuran kecil, Crown Prince Min Chit Sra Myanmar dibunuh. Kemudian, orang Myanmar memaksa pengunduran. Para prajurit Thai menjauh diri dari kejaran Myanmar satu lagi orang Myanmar tentera angkatan darat di utara kerajaan itu berada di tingkat mengkritik Chiang Mai. Kritikan tentang Chiang Mai walau bagaimanapun, mengingatkan kembali bila Raja Myanmar yang diberitahukan mati oleh anak lelakinya.

1593 - Putaran telah berwujud untuk Siam mencoba nasib mereka di penaklukan asing. Pada mulanya, dua tentera angkatan darat Siam mengkritik wilayah Myanmar yang selatan. Dua tentera angkatan darat di bawah pimpinan Jendral Chao Phaya Chakri dan Phaya Praklong. Yang telah mengganggu dan sedang menggunakan Tenasserim setelah 15 hari pada waktu yang kedua menakluk Tavoy setelah 20 hari (kedua-dua kota Myanmar yang sekarang ada di selatan). Karena pencapaian mereka, bahaya Ayutthaya untuk ditakluk oleh Myanmar menjadi nihil.

1593, Mei - Raja Naresuan mengirim pengembaraan 100,000 orang lelaki ke Cambodia. Untuk kekuatan serangan, banyak wilayah Cambodia menyerah tanpa rintangan. Raja dari Cambodia dan dua orang anak lelakinya lari. Cambodia diletakkan dibawah gubernur tentera Siam.

1594 - Karena Raja Nanda Bhueng ketakstabilan pikirannya, keamanan Myanmar dan keadaan bertambah buruk. Ramai orang Myanmar mencari tempat berlindung di Ayutthaya.

1596, Desember - Ayutthaya menyerbu Myanmar sekali lagi. Dengan niat untuk kepada sebuah keadaan mengurangkan dia untuk bukan sebagai kaitan. penyerbuan adalah tidak tentu mendapatkan kesuksesan ketika beberapa Siam sekutu gagal mengirim dukungan.

1596, Desember - Ayutthaya menyerbu pada tahun 1598 Perdagangan di antara Spanyol dan Ayutthaya mulai bila seorang utusan khas Spanyol sampai ke Ayutthaya untuk menyimpulkan Perjanjian Persahabatan dan Perdagangan antara dua buah negara.

1600, Mei - Raja Naresuan menyerbu Taungu Myanmar itu. Sebagai penyerbuan dibuat ketika Siam berkuasa dalam tidak menggalakkan keadaan akibat penyakit dan menderita kelaparan di Myanmar yang lebih rendah, Taungu dapat kritik.

1605, 16 Mei - Raja Naresuan mati di Muang Hang, suatu wilayah Siam, pada waktu di tenda tentera, bertolak di belakang kedua-duanya tidak beristri ataupun anak-anak. Pangeran Ekatotsarot abangnya yang naik tahta.

1605, Raja Ekatotsarot mengenakan pajak di Ayutthaya. Untuk ini, dia mendapat reputasi untuk seorang lelaki yang tamak. Pedagang belanda mulai mengunjungi Ayutthaya.

1608 - Siam (Ayutthaya) mengirim duta besar ke Netherlands untuk mengadakan hubungan persahabatan.

1609 - Untuk pertama kali penyebar agama Portugis Jesuit, Baltazar de Seguerra, tiba di Ayutthaya.

1610 - Diakhir pemerintahan Raja Ekatotsarot dan Pangeran Intharaja sukses di bawah pimpinan Raja Songtam.

1612 - Bahasa Inggeris pertama di perdagangkan di pabrik yang didirikan di Ayutthaya. Pada waktu lebih kurang sama, Belanda pertama mendirikan mereka dagangkan kota di Siam.

1612, 23 Juni - Pertama kali kapal Inggeris, Globe, tiba di Pelabuhan Pattani di selatan yang melewati wilayah Thai di atas semenanjung Malaya, dan menjalankan perdagangan di Siam.

1618 - Peperangan pecah antara Belanda dan Inggris dan pemusuhan di antara dua warganegara negara pun diteruskan di Siam.

1619, 17 July - 800 orang Belanda dua buah kapal Britain di Pelabuhan Pattani.

1620 - Keamanan dikembalikan lagi antara Belanda dan Inggeris di Ayutthaya.

1628-1630 - Mempermasalahkan pewarisan tahta di Siam dijadikan terpisah pada bulan mei dan apa anggapan gaya Siam yang tipikal. Pertama, Raja Songtam, bila tidak benar-benar sehat dan atas perasaan kematian yang mendekati usia 38 tahun, membuat persiapan menyelamatkan anak lelakinya yang paling tua, Pangeran Jetta, akan menjadikannya pengganti. pangeran Jetta adalah seorang anak lelaki dariyang masih berusia 14. Setelah kematian ayahnya, Pangeran Jetta sesungguhnya diperintahkan oleh suatu kumpulan para pegawai istana tinggi sebagai raja Phaya Sriworawong.Segera kemudian, sekumpulan besar orang pegawai istana lain siapa yang dianggap untuk mendukung raja terakhir, Pangeran Srisin, sebagai raja baru, adalah dengan memenggal kepala. Sekali lagi, yang "membuat" raja, Phaya Sriworawong, dimajukan, menerima bukti baru Chao Phaya Kalahom. Ketika Raja Jetta masih seorang anak lelaki, kuasa terletak pada perbuatan Raja Chao Phaya Kalahom. Chao Phaya Kalahom mengambil langkah seterusnya untuk bersihkan dirinya sendiri merebut tahta terbuka, harus menyediakan suatu perangkap untuk Pangeran Srisin yang mungkin setelah itu kalau tidak ternyata seorang pesaing. Walau bagaimanapun Pangeran Srisin, pada waktu itu adalah seorang rahib Buddha, dan hal itu beradat untuk tidak membunuh rahib. Oleh kerana itu, Chao Phaya Kalahom kelompok yang bersekongkol dengan komandan pengawal istana Jepang membawa masuk Raja Songtam untuk menggoda Pangeran Srisin dan membuang jubah saffron dengan berjanji bahwa dia akan dipasang sebagai raja baru. Tetapi sebaik saja Pangeran Srisin telah melepas jubah, informasi diberi kepada Raja muda Jetta yang bapak saudaranya mempunyai Biara yang ditinggalkan kepada pemberontak yang menentang dia. Pangeran Srisin dibicarakan dan dihukum mati. Pengampunan Pangeran Srisin dilaksanakan terlebih dahulu, melibatkan dalam satu lagi pemberontakan kemudian, beberapa bulan setelah itu apa yang diterangkan sebagai "gaya kerajaan"- Mengikatnya dalam suatu karung baldu dan memukulnya hingga mati dengan menggunakan kayu cendana. Raja Jetta, mengganggu pengaruh Chao Phaya Kalahom dengan membuat sedikit persiapan menghapuskannya menteri tetapi yang kedua diberitahu dan tindakannya lebih cepat dibanding dari raja muda. Chao Phaya Kalahom 'dan temannya menggempur istana raja dan membunuh raja muda. Ada dukungan kuat di mahkamah, Chao Phaya Kalahom ditawarkan menggantikan Raja Jetta. Tetapi sebagai adik lelaki raja terakhir, Putera Atityawong, seorang anak lelaki dari sepuluh, masih di sekitar dan mungkin dianggap sebagai pengganti Raja Jetta, Chao Phaya Kalahom merosot. Atas nasehat Chao Phaya Kalahom, Atityawong dinobatkan menjadi Raja dari Siam; Chao Phaya Kalahom menyelamatkan pertemuan untuk dirinya sendiri sebagai pemangku raja. Kemudian, pada waktu bertindak sebagai muda raja pemangku raja, Chao Phaya Kalahom memberi kesanggupan yang tidak mempercayai anak Raja Atityawong, Tingkah laku raja-pertubuhan-bangsa-bangsa-bersatu -sehingga perhimpunan menteri membuat keputusan untuk menjatuhkan dia. Dia akan dibunuh 7 tahun setelah itu. Chao Phaya Kalahom percaya bahwa telah datang untuknya tahta dengan sendirinya. Dia mengambil Raja Prasattong sebagai bukti dan memrintah selama 25 tahun sampai tahun 1655.

1632, April - Chiang Mai, selepas mengumumkan kebebasan, sekali lagi direbut dengan orang Myanmar.

1631-1632 -Beberapa bantuan Belanda tiba di Ayutthaya menolong Raja dalam pertempurannya antara orang Portugis dan orang Cambodia.

1632 - Ayutthaya mengkritik Pattani untuk penolakannya kepada pengiriman penghormatan. Tentera angkatan darat Siam adalah tidak menarik bagi pertahanan kuat dari Pattani.

1634 - Sekali lagi Siam mengkritik Pattani tetapi gagal akibat kesalahan dalam sesuatu hal.

1636 - Ayutthaya membuat persiapan yang besar untuk menaklukkan Pattani. Belanda mengganggu, menasehati Pattani untuk bertanya meminta maaf pada Raja Prasattong untuk tindakan yang suka memberontak. Pemerintah untuk Pattani mengikuti nasehat Belanda dan kekuasaan Siam di atas Pattani didirikan kembali.

1655-1656 - Sekali Lagi peralihan sebuah kekuasaan Urusan berdarah. Raja Prasattong mati pada tahun 1655 dan terlebih dahulu sukses oleh anak lelaki, Putera atau Raja Chao Fa Yai yang lebih tua. Walau bagaimanapun, Bapak saudara raja baru, Pangeran Srisutammaraja, dan abang sendirinya, Pangeran Narai, Konfirmasi untuk menentang King Chao Fa Yai, culiknya dan meletakkannya dalam gaya kerajaan (lihat sekitar tahun 1628-1630). Pangeran Srisutammaraja dinobatkan menjadi raja, dengan Pangeran Narai dijadikan wakilnya. Hanya beberapa bulan setelah itu, Pangeran Narai yang mempunyai awal yang menunjuk sebuah rasa bersalah tentang ikutnya dia untuk membunuh abangnya, memulakan suatu pemberontakan istana yang menahan beberapa hari dan berakhir dengan Raja Srisutammaraja dihapuskan dalam gaya kerajaan.Sejarah membuktikan sebab untuk Pangeran Narai memberontak adalah perkataan bapak sepupunya, membuat adik perempuan Narai. Yang hal itu mungkin, membuat Raja Narai dari Siam naik tahta dan memerintah selama 32 tahun, sampai tahun 1688. Semasa pemerintahannya, Siam membuka semua pintu untuk berdagang dengan Eropah, menyebabkan suatu negara modern.

1663 - Raja Narai menakluk Chiang Mai.

1664 - Orang Myanmar mengambil kembali Chiang Mai.

1664, 10 Agustus - Setelah Belanda menggunakan beberapa diplomasi dengan senjata api, mengepung mulut Sungai Chao Phaya, dengan suatu perjanjian antara Belanda dan Ayutthaya yang ditanda tangani Belanda Monopoli perdagangan di Siam.

1664 - Roman Katolik sebagi penyebar agama tiba di Siam. Pada waktu Raja Narai tidak begitu berminat dengan agama mereka, dia menggunakan kepintarannya sebagai penyebar agama di Perancis, di Eropah dengan pembinaan yang berarti, terutama kepintaran.Raja Siam kecuali berminat dalam hubungan membangun dengan negara Eropah lain untuk penyia-yiaan kuasa yang bertentangan dengan Belanda.

1668 - Penyebar agama Islam tiba di Siam.

1675 - Phoenix, kapal Kapten George White, tiba di Ayutthaya. Hal itu membawa Constantine Phaulkon sebagai salah satu kakitangan dagangnya. Phaulkon nama sebenarnya adalah Greece dan nama aslinyanya adalah Gerakis yang bermakna Falko di dalam Bahasa Inggeris.Untuk ketibaannya di Ayutthaya adalah suatu permulaan yang luar biasa walaupun kerjaya tidak sangatlah panjang. Tidak ada sebarang nilai pendidikan, dia mempunyai suatu bakat yang luar biasa dalam bahasa dan fasih di Thai di dalam sebuah perkara beberapa tahun. Pada waktu tiba di Siam, dia sudah tahu dan dapat berkomunikasi dalam Bahasa Inggeris, Orang Perancis, Portugis dan orang Greece penduduk aslinya.

1679 - Constantine Phaulkon memasuki pemerintah Thai yang dipergunakan sebagai jurubahasa. Dalam masa beberapa tahun dia naik tahta dari satu pangkat yang baik di Thai sampai tahap berikut, bermula sebagai Luang Wijayen dan menjadi Phra Wijayen, Phaya Wijayen dan akhirnya Chao Phaya Wijayen. Menikmati kepercayaan King Narai dia diletakkan bertanggungjawab tentang Perdagangan luar dari Siam, secara pada hakekatnya menjadi kerajaan Asing Menteri.

1680 - Kebencian memajukan antara English East India Company dan Phaulkon, terutama karena Phaulkon menggalakkan Pedagang Inggeris untuk mengadakan perniagaan dengan sendirian dari English East India Company dimana siapa yang menginginkan atau mengadakan monopoli sebuah pedagang Inggris di Siam. Phaulkon dengan sendirinya mengalir perdagangan dari kumpulan yang mana ada banyak di pemerintah Inggeris. Phaulkon dan pedagang sulit untuk menjadi orang yang memaksa ikut campur dan akan mendapatkan keuntungan. Pertikaian dengan English East India Company menyebabkan Phaulkon mengadakan perdagangan mengalihkan penegasan dasar asing Siam dan hubungan politik dengan Perancis.

1680, 25 Desember - Untuk pertama kali kedutaan Eropa di Siam meninggalkan Ayutthaya untuk menawarkan penyerahan Singora (yang sekarang adalah kota di selatan Thailand) ke Perancis. Tetapi saluran atas Pengembaraan kedutaan tidak pernah sampai Eropah menjatuhkannya pada waktu dalan perjalanan dengan membawa segala-galanya dan setiap orang yang ada di kapal diatas lautan.

1684, Januari - Sebuah kedutaan Siam yang ke-dua menaiki kapal untuk ke Eropah.

1685, September - Untukkedua kalinya kedutaan Perancis tiba di Ayutthaya. Salah satu tujuannya adalah kepada Raja Narai untuk menukar menjadi Katolik. Raja siam tidak mau menjadi seorang Kristian tetapi berminat untuk kemajuan Perdagangan dengan Perancis.

1685, 19 Desember - Dalam suatu persidangan antara kedutaan Perancis dan Raja Narai, orang Perancis menerima agama dan kompromi dagang . Kebebasan yang lengkap diberi kepada English East India Company itu untuk perdagangan, dengan perundangan wilayah-lebih yang diberi kepada kakitangan mereka.Orang Perancis juga diberi monopoli untuk sebuah Perdagangan timah di Phuket. Singora (yang sekarang adalah Songkla) diserahkan kepada orang Perancis dengan memberikan kuasa penuh.

1685, 22 Desember - Sebuah kedutaan ke-tiga di Perancis meninggalkan Ayutthaya. Hal itu membawa permintaan sebuah kepada Raja Narai untuk pakar Perancis dalam berbagai-bagai padang, termasuk seni bina dan pertahanan. Hal itu adalah suatu perkara mengenai sejarah pertikaian ke tingkat Siam. Prajurit Perancis untuk beberapa kaum lelaki. Sebagai Raja Narai berminat dalam memajukan hubungan ke Perancis untuk mempunyai sebuah bertentangan kuasa dengan Belanda, suatu permintaan yang diberi untuk sebuah arti.

1686 - Pertempuran senjata memajukan antara Siam dan English East India Company. English East India Company tidak mengakui pedagang Inggeris dalam perdagangan Thai dan berlayar di bawah bendera Thai ketika hal itu melihat aktivitas sebagai penggunaan perjalanan keluar untuk dapat berdagang monopoli English East India Company. Rasa yang tidak sendirian berkesan sebagai ucapan English East India Company yang menjatuhkan kapal Kapten White, atas rencana Constantine Phaulkon, Perdagangan pemerintah Thai dan pelayaran di bawah bendera Thai dihubungkan. English East India Company juga mengirim dua kapal frigat dari hartanya untuk mengambil kota Mergui di Pantai Indian Coromandel (tempatnya diatasa pantai selatan Myanmar dan merupakan sebuah harta dari Thai) dan meletakkan suatu perhentian aktivitas perdagangan untuk Inggeris yang bukan bagian English East India Company. Pendagangan bebas seperti itu harus ditahan dan memikat perjuangan di kelautan diatas kapal bekas Inggeris.

1687, 28 April - English East India Company memajukan sebuah tuntutan yang menentang Siam dalam jumlah 65,000 untuk kerusakan yang diderita kapal semasa konflik di bawah bendera Thai dan Golconda, harta kelompok di sepanjang Pantai Indian Coromandel. Karena itu Raja Ayutthaya ke kumpulan menuju kesemua orang Inggeris untuk meninggalkan wilayah dengan segera.

1687, 4 July - Para prajurit pertahanan siam mulai menembak James Inggeris, salah satu dari dua kapal frigat English East India Company yang mencoba menawan kota Mergui dan sukses menjatuhkan kapal.

1687, 11 Agustus - Raja Narai, atas nasehat Phaulkon, mengeluarkan deklarasi atas perang yang menentang English East India Company, walaupun bukan pemerintah Inggeris.

1687 - milik karena perdagangan Phaulkon dan kesetian pada negara Perancis, dia diberi oleh Raja Louis suatu hak paten. Dia menjadi seorang yang bangsawan dan kesatria yang peroleh dari St.Michael dan St.Peter.

1687, 27 September - Sebuah kedutaan Perancis di Ayutthaya yang membawa 600 orang prajurit Perancis lebih kurang dengan hal itu dan lebih kurang 300 orang pekerja mahir.

1687, 1 Desember - Siam memasuki satu lagi perjanjian dengan Perancis yang lebih memberi hak istimewa ke French East India Company.

1688, Januari - Prajurit Perancis menjadi tidak bertambah popular dengan akibat pamer kekuatan mereka dan sikap biadab. Organisasi asing bertentangan dilahirkan dan prasangka agama rakyat itu juga ditimbulkan.Hal itu harus dikenal bahwa istilah yang digunakan oleh Thai sehingga hari ini untuk barat orang asing adalah farang, suatu singkatan aslinya farangse - perkataan Thai untuk Perancis (Orang Perancis di Perancis). Istilah farang mempunyai suatu konotasi negatif sehingga setelah peperangan dunia ke dua.

1688, Maret - Di Lopburi, Raja Narai menjadi tidak benar-benar sehat; salah satu Jendralnya, Phra Petraja, menjadi lelaki paling kuat dalam negeri, berakting pada minggu berikut dari Lopburi di mana dia pada hakikatnya menyimpan gangguan raja adalah seorang narapidana. Secara jelas mengikut dua informasi, meletakkan dirinya di atas tahta dan membuang orang asing, dia menggoda seorang anak lelaki kecil yang diangkat Raja Narai dipenjara, Phra Piya, dan pembunuhnya.

1988, 5 Juny- Phaulkon dilakukan untuk pengkhianatan, dikatakan telah bersekongkol dan meletakkan Phra Piya di atas tahta dan arah pada jabatan raja. Pada keesokan hari, Phra Petraja ke Lopburi menggoda dua orang abang King Narai, Pangeran Chao Fa Apaitot dan Pangeran Chao Fa Noi, mereka kedua-duanya terbunuh dua hari setelah kedatangan mereka. Dengan mengusir orang Perancis, Phra Petraja memerintahkan pengepungan atas kepandaian Perancis di Bangkok, kemudian suatu penyelesaian kecil mempunyai sebuah benteng Perancis. Catatan: semua ini terjadi pada waktu Raja Narai masih hidup.

1688, 11 July - Raja Narai mati, dan meninggalkan sanak saudara. Phra Petraja menobatkan dirinya sebagai Raja Ayutthaya.

1688, 30 September - Semua prajurit orang Perancis berangkat dari Siam setelah perundingan dengan raja Siam yang baru. Phra Petraja mengambil penyiar agama Eropah sebagai tebusan, sementara menunggu keselamatan kembali sebuah kedutaan Eropah di Siam.

1689, Desember - kedutaan Siam dikembalikan ke Eropah. Dalam jawaban, Raja Phra Petraja melepaskan semua tebusan Eropahnya dan mengembalikan kebebasan agama tetapi melaksanakan suatu dasar untuk menghapuskan pengaruh politik yang asing dalam kerajaan itu.

1690, Juny - Pemberontakan pecah di Nakhon Nayok, suatu wilayah Ayutthaya. Pemberontakan diketuai oleh Tam Tien, suatu penipuan yang mendakwa pangeran. Pemberontakan digagalkan bila Tam Tien ditawan dan melaksanakannya setelah itu. Walau bagaimanapun wilayah, menjadi sebagian besar tidak didiami karena rakyat lari untuk kebimbangan yang melibatkan hukuman.

1691, Desember - Khorat dan Nakhon dalam pemberontakan dengan cepat dibawa kembali di bawah aturan Ayutthaya pusat.

1697 - Kedaulatan Siam atas Cambodia diakui oleh Cambodia bila Raja Sadit kepada Raja Phra Petraja mengirim sebuah gajah putih.

1698, Oktober - Seorang utusan khas Perancis dikirim kepada Ayutthaya dengan tawaran sebuah perjanjian baru, tetapi tawaran merosot oleh Raja Phra Petraja. Perancis berhenti membuat politik bermanfaat di Ayutthaya.

1699 -Satu lagi pemberontakan pecah di Khorat, yang mengetuai Bun Kuan, seorang fanatikan yang telah menang atas dukungan untuk menjadi gubernur setempat yang beberapa menyediakan 4,000 orang lelaki untuk mendukung pemberontakan. Khorat penyerahan seketika; sebagian besar peserta dalam melaksanakan pemberontakan .

1699 - Raja Phra Petraja mengganggu dengan urusan persatuan Laos Luang Prabang dan Wieng Chan (sekarang dikenal Vientiane), membagi negara lagi kepada dua berasingan di bawah Siam menolak.

1703 - Raja Phra Petraja jatuh sakit dan mengalami kesedihan dia yang disebabkan Raja Narai sakit. Luang Sorasak, anak lelaki dari suatu perkahwinannya sebelum dia menjadi raja, godaan dalam suatu perangkap Pangeran Chao Phra Kwan yang berusia 14 tahun, salah satu anak lelaki Phra Petraja yang lama telah kawin setelah tahta menjadi miliknya dia. Saudara perempuan Raja Narai naik dan juga anak perempuan Raja Narai. Tidak perlu dikatakan, perangkap yang disediakan untuk membunuh Pangeran Chao Phra Kwan. Kemarahan, Phra Petraja memproklamirkan seorang anak dari saudara lelaki jauh, Chao Phra Pijaisurindr, sebagai pewarisnya. Tetapi atas kematian raja, Pangeran Chao Phra Pijaisurindr terburu-buru untuk ke Luang Sorasak menawarkan tahta. Anak lelaki Raja Phra Petraja dan ke-dua adalah paling muda, Pangeran Tras Noi, terlepas dari kematian tertentu dengan menjadi rahib. Luasang Sorasak menobatkan dirinya sebagai raja dan mengambil nama resmi Sanpet VIII. Walau bagaimana pun orang Thai, menjadi Phrachao Sua, yang bermakna Raja Harimau, karena gaya liarnya.

1709 - Raja Phrachao Sua mati dan untuk suatu perubahan, kenaikan ke tahta kerajaan oleh anak lelakinya, Raja Taisra, tidak kemana-mana yang dibunuh untuk pesaing.

1714 - Sri Timmaraja mewarisi tahta Cambodia dengan menyingkirkan Raja Keong Fa berpengaruh dengan bantuan tentera angkatan darat Cochin China (China Cochin adalah lama perlantikan untuk suatu kawasan yang mana sekarang paling bagian selatan dari Vietnam). Bila sendiri menurunkan tahta, Raja Sri Timmaraja ke Ayutthaya untuk dukungan lari. Peristiwa ini menyebabkan suatu pertempuran senjata di antara Siam dan Cambodia, Siam yang mengadakan semula kedaulatannya di atas Cambodia.

1733, January - Raja Taisra meninggal dan abangnya menggantikan di atas tahta di bawah Raja Boromakot. Hampir-hampir tidak menjadi kejutan, dia harus terlebih dahulu mengalahkan dua dari anak lelaki Raja Taisra yang juga beradu untuk tahta. Masa ini hal itu terjadi di dalam sebuah peperangan saudara kependekan dalam kota Ayutthaya. Seorang anak lelaki ke-tiga Raja Taisra ke dalam kapal perampok.

1733 - 300 orang China pendatang baru mengkritik istana Ayutthaya. Mereka tenang dan kemudian melaksanakan.

1753 - Sebuah kedutaan Ceylonese dikirm ke Ayutthaya dengan tujuan untuk meminjam beberapa pendeta Buddha orang Siam untuk membersihkan dan pembentukan kembali Agama Buddha di Ceylon.

1758, Mei - Pangeran Utumpon menggantikan Raja Boromakot takhta. Dia saja ke-dua berbakat anak lelaki Kerajaan Boromakot. Walau bagaimanapun, itu adalah abangnya, Pangeran Ekatat, dianggap sebagai orang yang kurang mempunyai kecerdikan oleh ayah mereka dan kerana itu dia dijadikan seorang rahib.Seminggu pertama di atas tahtanya, Raja Utumpon mempunyai tiga saudara yang ditahan dan dihukum mati. Ketika abangya, Pangeran Ekatat, menuntut cita-cita menjadi raja, walau bagaimanapun dia, menahan diri dari tindakan berani atas pilihan hidupnya untuk menjadi rahib.

1758, Agustus - Raja Utumpon turun tahta dan pensiun di Wat Pradu. Dia digantikan oleh Pangeran Ekatat yang mengambil Boromaraja V sebagai bukti.

1758 -1760 - Hal Itu adalah nasib buruk bagi Siam yang pada waktu itu diperintah oleh salah seorang raja yang paling lemah, sebuah dinasti kuat yang baru naik di tetangga Myanmar. Setelah Myanmar mengalami kehancuran pada sepuluh tahun sebelumnya, suatu kepala pemerintahan yang tertentu didesa Moksobo Myanmar tersebut yang dulu adalah Shwebo menjadi Raja Alaungsaya dan mencapai kesuksesan unutk siri menakjubkan untuk menyatukan kembali Myanmar di bawah aturannya setelah sebuah kemenangan pertempuran. .

1759 - Raja Alaungsaya menyerbu wilayah Siam dan mendapatkan kembali kota Tavoy untuk Myanmar, Mergui dan Tenesserim (yang sekarang adalah tanah jajahan Myanmar selatan).

1760, April - Raja Alaungsaya mengadakan pengepungan atas Ayutthaya. Raja Ekatat di Siam yang mempunyai arti kata dia tidak pulang tugas untuk memandu pertahanan kota serta mengundang adik lelakinya, bekas bekas Raja Utumpon untuk memerintah secara sementara.Walau bagaimanapun, hal itu bukan pimpinan Utumpon tetapi suatu kemalangan di sebelah Myanmar yang menyelamatkan Ayutthaya buat sementara waktu. Bila Raja Alaungsaya Myanmar secara buruk terluka setelah mengendalikan dirinya sebuah meriam dalam pengeboman untuk Ayutthaya, orang Myanmar membatalkan pengepungan mereka dan berundur ke Myanmar. Raja Alaungsaya mati dalam perjalanan.

1760, Mei - Manglok anak lelaki Alaungsaya menggantikan tahta di Myanmar.

1762 - Dengan bahaya yang akan diderita Myanmar, Utumpon pensiun sekali lagi dan biara yang, meninggalkan takdir dari Siam dalam tangan abangnya, mengembalikan ke Raja Ekatat.

1763, November - Raja Manglok Myanmar meninggal dan abangnya, Mongra, sukses diatas tahta.

1763 - orang Myanmar menyerbu Chiang Mai dan kerajaan kecil yang dipimpin oleh Luang Prabang itu ditawan (yang sekarang adalah bagian dari Laos).

1764 - Pemberontkan pecah antara orang Myanmar di Chiang Mai tetapi ditaklukkan dalam sedikit masa.

1765, Juny - Orang Myanmar memulaikan sebuah yang menentang Siam, dengan satu tentera angkatan darat yang memindahkan ke selatan dari Chiang Mai dan yang lain yang mengetuai timur dari Myanmar. Tujuannya adalah Ayutthaya.

1765, Desember - tentera angkatan darat Myanmar mengkritik Thonburi (Bangkok). Kapten Ponney, seorang berkebangsaan Inggeris yang mendukung Siam, mengkhawatirkan kehilangan pada tentera angkatan darat Myanmar. Walau bagaimanapun, oleh karena Raja Ekatat iri hati dengan kepopularan Ponney, dukungan yang banyak sekali tidak diberi kepada kapten itu oleh Raja yang mana menimbulkan penaklukan Myanmar selatan yang banyak oleh wilayah Ayutthaya.

1766, February - orang Myanmar memulai pengepungan Ayutthaya. Raja Ekatat sekali lagi menawarkan abangnya Utumpon unutk memandu pertahanan kota tetapi kali ini merosot. Beberapa bulan setelah itu, salah satu jendral terkenal Ekatat, Chao Phaya Taksin, menemani 500 orang prajurit, dapat memecah barisan Myanmar dan lari dari Ayutthaya. Taksin adalah anak lelaki dari ayah China dan ibu Siam. Nama aslinyanya adalah Hai Hong. nama Taksin, diberi kepadanya oleh karena dia adalah seorang Gubernur wilayah Siamese Tak untuk waktu yang sebentar.

1767, 7 April - Setelah 14 bulan untuk pengepungan, Ayutthaya jatuh dan Raja Ekatat lari. Orang Myanmar tidak ada kemujuran dengan kota dan penduduknya. Tidak seperti 198 tahun yang lalu, mereka tidak menunjukkan rasa puas dengan membuat Siam vassal state; agak banyak di Myanmar Raja Mongra bertujuan membinasakan dengan modal Siam. Ayutthaya dihanguskan.

1767, Mei - Percaya pada masa dia bertujuan untuk menghapus dicapai Ayutthaya, Raja Mongra mundur dengan tentera angkatan darat ke Myanmar, hanya meninggalkan kuasa minimum di belakang. Buat sementara waktu, Chao Phaya Taksin kekal dengan 500 orang prajuritnya di Siam wilayah timur yang mana secara langsung belum dipengaruhi oleh penaklukan Myanmar dan masih mempunyai suatu fungsi sebagai Administrasi Siam. Gubernur dari Chantaburi, suatu wilayah di sepanjang kelautan pantai dekat dengan Cambodia yang bersikap baik dengan tentara angkatan darat kecil Taksin tetapi atas kelihatan Taksin sebagai saingan untuk sebuah kuasa, dia merencanakan hidup Taksin. Diberitahu ini, Taksin mengkritik dan menawan Gubernur. Dengan demikian Taksin secara berkesan menjadi pemerintah di atas timur wilayah Siam.

1767, Oktober - Siam dari bagian lain bekas kerajaan itu masuk Taksin. Pada bulan yang sama, Taksin mengkritik kuasa Myanmar di Ayutthaya, membunuh kebebasan Jendralnya modal dahulu dari aturan Myanmar.

1767, Desember -Taksin kepada Thonburi menyerahkan modalnya dia, dinobatkan sebagai Raja baru dari Siam. Walau bagaimanapun, sebagai seorang ketenteraan besar memaksa untuk menahan kerajaan itu bersama dan menguatkan aturan pusat, Siam berpecah dalam 5 buah kawasan yang mana akan berdiri sendiri dari :

1. Bagian Tengah Siam di bawah Raja Taksin ( Bangkok, Ratchaburi, Nakhon Pathom, Jaksi, Prachin, Chantaburi dan Nakhon Sawan)

2. Wilayah Peninsular diatas Chumphon di bawah Phra Palat

3. Wilayah Timur yang termasuk Khorat di bawah Pangeran Tep Pipit

4. Phitsanulok dan bagian Nakhon Sawan di bawah Gubernur Buang

5. Bagian utara yang melewati wilayah Phitsanulok di bawah Raja Kuan, Pendeta Raja Fang

1768, Mei - Raja Taksin mencoba menaklukkan Phitsanulok tetapi gagal. Gubernur itu secara resmi dinobatkan sebagai Raja Phitsanulok. Setelah pada suatu minggu dia mati dan anak lelakinya yang menggantikannya.

1768, July - Pendeta Raja Fang meletakkan Phitsanulok di bawah pengepungan dan itu menjadi pemerintah di Siam utara.

1768 - Karena kegagalannya di Phitsanulok, Raja Taksin memfokuskan perhatiannya atas daerah Khorat dan menyerbu kawasan.

1769 - Raja Rama Tibodi dari Cambodia ke Thonburi lari untuk mencari pengungsian adalah menurunkan tahtanya kepada abangnya, yang kemudian mengambil Raja Narai Raja.

1769, Maret - Raja Taksin memilih wakil Thonburi untuk mengembalikan penyerbuan yang sukses di wilayah timur.

1774, November - Raja Taksin bergerak utara.

1775, 16 January - Raja Taksin menaklukkan kembali Chiang Mai.

1775, February - Orang Myanmar, menggalakkan penaklukan sebelumnya pada kerajaan mereka, mencoba menaklukkan Siam sekali lagi tetapi gagal.

Kembali ke halaman daftar isi

 


This page : http://www.asiamaya.com/panduasia/thailand/e-01land/et-lan71.htm
Mail to Editor / Webmaster
Copyright Asiamaya.com 2000 - About Asiamaya Dotcom
PT Asiamaya Dotcom Indonesia
Menara Imperium
Jln HR. Rasuna Said Kav 1A
Jakarta Selatan 12980
Telp (021) 8317390 - E-mail : asiamaya@cbn.net.id

Other Asiamaya domains : asiasecurities-online.com bintangindonesia.com jakartastreets.com lechicmedan.com northsumatratravel.com notarisindonesia.com qualitysuitesmedan.com undang-undangindonesia.com worldfamilylaw.com worldpostalcharges.com doktergigiindonesia.com resepmemasak.com sumatrautara-online.com usmarriagelaw.com uspostalcharges.com worldmarriagelaw.com

Please also see the following travel-related domains: asiamaya.com bali-hotels.net bali-travel.net bandunghotels.net borobudur-travel.com hotels-bali.net hotels-indonesia.com jaheafrica.com jaheamerica.com jaheaustralia.com jahebali.com jaheurope.com jahehongkong.com jahemalaysia.com jahesingapore.com jahethailand.com jakarta-hotels.org kalimantantravel.com manadohotels.net medantravel.com