|
Versi
Inggris
Konstitusi
Kerajaan
·
24 Juni 1932, - Sekelompok orang-orang
Siam yang pernah belajar di Eropa, dan beberapa
di antaranya memiliki jabatan tinggi dalam pemerintahan
ataupun militer kerajaan, secara rahasia mendirikan
Partai Rakyat yang berusaha menggulingkan pemerintahan
kerajaan, yang saat itu dikuasai oleh Raja
Prajadhipok, yang berkediaman di Hua Hin.
Sekitar 40 pangeran, pejabat tinggi pemerintah
dan pejabat militer senior, ditangkap dan ditahan
di Ananlaksanakan, di Bangkok. Kelompok
itu mengirimkan telegram kepada Raja Prajadhipok,
yang berbunyi:
"Partai
Rakyat yang terdiri dari pegawai-pegawai negeri
sipil dan militer, sejak saat ini telah mengambil
alih pemerintahan negara, dan telah menangkap
sejumlah anggota keluarga kerajaan, seperti H.R.H.
Pangeran Nakhon Sawan sebagai sandera. Jika ada
anggota Partai Rakyat yang terluka, maka para
pangeran yang ada di tahanan akan menerima akibatnya.
Pada dasarnya, Partai Rakyat tidak berhasrat untuk
merampas harta benda di kerajaan. Tujuan utama
kami adalah konstitusi kerajaan. Oleh karena itu,
kami mengundang Yang Mulia untuk kembali ke ibu
kota, untuk memerintah kembali sebagai raja di
bawah konstitusi kerajaan yang dibentuk oleh Partai
Rakyat. Jika Yang Mulia menolak tawaran ini atau
tidak menjawab dalam waktu satu jam setelah diterimanya
pesan ini, maka Partai Rakyat akan memproklamirkan
pemerintahan berdasarkan konstitusi kerajaan dengan
mengangkat salah satu pangeran yang dianggap tepat
untuk menjadi raja.
"
Raja Prajadhipok membalas telegram itu.
Isinya: "Saya telah menerima surat yang mengundang
saya untuk kembali ke Bangkok sebagai raja di
bawah konstitusi. Karena saya sudah mempertimbangkan
untuk membuat perubahan ini sendiri, maka demi
perdamaian, dan untuk menghindari pertumpahan
darah, untuk menghindari hal-hal yang membingungkan
dan untuk menghindari lenyapnya negara ini, dan
lain-lain. Saya bersedia untuk bekerja sama dalam
membentuk sebuah konstitusi dan bersedia mengabdi
di bawah konstitusi. Selanjutnya, jika saya mundur
sebagai raja, maka bangsa-bangsa asing tidak mengetahui
adanya pemerintahan yang baru. Hal tersebut bisa
menimbulkan masalah serius bagi pemerintah. Secara
fisik, saya tidak cukup kuat. Saya tidak memiliki
keturunan sebagai penerus saya. Walaupun saya
kembali menjadi raja, harapan hidup saya pun tidak
akan lama. Saya juga tidak berkeinginan untuk
memperoleh jabatan itu lagi, walaupun saya merasa
memiliki kemampuan untuk memajukan bangsa ini."
Beberapa
anggota Partai Rakyat yang menumbangkan pemerintahan
kerajaan, mendominasi politik Thai selama 30 tahun
berikutnya. Phibul Songkhran menjadi perdana menteri
selama kurang lebih 15 tahun. Yaitu sejak 1938
sampai dengan 1944, dan dari 1948 sampai 1957.
Pada masa pemerintahannya, Phibul Songkhran
kadang memerintah secara diktator, kadang tidak.
Dan jabatan perdana menteri itu diraihnya kadang
melalui kudeta, kadang melalui pemilihan umum.
Khuang
Aphaiwong menjabat sebagai perdana menteri
selama empat periode yang masing-masing umurnya
tergolong singkat. Dua periode pertama, Khuang
turun dari jabatannya setelah beberapa minggu
menjabat. Hal ini dikarenakan oleh perselisihannya
dengan pemerintah atau dengan Majelis Nasional.
Pada periode ketiga , masa jabatan Khuang juga
hanya berlangsung beberapa minggu sampai pemilihan
umum berikutnya dilaksanakan. Dan pada periode
keempat, hanya dalam beberapa minggu pula, pemerintahan
Khuang dihentikan oleh kudeta yang dilakukan oleh
pihak militer.
Seorang
tokoh yang paling bersemangat, dan merupakan salah
seorang revolusioner, adalah Pridi Panomyong.
Dari sekian banyak orang-orang Partai Rakyat yang
menjabat sebagai pimipinan pemerintahan, Pridi
adalah orang pertama yang menitikberatkan perhatian
pemerintahannya pada bidang ekonomi. Ketika Pridi
dicurigai sebagai seorang komunis, untuk pertama
kalinya Pridi dibuang ke tempat pengasingan. Kemudian
Pridi ikut ambil bagian dalam sebuah usaha kudeta
yang berhasil mengantarkan Phibul Songkhran
sebagai perdana menteri. Namun, ketika Phibul
bersekutu dengan Jepang pada Perang Dunia kedua,
Pridi Panomyong memimpin gerakan perlawanan bawah
tanah untuk melawan Jepang dan Phibul Songkhran.
Setelah menjadi anggota Dewan Penasihat,
Pridi diangkat menjadi Penasihat Utama
bagi Raja Ananda Mahidol, yang usianya
belum menginjak dewasa. Pridi juga sempat menjabat
sebagai perdana menteri setelah Perang Dunia kedua
berakhir. Ketika pihak militer kembali mendudukkan
Phibul Songkhran sebagai perdana menteri,
pada tahun 1948. Pridi mencoba untuk menggulingkan
Phibul dengan bantuan militer dari fraksi lain,
tapi usahanya gagal. Pridi Panomyong meninggal
pada tahun 1983, pada usia 83 tahun, ditempat
pengasingannya, Paris. Tapi tiga tahun kemudian,
abunya disebarkan di Tanjung Thailand dengan upacara
kenegaraan.
·
25 Juni 1932, - Raja Rama VII kembali ke
Bangkok.
· 27 Juni 1932, - Semua kepala departemen,
menteri dan sekretaris pada pemerintahan yang
berdasarkan sistem kerajaan, diberhentikan. Partai
Rakyat membentuk Panitia Pelaksana sebagai pemerintah
sementara untuk membentuk Majelis Nasional. Majelis
Nasional pembuat undang-undang terdiri dari 70
orang anggota yang dipilih/ditetapkan.
·
10 Desember 1932, - Raja Rama VII meresmikan
konstitusi, yang mengacu pada konstitusi
barat. Konstitusi berfungsi untuk mengatur parlemen,
yang sebagian anggotanya diangkat berdasarkan
hasil pemilihan umum, dan yang sebagian lagi diangkat
atas perintah raja berdasarkan rekomendasi dari
kabinet. Perdana menteri diangkat oleh raja atas
rekomendasi Majelis Nasional. Phaya Monapahorn
Nitithada (1884 - 1948) dari Partai Rakyat,
diangkat sebagai perdana menteri pertama. Raja
memberikan pengampunan bagi orang-orang yang ikut
terlibat dalam revolusi.
· 1 Maret 1933, - Menteri Ekonomi
dari Partai Rakyat, Pridi Panomyong (1900
- 1983), menerapkan sebuah kebijakan ekonomi nasional
yang mengacu pada pola sosialis dan liberalis.
Akhirnya Pridi dituduh sebagai seorang komunis.
· 1 April 1933, - Agar dapat menelusuri
siapa saja penganut setia komunis, Perdana menteri
Phaya Monapahorn Nitithada meminta agar
raja memberikan kekuasaan secara diktator padanya,
dan menangguhkan sidang majelis serta menangguhkan
pelaksanaan beberapa ketetapan dari konstitusi
yang baru. Raja tidak punya pilihan lain selain
setuju. Pengikut paham komunis akan dihukum 10
tahun penjara. Beberapa tokoh utama Partai Rakyat
merasa tidak puas. Kemudian mereka mengundurkan
diri sebagai anggota kabinet, termasuk Menteri
Ekonomi, Pridi Panomyong, yang diam-diam
dibuang ke tempat pengasingan.
· 20 Juni 1933, - Anggota Partai
Rakyat yang merasa tidak puas, menggulingkan pemerintahan
Phaya Monapahorn Nitithada, yang kemudian
diasingkan (Phaya memilih Penang sebagai tempat
pengasingan, hingga akhirnya dia meninggal di
sana). Majelis Nasional kembali berfungsi, Phaya
Bahol Polpayushasena (1888 - 1947) terpilih
menjadi perdana menteri.
· 11 Oktober 1933, - Konstitusi
pemerintah yang baru, diprotes. Revolusi, yang
dipimpin oleh Jenderal Pangeran Bovoradej, meletus
di Bongkhen, Laksi and Dammuang.
· 24 Oktober 1933, - Revolusi berakhir
dan dimenangkan oleh angkatan bersenjata pemerintah,
yang dipimpin oleh Kolonel Phibul Songkhran.
·
November 1933, - Pemilihan Umum Nasional pertama
di Siam, dilaksanakan untuk mengisi 78 kursi
di majelis. Bahol Polpayushasena tetap menjadi
perdana menteri.
·
Januari 1934 - Raja Rama VII pergi
ke Eropa, demi ketenangan rakyat dan anggota keluarga
kerajaan. Pridi Panomyong diijinkan kembali
ke Bangkok setelah dinyatakan bersih dari komunis.
·
2 Maret 1935, - Raja Rama VII mangkat,
tanpa adanya generasi penerus. Majelis Nasional
menyatakan bahwa keponakannya, Pangeran Ananda
Mahidol, seorang bocah berumur 10 tahun, sebagai
pewaris tahta yang sah. Kerajaan (yang memberi
gelar Raja Rama VIII), menyatakan bahwa Pangeran
Ananda Mahidol masih di bawah umur. Di samping
itu, Pangeran Ananda Mahidol beserta keluarganya
tinggal di Swiss, dan masih bersekolah di sana.
Maka Majelis Nasional membentuk Dewan Penasihat
demi kepentingannya.
·
16 Desember 1938, - Pridi Panomyong,
membantu pasukan angkatan bersenjata Phibul
Songkhran, pimpinan militer dalam kudeta tahun
1933. Perdana Menteri Bahol dipecat dari jabatannya.
Phibul Songkhran diangkat menjadi perdana menteri
oleh Dewan Penasihat. Selain sebagai perdana menteri,
Phibul juga merangkap sebagai Menteri Pertahanan.
Sedangkan Pridi Panomyong diangkat menjadi Menteri
Dalam Negeri.
·
1939 - Penyimpangan terhadap diktatur kemiliteran
mulai terjadi. Perdana menteri menganggap gagasan
mengenai konstitusi dan pemerintahan yang demokratis
akan menghilangkan seluruh kekuatan militer.
·
3 September 1939, - Perang Dunia kedua
meletus di Eropa. Dan Siam menyatakan dirinya
netral. Untuk menghindari adanya serangan dari
luar, Siam menandatangani perjanjian dengan Jepang.
Dan membuat Siam jadi sekutu Jepang. Di dalam
perjanjian itu mereka saling mengakui integritas
batas teritorial masing-masing.
·
12 Juni 1940, - Perjanjian Non-Agresi ditandatangani
oleh Siam, Inggris dan Perancis.
·
7 Desember 1941, - Siam dan Jepang berselisih,
ketika Jepang meminta kebebasan melintasi Siam
untuk menyerang teritori Inggris, dan orang-orang
Siam menolaknya.
·
8 Desember 1941, - Jepang memulai perang di
Asia dan Pasifik dengan membom Pearl Harbor,
Hawaii, Filipina dan Singapura.
Sementara itu, Winston Churchill menganjurkan
Siam untuk mempertahankan wilayahnya. Siam memperbolehkan
tentara Jepang untuk melintasi wilayahnya. Jepang
berjanji akan menghormati Siam sebagai negara
yang merdeka dan berdaulat.
·
21 Desember 1941, - Jepang dan Siam
menandatangani perjanjian persekutuan,
termasuk kesepakatan bahwa Tokyo akan membantu
Bangkok untuk mendapatkan kembali teritori yang
pernah dikuasai Inggris beberapa dekade yang lalu.
Dan sebagai balasannya, Siam membantu Jepang dalam
perangnya melawan Amerika Serikat dan Inggris.
·
25 Januari 1942, - Pesawat terbang Inggris
dan Amerika mulai menyerang Bangkok.
Dan Siam menyatakan perang terhadap Inggris dan
Amerika Serikat.
·
1942 - Phibul Songkhran berkuasa penuh
atas pemerintah tanpa ada tentangan dari pihak
manapun. Phibul memusatkan perhatiannya pada hubungan
luar negeri dan politik internasional. Dengan
harapan Siam akan berjaya.
·
1 Desember 1942, - Partai Komunis Siam, secara
resmi sudah beroperasi sejak tahun 1927.
·
1943 - Pridi Panomyong memimpin sebuah gerakan
perlawanan bawah tanah terhadap Jepang di Siam,
bekerja sama dengan Gerakan Thai Merdeka di Amerika
Serikat. Gerakan ini didirikan oleh duta besar
Siam untuk Washington, Seni Pramoj, yang sejak
semula menolak pernyataan perang Perdana Menteri
Phibul Songkhran terhadap pemerintah Amerika
Serikat. Gerakan ini membantu Siam dalam mendapatkan
simpati dan dukungan dari negara-negara sekutu.
· Juli 1944, - Pemerintahan Phibul Songkhran
digulingkan oleh Majelis Nasionalnya sendiri.
· Agustus 1944, - Khuang Aphaiwong
(1902 - 1968), anggota tetap Partai Rakyat yang
mengadakan revolusi terhadap kerajaan, diangkat
menjadi perdana menteri yang baru. Khuang memberlakukan
kembali gelar kebangsawanan seperti waktu dulu
sebelum dihapuskan oleh Phibul Songkhran yang
mempunyai tujuan utama selain ingin membuat negara
menjadi lebih kuat, juga ingin menjadikan Thailand
sebagai negara yang lebih modern. Semua tahanan
politik dibebaskan.
·
15 Agustus 1945, - Perang Dunia kedua berakhir.
·
16 Agustus 1945, - Dengan persetujuan Majelis
Nasional, pernyataan perang Siam terhadap Amerika
Serikat dan Inggris, dicabut oleh Pridi Panomyong,
yang waktu itu menjadi penasihat utama di Siam
sebagai wakil dari Raja Ananda Mahidol, yang masih
belajar di Swiss.
·
1 September 1945, - Perdana Menteri Khuang
berhernti menjadi perdana menteri. Seni Pramoj,
mantan duta besar untuk Washington, diangkat menjadi
perdana menteri yang baru. Khuang memimpin Partai
Demokratik. Yang merupakan partai politik pertama
di Siam yang yang anggotanya terdiri dari kelompok
konservatif dan monarki.
·
1 Januari 1946, - Siam menandatangani perjanjian
damai dengan Inggris Raya dan India.
·
5 Januari 1946, - Hubungan Diplomatik dengan
Amerika Serikat dan Inggris Raya dihidupkan kembali.
Dan perjanjian yang sebelumnya pernah di tutup,
dibangun kembali.
·
Februari 1946, - Setelah pemilihan umum, Khuang
Aphaiwong terpilih kembali menjadi perdana menteri.
Tapi karena Khuang tidak mau menerima undang-undang
yang ditetapkan oleh Dewan perwakilan Rakyat,
untuk memangkas pengeluaran-pengeluaran negara,
maka dia harus turun setelah hanya beberapa minggu
menjabat.
·
April 1946, - Pridi Panomyong terpilih menjadi
perdana menteri.
·
10 Mei 1946, - Konstitusi baru yang menetapkan
adanya dua majelis dalam Dewan perwakilan Rakyat,
diproklamirkan.
·
9 Juni 1946, - Raja Ananda Mahidol ditemukan
tewas tertembak di pembaringannya, di istana.
Saudaranya, Bhumiphol Adulyadej, diangkat
menjadi Raja Siam, dengan gelar Raja Rama IX.
·
Agustus 1946, - Pridi Panomyong dibebastugaskan
sebagai perdana menteri, dan digantikan oleh Thawal
Dhamrongnawaswasti.
·
Desember 1946, - Siam diterima sebagai negara
anggota PBB yang ke-55.
·
8 November 1947, - sekelompok militer di bawah
pimpinan Kolonel Sarit Thanarat (16 Juni
1908 - 8 Desember 1963), menggelar kudeta tak
berdarah. Ketidakpuasan yang tersebar di mana-mana
mengenai tingginya biaya hidup, turut mendukung
suksesnya kudeta ini.
·
9 November 1947, - Sebuah konstitusi baru
yang menerapkan sistem dua kamar (dua dewan dalam
satu pemerintahan), diproklamirkan. Atas undangan
pimpinan kup, Khuang Aphaiwong, untuk ketiga kalinya
memangku jabatan sebagai perdana menteri. Kelompok
itu juga mendudukkan Phibul Songkhran,
yang lama berkuasa di Siam, yaitu sejak tahun
1938, sebagai panglima tertinggi angkatan
bersenjata.
·
29 Januari 1948, - Pada pemilihan umum kali
ini, Partai Demokratik menduduki kursi paling
banyak di majelis. Prasert Rapsunthorn, sekretaris
jenderal Partai Komunis Siam pertama sehabis perang,
terpilih menjadi anggota parlemen.
·
Februari 1948, - Khuang, pendiri dan
pemimpin Partai Demokratik dipilih kembali
oleh Majelis Nasional yang baru sebagai perdana
menteri Siam.
·
6 April 1948, - Khuang Aphaiwong di
paksa turun oleh angkatan bersenjata, karena gagal
menurunkan tingginya biaya hidup. Phibul Songkhran
kembali menjadi perdana menteri.
·
26 Februari 1949, - Pridi Panomyong
kembali dengan membawa para pendukungnya untuk
mencoba melakukan kudeta lagi. Walaupun
telah direncanakan dengan baik, namun pelaksanaannya
kurang baik.
· 29 Februari 1949, - Kudeta, yang menelan
banyak korban, di tumpas oleh pasukan Phibul.
Pridi Panomyong kabur ke China.
·
23 Maret 1949, - Sebuah konstitusi diproklamirkan,
menggantikan konstitusi tahun 1947. Siam
berubah nama menjadi Thailand ("Phratet Thai"
di Thai).
·
1950 - Thailand mengirimkan pasukannya ke
Korea sebagai reaksi dari seruan PBB.
·
29 Juni 1951, - Dalam usaha menolak kekuatan
politik angkatan bersenjata, dan untuk mendapatkan
kembali pengaruh-pengaruh di dalam negeri, sekelompok
prajurit angkatan laut menculik perdana menteri
dan orang kuat di militer, Marsekal Phibul
Songkhran, ketika menghadiri upacara serah
terima sebuah kapal keruk yang bernama Manhattan,
sebagai bagian dari bantuan militer Amerika Serikat
untuk Thailand. Pada saat di tawan di atas sebuah
kapal untuk beberapa hari, berlangsung perundingan
untuk membentuk format baru dalam pemerintahan.
Walaupun akhirnya dalam perundingan ini dimenangkan
oleh pihak yang setia pada pemerintahan lama,
tapi sama sekali tidak menguntungkan bagi Phibul
Songkhran. Kekuatan dan pengaruh beralih kepada
Jenderal Sarit Thanarat dan Jenderal Pao
(yang nantinya akan saling bersaing).
·
1951 - Kader-kader Partai Komunis Thailand
mulai merambah ke daerah-daerah pedalaman. Ada
beberapa kelompok komunis di Thailand. Partai
Komunis Thailand memiliki tujuan untuk menjatuhkan
pemerintah dan kerajaan. Partai Komunis Malaya,
yang berkedudukan di perbatasan antara Thailand
dan Malaya, memusatkan perhatiannya untuk wilayah
Malaya. Namun dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya
yang bersifat subversip, kelompok ini juga memasuki
wilayah-wilayah Thailand. Yang ketiga adalah sebuah
kelompok kecil yang berorientasi pada ajaran Marx/Lenin.
Selain di daerah pedalaman, kelompok ini juga
beroperasi di kota-kota. Dan dari ketiganya, Partai
komunis Thailand merupakan ancaman yang paling
serius.
·
29 November 1951, - Jenderal Sarit Thanarat
dan Jenderal Pao Sriyanonda membubarkan
Majelis Nasional. Peristiwa ini dikenal dengan
"kup radio", karena hanya diumumkan lewat radio
saja. Orang kuat baru di militer, di cari untuk
menempatkan kembali Konstitusi 1932. Marsekal
Phibul Songkhran kembali menjadi perdana menteri,
walaupun sudah tidak mempunyai pengaruh lagi.
· 1952 - Pemerintah mengangkat sebagian
anggota-anggota tertinggi dari Majelis baru yang
unikameral (satu majelis/dewan dalam pemerintahan).
Kebanyakan dipilih dari kelas orang-orang kaya.
Di lain pihak, Partai Komunis Thailand menyadari
bahwa kader-kadernya tidak memiliki kemampuan
yang cukup. Untuk itu, dikirimlah para pelajar
untuk mendapatkan pendidikan mengenai Ajaran Marx-Lenin,
di Cina dan Vietnam Utara. Komunisme dilarang
di Thailand.
· Februari 1952, - Diadakan pemilihan umum
untuk anggota majelis rendah. Kandidat dari militer
menang dengan selisih suara yang besar.
·
1948-1953 - Tahun-tahun kemakmuran bagi Thailand,
berkat hasil panen beras yang melimpah.
·
1952-1955 - Korupsi dan tipu daya politik
berkembang, dan tindakan penindasan dilakukan
untuk melawan orang-orang yang dicurigai dari
golongan kiri.
·
1954 - Thailand menjadi salah satu pendiri
Southeast Asian Treaty Organization (SEATO), bersama
Amerika Serikat, Inggris Raya, Perancis, Australia,
Selandia Baru, Filipina dan Pakistan. Dan markas
besarnya berada di Bangkok.
·
Februari 1957, - Pemilihan umum dilaksanakan.
Tapi pemilihan yang dilaksanakan dengan menggunakan
sistem multi partai yang diperkenalkan dua tahun
lalu itu, cacat dengan adanya kekurangan besar-besaran.
·
Mei 1957, - Raja Bhumiphol menujukkan
ketidakpuasannya terhadap Panglima Tertinggi Phibul
Songkhran, dengan tidak menghadiri upacara perayaan
Hari Jadi Agama Buddha yang ke-2.500. Kader-kader
yang belajar tentang Komunis di luar negeri, kembali
untuk merubah citra tentang paham Komunis di daerah
pedalaman. Dan perwakilan-perwakilan organisasi
di bentuk.
·
16 September 1957, - Partai Militer, yang
dipimpin oleh pimpinan angkatan bersenjata Sarit
Thanarat, merampas kekuasaan dan memecat Marsekal
Phibul Songkhran dan Jenderal Pao Sriyanonda.
Phibul pergi ke Jepang lewat Kamboja. Phibul meninggal
pada tahun 1964, tanpa pernah kembali berkecimpung
di kancah politik Thai. Pao pergi ke Swiss dan
menetap di sana. Dan meninggal beberapa tahun
kemudian. Pote Sarasin menjabat sebagai
perdana menteri sementara.
·
Januari 1958, - Setelah pemilihan umum yang
berikutnya, Thanom Kittikachorn terpilih menjadi
perdana menteri Thailand.
·
20 Oktober 1958, - Kudeta kembali terjadi.
Kali ini kembali dipimpin oleh pimpinan angkatan
bersenjata Sarit Thanarat. Kata orang,
kudeta ini terjadi karena kegagalan pemerintah
dalam memecahkan masalah-masalah ekonomi.
· 28 Januari 1959, - Partai Revolusioner
(yang pada awalnya bernama Partai Militer), yang
dipimpin oleh Sarit Thanarat, menyatakan sebuah
konstitusi dan bentuk Majelis Nasional baru, dengan
Sarit Thanarat (16 Juni 1908 - 8 Desember
1963) sebagai calon perdana menteri.
·
1961 - Pemerintahan Sarit Thanarat,
mengumumkan Rencana Enam Tahun Pertama. Dan pemerintahan-pemerintahan
berikutnya selalu membuat perencanaan pembangunan
ekonomi dalam rancangan perencanaan tahunannya.
Pada tahun yang sama, Association of Southeast
Asia (ASA) dibentuk oleh Thailand, Malaysia
dan Filipina. Yang kemudian menjadi
besar, dan berganti nama menjadi Association of
Southeast Asian Nations (ASEAN). Partai Komunis
Thailand memutuskan untuk melancarkan "perang
rakyat".
· 1961-1962 -Para pengikut komunis ditangkap
dan dihukum mati. Partai Komunis, mengadopsi strategi
Mao sebagai strategi partainya.
·
8 Desember 1963, - Sarit Thanarat meninggal akibat
gagal hati. Dan Thanom Kittikachorn diangkat sebagai
perdana menteri oleh Raja Bhumiphol.
·
1964 - Kondisi di Indocina mengancam keberadaan
pasukan Amerika Serikat dan Thailand. Bagi pasukan
Amerika, keterlibatan Thailand mempertegas
wilayah operasi pasukan Amerika di Laos. Pada
saat yang bersamaan, kekacauan-kekacauan di dalam
negeri mulai bermunculan.
· 1 Januari 1965, - Partai Komunis Thailand
mengumumkan barisan Tentara Pembebasan Rakyat,
sebagai kekuatan militernya. Dua front organisasi
didirikan, yaitu Gerakan Thai Merdeka dan
Front Patriotik Thai.
·
5 Agustus 1965, - Serangan senjata pertama
dari Partai Komunis Thailand terhadap otoritas
Thai, dilancarkan dari daerah dekat Nakhon
Phanom.
·
7 Agustus 1965, - Serangan pihak komunis dimulai
dari daerah di pegunungan Phupon, barat
laut Thailand, dan kemudian menyebar ke seluruh
wilayah Thailand.
·
1965 - Thailand terlibat langsung dalam peperangan
di Indocina dengan mengirimkan pasukan tempur
ke Vietnam Selatan yang berjumlah 14% dari
total keseluruhan kekuatan angkatan bersenjata
Kerajaan Thai.Di dalam negeri, pemerintah meluncurkan
Program Pencegahan bagi ratusan pengacau dari
partai komunis yang mencoba melarikan diri ke
dalam hutan. Pertempuran antara pasukan pemerintah
Thai dengan pasukan Partai Komunis Malaysia terjadi
di daerah bagian selatan.
·
November 1965, - Di Daendin, daerah Sakhon
Nakhon, di barat laut Thailand, tentara Thai
mengadakan Kampanye Menumpas Komunis. Samar-samar
terdengar serangan tank, pesawat terbang dan dentuman
meriam di daerah basis komunis. Tentara Thai bertindak
secara kejam terhadap penduduk di daerah Ban Bor
Kae Noi.
·
1966 - Sebuah acara siaran radio dari Cina,
Suara Rakyat Thailand, mulai mengudara di Thailand.
Di Gunung Hin Lat Thap Fa, di Provinsi
Udon Thani, barat laut Thailand, Suivit Niemshi
a.k.a. Sahai Yudh mendirikan sebuah benteng
pertahanan sebagai pusat perencanaan kegiatan
komunis dalam usahanya mencapai Bangkok. Benteng
ini disebut sebagai Base Asia, di mana sebuah
pemerintah komunis pernah dibentuk.
·
1967 - Pemimpin negara-negara ASEAN,
termasuk negara-negara anggota yang baru, seperti
Singapura dan Indonesia, menandatangani Deklarasi
Bangkok. Negara-negara anggota, sepakat untuk
saling membantu dalam mempercepat laju perekonomian,
kemajuan sosial dan perkembangan budaya, melalui
usaha-usaha bersama dalam semangat persamaan dan
kebersamaan, dalam rangka memperkuat pondasi,
demi tercapainya masyarakat yang makmur, tenteram
dan damai.
·
November 1967, - Perang Meo Merah terjadi
antara para pengungsi melawan pasukan pemerintah.
·
1968-1975 - Dampak dari Perang Vietnam, terasa
meliputi hampir seluruh aspek kehidupan negara
Thailand. Bangunan hotel, bar-bar dan panti-panti
pijat serta fasilitas-fasilitas lain terus bertambah
untuk memenuhi permintaan para personil militer
AS yang sedang berperang di Vietnam.
Mereka datang ke Thailand untuk istirahat dan
rekreasi.
·
20 Juni 1968, - Sebuah konstitusi baru diumumkan.
Di dalamnya tercantum bahwa pemerintahan menganut
sistem dua kamar (dua dewan dalam satu pemerintahan),
yaitu terdiri dari Senat dan Dewan Perwakilan
Rakyat.
· 26 Juli 1968, - Kelompok A 5 gerilyawan
komunis, di bawah pimpinan Sahai Yudh, berhasil
masuk ke Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Thai
di Udon Thani, dan berhasil menghancurkan pesawat
terbang yang digunakan untuk perang di Vietnam.
Seorang petugas keamanan terbunuh.
·
10 Februari 1969, - Pemilihan Umum dilaksanakan.
·
7 Maret 1969, - Thanom Kittikachorn,
dipilih oleh parlemen, menjadi perdana menteri
untuk ketiga kalinya.
·
1969 - The National Student Center of Thailand,
sebuah organisasi pelajar yang juga aktivis, didirikan
ketika komunis merekrut orang-orang desa untuk
menjadi tentara.
·
1971 - Komunis Thai membentuk desa-desa pertahanan
yang akan menjaga area-area "bebas".
·
Oktober 1971, - Para pelajar untuk pertama
kalinya terlibat dalam politik aktif. Yaitu ketika
mereka ikut dalam sebuah demonstrasi besar-besaran.
·
17 November 1971, - Panglima Tertinggi
Thanom Kittikachorn melancarkan aksi kudeta
berdarah melawan pemerintahannya sendiri. Dia
mengambil alih seluruh fungsi pengawasan, mencabut
konstitusi, membubarkan parlemen, membubarkan
kabinet dan mengumumkan hukum perang. Alasannya,
karena tidak efektifnya konstitusi, karena partai-partai
politik tidak mau salin bekerja sama dan terorisme
di daerah utara. Partai Revolusioner, yang
dipimpin oleh Thanom, mengembalikan pemerintahannya
yang diktator. Anggota A 5 membentuk Badan Eksekutif
Nasional, dan diketuai oleh Thanom. Di antara
anggota-anggotanya, ada mantan perdana menteri
Pote Sarasin dan Panglima Tertinggi
Prapass Charusathiara.
·
1972 - Pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan
oleh komunis, semakin hebat dilakukan di daerah-daerah
ujung utara. Para gerilyawan komunis menggunakan
helikopter untuk bepergian jauh dan untuk menyerang
daerah pertahanan militer Thai. Para gerilyawan
Laos diberi kepercayaan untuk mengambil bagian
dalam aksi penyerangan Partai Komunis Thailand
di Provinsi Nan.
·
November 1972, - Sepanjang bulan ini, National
Student Center of Thailand (NSCT) mengadakan
kampanye menolak barang-barang Jepang. Para pelajar
itu meminta Tokyo untuk memberi kelonggaran atas
defisit perdagangan Thailand terhadap Jepang.
Sikap Anti-Jepang pada masyarakat Thai mulai muncul
ke permukaan, bukan sejak berakhirnya perang dunia
kedua. Dengan adanya kampanye anti Jepang, para
pelajar mulai diakui sebagai salah satu kekuatan
politik di Thailand.
·
Desember 1972, - NSCT mengadakan rapat
umum yang berlarut-larut, yang diarahkan untuk
melawan keputusan junta untuk menggabungkan kekuatan
dengan menempatkan pengadilan di bawah pengawasan
pemerintah secara langsung.
· 1 Desember 1972, - Pada pukul 12:23,
waktu yang paling baik menurut ahli nujum kerajaan,
Pangeran Vijiravudh, putera tertua Raja
Bhumiphol, dinobatkan sebagai Putera Mahkota.
· 15 Desember 1972, - Di bentuk sebuah
badan legislatif sementara, dan jabatan perdana
menteri dipercayakan kepada jajaran kabinet yang
baru.
· Pertengahan tahun 73 - Demonstrasi-demonstrasi
pelajar semakin meluas.
·
14 Oktober 1973, - Rapat umum yang diadakan
oleh para pelajar, berkembang menjadi suatu protes
besar yang mengarah pada suatu konfrontasi antara
tentara dan pelajar. Ketika konfrontasi itu berubah
menjadi sebuah tindak kekerasan, lebih dari 400
orang tewas, ribuan orang terluka dan empat gedung
dibakar. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan
Wan Maha Wippasok (hari yang paling tragis).
Raja Bhumiphol mendesak Perdana Menteri Panglima
Tertinggi Thanom Kittikachorn dan dua rekan
terdekatnya, Deputi Perdana Menteri Panglima Tinggi
Prapass Charusathiara dan Kolonel Narong
Kittikachorn (putera Thanom), untuk meninggalkan
Thailand. Rektor Universitas Thammasat, Sanya
Dhammasakdi, diangkat menjadi perdana menteri.
Untuk beberapa hari, Bangkok tampak kacau balau.
Polisi dan tentara berkeliaran di jalan-jalan.
Mereka berjaga-jaga dari kemungkinan adanya tindakan
balas dendam, terutama dari para pelajar.
·
10 Desember 1973, - Raja memilih ribuan orang
dari bebagai golongan, yang mewakili seluruh rakyat,
untuk dipilih menjadi anggota Majelis Nasional
Sementara.
·
1973-1974 - Pemerintahan Sanya Dhammasakdi,
dinilai sangat lemah. Harga-harga barang
naik. Ketidakamanan sosial, kekacauan dan aksi-aksi
menentang pemerintah terus meningkat.
·
1974 - Negara menjadi wahana percaturan politik
dan ideologi. Kekuatan kiri dan kanan saling berhadapan
dan saling bertentangan untuk setiap permasalahan,
baik yang bersifat politik maupun non-politik.
Industri tekstil dan perhotelan sangat terpukul
dengan adanya aksi-aksi pemogokan.
· 7 Maret 1974, - Majelis Nasional mulai
mendiskusikan sebuah konsep konstitusi baru.
·
Juni 1974, - Menurut pandangan orang-orang
golongan kiri, hubungan-hubungan telah terjalin
di antara para pelajar, para pekerja
dan para petani. Para pelajar memberi kesempatan
dan bertindak sebagai mediator antara para pekerja
dan para petani dengan pemerintah. Para pelajar
mendapatkan banyak simpati dari para pekerja dan
para petani. Walaupun demikian, pergerakan pelajar
ini terpecah dengan adanya para pelajar kejuruan
yang memisahkan diri dari NSCT dan membentuk
kelompok tersendiri yang bernama Gaur Merah.
Pemakaian kata "merah" ini menyesatkan, karena
sebenarnya mereka adalah penentang ideologi komunis.
Tanpa alasan yang jelas, perpecahan ini menyebabkan
timbulnya berbagai tindak kekerasan dan aksi pelemparan
bom. Pada bulan-bulan berikutnya, terjadi perubahan
identitas kelompok. Kelompok pelajar akademis
dianggap sebagai blok kiri, dan kelompok pelajar
kejuruan dianggap sebagai blok kanan.
·
3 Juli 1974, - Tiga hari berdarah akibat adanya
kerusuhan di Pecinan, di kota Bangkok, bermula
ketika seorang polisi Thai menilang seorang
supir taksi etnis Cina yang salah memarkirkan
mobilnya. Karena tidak mematuhi perintah polisi
untuk memindahkan mobilnya, polisi itu berniat
untuk membawanya ke kantor polisi. Kerusuhan itu
mulai terjadi ketika supir taksi itu melakukan
perlawanan terhadap polisi. Dan para pemuda etnis
Cina yang ada di sekitar situ mencoba untuk membantu
si supir taksi. Akibatnya 30 orang terbunuh
dan ratusan lainnya luka-luka. Sebagian besar
kerusuhan-kerusuhan yang terjadi dimotori oleh
para pemuda, dan diantaranya juga terdapat kelompok-kelompok
yang mempunyai motivasi politik. Sehingga aktivisme
para pelajar tidak lagi mendapat dukungan dari
masyarakat.
·
15 Agustus 1974, - Konsep konstitusi yang
baru disetujui oleh Majelis Nasional, dengan suara
280 banding 6.
·
September 1974, - 1,200 petani dari
bagian ujung utara dan timur Thailand, ikut bergabung
dalam demonstrasi-demonstrasi di Bangkok, yang
didukung pula oleh para pelajar, para pekerja
dan bahkan para biksu dan calon biksu. Mereka
menuntut pembagian tanah, bantuan keuangan dan
pembuatan Undang-undang Sewa Tanah. Ini
merupakan demonstrasi petani terbesar dalam sejarah
Thai.
· 7 Oktober 1974, - Konstitusi ke sepuluh
mulai berlaku.
·
Oktober 1974, - Karena keikutsertaan bangsa
asing dalam penambangan timah di Thailand, para
pelajar blok kiri berdemonstrasi mengenai hak-hak
penambangan timah di Teluk Thailand. Kecurangan-kecurangan
yang ada dibalik perjanjian, terbongkar.
· 1975 - Rejim komunis berkuasa di Kamboja,
Vietnam dan Laos.
·
5 Januari 1975, - 22 partai politik bersaing
untuk memperoleh hak dalam pemilihan badan
parlementer nasional. Partai Demokratik memenengkan
72 kursi.
· 15 Februari 1975, - Diplomat Seni
Pramoj, pemimpin Partai Demokratik, dipilih
menjadi perdana menteri oleh tiga partai yang
berkoalisi.
· 21 Februari 1975, - Para pemimpin Federasi
Petani Thailand hampir mati tertembak.
·
6 Maret 1975, - Baru dua minggu menjabat,
Seni Pramoj dipaksa turun dari jabatannya.
Hal ini disebabkan oleh penolakan parlemen untuk
mendukung agenda politik Seni.
·
17 Maret 1975, - Adik Seni, Kukrit Pramoj,
membentuk pemerintahan baru, meskipun pada kenyataannya
Partai Aksi Sosial yang dipimpinnya hanya memiliki
18 wakil di parlemen. Kukrit memperoleh reputasi
sebagai seorang politisi yang sangat cakap.
·
17 April 1975, - Khmer Merah bergerak
ke Phnom Penh dan mengambil alih Kambodja.
·
30 April 1975, - Vietkong merebut Saigon.
Dengan demikian berakhirlah Perang Vietnam dengan
kemenangan komunis. Jatuhnya dua negara komunis
tetangga, mendorong kelompok-kelompok kiri
di Thailand untuk menggiatkan kampanye "anti
imperialis".
·
Mei 1975, - Thailand merupakan satu dari negara-negara
non komunis pertama yang memberikan pengakuan
secara diplomatik terhadap pemerintahan Khmer
Merah.
·
Mei 1975, - Untuk kedua kalinya, para petani
dari daerah paling utara dan paling timur Thailand,
mengadakan rapat umum di Bangkok. Mereka menuntut
pembagian tanah, segala hal yang menyangkut perbaikan
tanah secepatnya dan menuntut penghapusan hutang-hutang
para petani terhadap tuan tanah.
·
Juni 1975, - Perdana Menteri Thai, Kukrit
Pramoj, mulai mengunjungi negara-negara yang
filsafat politiknya tidak dapat didekati, seperti
Cina. Kukrit bertemu dengan Mao Zedong,
dan Beijing setuju untuk menjalin hubungan diplomatik
dan saling mengirim duta besar.
· Juni/Juli 1975, -Para aktivis pelajar
dan pekerja diburu oleh pasukan blok kanan sebagai
tindakan pembalasan.
·
Agustus 1975, - Para pelajar dan petani menggelar
aksi mogok atas kegagalan para polisi dalam menegakkan
keadilan atas pembunuhan para pemimpin Federasi
Petani.
· 2 Desember 1975, - Di Laos, komunis Pathet
Lao mengambil alih pemerintahan dan mengumumkan
Laos People's Democratic Republic (Negara
Demokratik Republik Rakyat Laos).
·
1976 - Berbagai organisasi sayap kanan, dibentuk
untuk melawan komunisme, seperti Gerakan Perlawanan
Baru dan Organisasi Kepanduan Daerah.
· 1976 - Kelompok-kelompok kanan
menjadi tambah garang sepanjang tahun ini. Dan
kembali menyerang demonstrasi-demonstrasi para
pelajar akademis dari sayap kiri. Beberapa politisi
dan pemimpin pelajar sayap kiri dibunuh. Penanaman
modal asing berkurang karena ketidakstabilan pemerintah.
·
1 Januari 1976, - Para pekerja ikut dalam
aksi mogok besar-besaran yang di prakarsai oleh
Konfederasi Serikat Buruh di Thailand. Alasan
dari aksi mogok ini adalah karena naiknya harga-harga
bahan pokok. Karena aksi ini membawa pengaruh
yang sangat luas, maka pemerintah memerintahkan
penurunan harga-harga.
· 12 Januari 1976, - Perdana Menteri Kukrit
Pramoj membubarkan Parlemen setelah adanya
berbagai macam tuntutan dari sekitar 2,000
pegawai negeri yang berkumpul di Nawaphon.
Mereka memprotes adanya orang-orang komunis, yang
berkedok sebagai orang sosialis, di parlemen.
· 4 April 1976, - Pemilihan umum baru,
dilaksanakan dengan 19 partai peserta. Partai
Demokratik memenangkan 114 kursi dari 279 kursi
yang diperebutkan.
·
20 April 1976, - Seni Pramoj kembali
dipilih menjadi perdana menteri oleh parlemen.
· Agustus 1976, - Mantan orang terkuat
di militer, Thanom Kittikachorn, kembali
dari tempat pengasingannya di Singapura, sebagai
seorang Biksu Buddha. Hal ini menimbulkan
kemarahan para pelajar dari sayap kiri.
·
5 Oktober 1976, - Para pelajar dari sayap
kiri berkumpul di Universitas Thammasat,
memprotes kembalinya Panglima Tertinggi Thanom
beserta para pengikutnya.
·
6 Oktober 1976, - Ribuan aktivis sayap kanan
memadati daerah sekitar Universitas Thammasat.
Menjelang siang, mereka mulai menyerang para pelajar
sayap kiri dan menggempur Universitas Thammasat.
Setelah serangan pertama ini, gerombolan sayap
kanan bergabung dengan polisi dan pasukan militer
yang mulai menembaki para pelajar tanpa pandang
bulu. Para pelajar yang mencoba melarikan diri
dari kampus, berhasil dipatahkan dan ditangkap
oleh gerombolan sayap kanan yang sudah mengepung
daerah sekitar kampus. Pembantaian berakhir setelah
berlangsung selama hampir dua hari. Sebuah badan
resmi menghitung ada 41 pelajar yang tewas,
meskipun diperkirakan jumlah korban yang jatuh
jauh lebih banyak. Hampir 3,000 pelajar ditangkap,
kemudian segera di bawa dan di tempatkan ke pusat-pusat
penahanan. Pada sore hari, tanggal 6 Oktober,
Dewan Perbaikan Administratif Nasional
yang dipimpin oleh Laksamana Sangad Chalawyoo,
menjatuhkan pemerintahan Perdana Menteri Seni
Pramoj dan melantik Jenderal Thanin Kraivixien
sebagai perdana menteri yang baru. Para aktivis
sayap kiri melarikan diri ke gunung-gunung untuk
bergabung dengan Partai Komunis Thailand.
Dewan Perbaikan Administratif Nasional, segera
membubarkan parlemen, dan menyatakan partai-partai
politik lain yang melakukan aktivitas-aktivitas
militer, sebagai partai-partai terlarang. Pemerintahan
Thanin merupakan satu dari yang paling kejam
dalam sejarah Thai modern. Dalam setiap pengambilan
keputusan, Thanin sangat percaya pada ilmu
perbintangan dan ramalan garis tangan. Thanin
sendiri adalah seorang ahli ramal garis tangan,
dengan cara memegang telapak tangan dan membacakannya
tanpa meminta bayaran. Dia juga pernah meramal
garis tangan Perdana Menteri Jepang Fukuda
dan istrinya, pada saat kunjungan kenegaraan mereka
ke Thailand.
·
26 Maret 1977, - Jenderal Chalard Hiranyasiri
mencoba untuk melakukan kup terhadap pemerintahan
Thanin, tapi gagal. Pangkatnya langsung diturunkan,
dan pada tanggal 21 April 1977, di eksekusi
oleh pasukan tembak. Beberapa orang kaki tangannya
dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
·
20 Oktober 1977, - Laksamana Sangad Chalawyoo,
yang melakukan kup pada tanggal 6 Oktober 1977,
melantik Thanin Kraivixien sebagai perdana menteri.
Menjadi menteri pertahanan bersama Panglima Tertinggi
Jenderal Kriangsak Chomanan dalam pemerintahan
Thanin, merupakan salah satu keberhasilan kup.
Komplotan kup memperkenalkan dirinya sebagai The
coup plotters present themselves as the Partai
Revolusioner. Jabatan perdana menteri jatuh
pada Kriangsak. Walaupun di dukung oleh militer,
Kriangsak membuktikan bahwa pemerintahannya tidak
begitu diktator bila dibandingkan dengan pemerintahan
Thanin. Sementara itu, Thanin telah menetapkan
untuk kembali ke sistem pemerintahan demokrasi
dalam waktu 12 tahun. Pihak militer yang
baru, turut mendukung janji pemerintah untuk mengadakan
pemilihan dalam waktu satu tahun mendatang.
· 1978 - Pemerintahan Kriangsak mengikuti
kebijakan luar negeri untuk memperbaiki hubungan
dengan negara-negara komunis di timur. Hubungan
diplomatik dengan Vietnam dipulihkan kembali.
·
4-8 November 1978, - Deng Xiaoping
dari Cina mengunjungi Thailand. Persetujuan kerja
sama di bidang ilmu pengetahuan dan perdagangan,
ditandatangani.
·
Desember 1978, - Kriangsak mengundangkan konstitusi
yang isinya menguntungkan pihak militer. Parlemen
dengan sistem dua dewan terdiri dari majelis rendah
yang memilih wakil-wakil rakyat, dan majelis tinggi
yang mengangkat anggota senat. Pengangkatan mereka
dijamin oleh militer yang memiliki wakil di senat
dengan jumlah yang cukup besar.
·
7 Januari 1979, - Setelah hampir setahun konflik
yang berkembang antara Kamboja yang berorientasi
pada komunis Cina, dengan Vietnam yang berorientasi
pada komunis Soviet, pasukan tentara Vietnam,
bersama-sama dengan pasukan Kamboja bergerak memasuki
Phnom Penh, menjatuhkan rejim Khmer Merah
dan menggantikannya dengan pemerintahan boneka
Vietnam. Pada bulan-bulan berikutnya, Khmer Merah
melakukan teror secara terang-terangan yang mengejutkan
dunia. Hal ini sedikit banyak telah membuat Vietnam
merasa dibenarkan untuk melakukan invasi ke negara
tetangganya. Oleh karenanya, Thailand merasa terancam
oleh perluasan wilayah Vietnam Komunis secara
de facto. Meskipun dunia kurang memperhatikan
Khmer Merah, Thailand justru membantu sisa-sisa
Khmer Merah secara finansial, logistik
dan secara moral, untuk dapat kembali bergerilya.
Khmer Merah merupakan kekuatan yang paling kuat
pengaruhnya untuk mengimbangi pemerintahan Hanoi.
Lebih jauh lagi, Thailand juga membantu pembentukan
dua pasukan gerilya anti-Phnom Penh. Yaitu Front
Nasional Pembebasan Rakyat Khmer, yang dipimpin
oleh mantan perdana menteri Kamboja ,Son San,
dan pasukan yang setia pada bekas kerajaan yang
dipimpin oleh Pangeran Norodom Sihanouk.
Tiga pasukan gerilya yang terpecah-pecah tetap
berjaga-jaga di daerah perbatasan Thailand. Thailand
bahkan setuju wilayahnya dilalui untuk menyalurkan
kiriman senjata dari Cina untuk Khmer Merah. Karena
penyerbuannya ke Kamboja, pemerintahan Thai memberlakukan
isolasi ekonomi bagi Vietnam. Thailand
juga tidak mengakui pendudukkan Vietnam di Phnom
Penh. Sikap Thai ini diikuti oleh semua negara
anggota ASEAN, dengan menjadikan organisasi ekonomi
sebagai perantara secara politik bagi perkembangan-perkembangan
di Kamboja.
· 1979 - Para pengungsi Kamboja membanjiri
Thailand. Suatu perkembangan yang disebut sebagai
penyebab kenaikan inflasi nasional, yang berpengaruh
pada urusan-urusan negara dan sektor tenaga kerja.
Masyarakat Eropa, untuk pertama kalinya
mengangkat duta besar untuk ASEAN, yang
bertempat di Bangkok. Pihak militer mengajukan
permohonan pengampunan untuk lebih dari 8,000
pemberontak bersenjata yang menyerahkan
diri pada pihak berwajib. Mereka kebanyakan
berasal dari provinsi Chiang Rai, Phayao, Sakhon
Nakhon and Mukdahan. Pada saat yang bersamaaan,
Partai Komunis Thailand melemah. Hal ini
terjadi karena ada keretakan antara Cina dan Vietnam,
terutama setelah penyerbuan yang dilakukan Vietnam
terhadap Kamboja.
·
22 April 1979, - Seperti yang telah dijanjikan,
pemilihan umum di laksanakan oleh pemerintahan
hasil kup yang terjadi tanggal 20 Oktober 1977.
Pemilihan ini dimenangkan oleh Jenderal Kriangsak,
yang pada tahun 1977 di lantik menjadi perdana
menteri oleh militer. Politik di Thai memang tergolong
pelik. Jika pihak militer yang mengambil alih
pemerintahan Thai melalui kudeta, maka para pemimpinnya
mempunyai peluang yang sangat besar untuk di pilih
menjadi pemimpin negara. Di negara-negara yang
sistem pemerintahannya presidentil, seperti AS
dan Perancis, kepala negaranya tidak dipilih secara
langsung oleh rakyat. Di Thailand, kepala negara
(perdana menteri) di pilih oleh parlemen, tapi
dia tidak harus darianggota parlemen, tergantung
pada siapa penguasa konstitusi. Kepala negara
yang dipilih tidak harus yang paling sering berkampanye,
tapi yang mendapatkan dukungan dari para pemimpin
politik setempat. Pemilihan wakil rakyat di parlemen
dilaksanakan pada tingkat daerah, seperti di Inggris.
Jumlah wakil rakyat yang duduk di parlemen bukan
berdasarkan pada berapa besar perolehan suara
partai yang menang dalam pemilihan tingkat nasional.
Pokoknya, calon yang mendapatkan suara terbanyaklah
yang jadi anggota parlemen. Dalam setiap pemilihan,
pembentukan struktur politik dilakukan dengan
cara membagi jumlah perolehan suara dengan jumlah
calon yang ada, tanpa memperhatikan keanggotaan
partainya. Sedangkan bagi pihak militer, telah
tersedia satu fraksi tersendiri di parlemen. Ketika
usaha propagandanya tidak berhasil, pihak oposisi
biasanya akan mencoba berbagai macam cara untuk
menghalangi suatu partai tertentu berkuasa di
parlemen. Kriangsak dan para pendukungnya, selain
memiliki kekuatan, juga memiliki dasar organisasi
politik yang sangat baik. Sehingga dia berhasil
terpilih kembali menjadi perdana menteri. Beberapa
bulan kemudian, Kriangsak meluaskan kebijakan
politik dan ekonomi bebas, dan juga memberikan
pengampunan bagi bekas anggota Partai Komunis
Thailand.
· 30 November 1979, - Kedutaan Besar
AS di Wireless Road, Bangkok, pada dini hari
di serang dengan lemparan granat. Walaupun terjadi
banyak kerusakan, tak satu pun terluka.
·
29 Februari 1980, - Karena pemerintahan
Kriangsak tidak mampu menangani krisis yang
diakibatkan oleh pengungsi Kamboja, Kriangsak
mengundurkan diri dari jabatannya.
·
12 Maret 1980, - Jenderal Prem Tinsulanonda,
mantan menteri pertahanan dan panglima angkatan
bersenjata Thailand, menjadi perdana menteri.
Prem terkenal sangat keras dengan sikap anti-Vietnamnya.
Prem tetap menjalankan kebijakan ekonomi dan keuangan
yang menjadi cikal bakal dari pertumbuhan ekonomi
Thailand yang luar biasa pada tahun 80-an. Prem
sangat dekat dengan keluarga kerajaan. Dari tindakan-tindakannya
yang kebapakan dalam menangani masalah-masalah
dan konflik-konflik politik, maka dia dijuluki
Papa Prem - walaupun sebenarnya dia belum menikah.
· 19 April 1980. - Sebuah pesawat dari
perusahaan penerbangan Thai, Avro, mengalami kecelakaan,
akibat hujan badai. Pesawat tersebut jatuh sebelum
mendarat di Bandara Don Muang, Bangkok. 43
penumpang tewas, di antaranya ada empat orang
asing. Sedangkan 10 orang lagi selamat.
·
23 Juni 1980, - Pertempuran di Aranyaphratet,
berlangsung lebih dari 24 jam. Sekitar 300 tentara
Vietnam yang berpangkalan dan tinggal di Kamboja,
menyebrangi perbatasan dan berhasil menduduki
tiga desa di Thai. Dari pihak Thai, jatuh korban
sebanyak 60 orang, sedangkan Vietnam 75 orang.
·
30 Maret 1981, - Lima orang Muslim fundamentalis
Indonesia, membajak pesawat Garuda yang sedang
terbang menuju Bangkok. Mereka meminta agar para
tahanan politik di Indonesia dibebaskan. Sebuah
tim penyerang dikirim dari Jakarta. Mereka berhasil
merebut kembali pesawat dan membunuh kelima pembajak
pesawat itu. Tidak ada satu pun penumpang yang
terluka.
· 1 April 1981, - Sebuah kelompok prajurit
militer muda, yang kemudian dikenal sebagai Angkatan
Muda Turki, menduduki kantor-kantor pemerintahan
di Bangkok. Mereka menyatakan kecaman terhadap
kegagalan pemerintahan militer yang lalu, dan
mereka menyatakan diri sebagai pendukung demokrasi.
Tapi pendapat yang beredar di masyarakat menyatakan
bahwa mereka itu hanya lapar kekuasaan.
Prem menyangkal bahwa dirinya termasuk anggota
komplotan kup, dan pergi ke Khorat. Para pemberontak
menduduki kantor pemerintah pusat di Bangkok,
selama hampir tiga hari. Keluarga kerajaan
juga ikut pindah ke Khorat. Keluarga kerajaan
sangat mendukung Prem. Hal ini terlihat jelas
ketika radio menyiarkan pesan dari Ratu Sirikit.
Dukungan ini mengisyaratkan bahwa Prem bias kembali
bergabung dengan pasukannya dan pulang ke Bangkok.
·
3 April 1981, - Para pemberontak yang dipimpin
oleh Jenderal San Chipatima, menyerah. Chipatima
beserta pemimpin-pemimpin lain yang gagal dalam
kup, pergi meninggalkan Thailand. Sedangkan orang-orang
yang ikut terlibat dalam usaha kup, diberikan
pengampunan oleh kerajaan, sebulan kemudian. ·
Januari 1982, - Militer Thai mengadakan
penyerangan besar-besaran terhadap pasukan Khun
Sa, seorang penguasa yang terkenal sangat kejam
dan sering mabuk-mabukan. Militer Thai berhasil
mendesak keluar dari benteng pertahanannya di
Baan Hin Taek, di Provinsi Chiang Rai, Thailand.
Setelah satu bulan berperang, Khun Sa bersama
Persatuan Pasukan Shan yang dipimpinnya, mundur
sampai ke Burma.
·
5 April 1982 - Bangkok merayakan ulang tahunnya
yang ke-200 secara besar-besaran. Puncak acaranya
adalah parade kerajaan di sepanjang Sungai Chao
Phaya.
·
Pertengahan 1982 - Tentara menemukan suatu
program baru anti-pemberontakan. Program ini memberikan
hak atas lahan pertanian bagi para pelopor bersenjata,
yang akan mempertahankan area ini dan melawan
serangan komunis. Akibat dari program ini, perlawanan
gerilya mundur ke daerah perbatasan Laos.
Stasiun radio Suara Masyarakat Thailand
ditutup di Cina.
·
16 Juli 1982 - Sersan Mayor Amornsak
berusaha membunuh Perdana Menteri Prem pada saat
kunjungannya ke fasilitas artileri di Lopburi,
dengan menembakkan roket anti-tank pada
pesta perdana menteri. Roket tersebut hanya mengenai
sebuah pohon dan tak seorang pun mengalami luka-luka.
Insiden itu dirahasiakan selama hampir satu tahun.
Pada tanggal 2 Juni 1983, Amornsak dijatuhi hukuman
penjara selama 25 tahun.
· 1 Desember 1982 - Di bawah komandan Jenderal
Arthit Kamlangek, lebih dari seribu kelompok
tentara komunis menyerah pada pemerintah di wilayah
timur laut Thailand. Hal ini menandakan berakhirnya
pemberontakan komunis di wilayah ini. Partai Komunis
Thailand yang berdiri pada tanggal 1 December
1942 ini, akhirnya partai ini berhenti mengancam
pemerintahan Thai yang telah berdiri selama 40
tahun.
·
2 Desember 1982 - Sebuah kotak bom yang ditempatkan
di kedutaan Irak meledak, ketika seorang ahli
bom mencoba mematikannya. Dua lantai gedung kedutaan
Irak meledak, dan beberapa gedung lainnya mengalami
rusak berat. Korban yang tewas hanya ahli bom
tersebut.
· Januari 1983 - Di bawah pimpinan seorang
mayor, pasukan pemerintahan Kamboja di
bawah kesatuan Vietnam melakukan serangan
melawan tiga kesatuan yang telah terpecah. Pertempuran
tersebut hingga ke tanah Thai. Lebih dari 47.000
orang Kamboja melarikan diri ke Thailand.
·
3 Maret 1983 - Parlemen menolak tawaran militer
untuk tetap memakai ketentuan konstitusional sementara.
·
16 Maret 1983 - Pada pemilihan, parlemen tetap
menolak ketentuan dalam konstitusi yang akan mempertahankan
militer sebagai peranan yang utama dalam pemerintahan
Thai.
·
18 Maret 1983 - Dekrit kerajaan membubarkan
Majelis Nasional.
·
30 Maret 1983 - Kesatuan tentara Malaysia
menyerang tentara gerilya komunis di kota Grik,
dan kelompok gerilya tersebut melarikan diri ke
Thailand.
·
31 Maret 1983 - Kelompok Vietnam menembaki
kantor pusat Khmer di wilayah Thai. Tembakan tank
dan artileri tersebut telah menyebabkan tewasnya
30 orang sipil dan melukai sekitar 300 orang.
Sekitar 22.000 orang Kamboja melarikan diri ke
Thailand untuk mencari tempat perlindungan.
· 18 April 1983 - Pelaksanaan pemilihan
parlemen nasional. Pada pemilihan ini, dari 14
partai politik tidak yang ada yang menang menjadi
mayoritas di 324 kursi Dewan Perwakilan.
Berdasarkan ajakan empat partai besar, akhirnya
Prem membentuk pemerintahan baru. Padahal ia bukan
anggota parlemen.
·
Oktober 1983 - Bangkok mengalami musibah bencana
banjir yang terburuk selama 40 tahun terakhir.
·
Maret 1984 - Perselisihan antara Thailand
dan Laos dalam memperebutkan tiga wilayah : Ben
Mai, Bang Klang dan Van Sabang.
· 11 Maret 1984 - 7.000 batang dinamit
meledak di halaman dan kediaman seorang nasionalis
Cina di Chiang Mai, Jenderal Li Wen Huan. Ledakan
tersebut merusak 40 rumah lainnya juga. Pembunuhan
itu dipercaya atas prakarsa Kesatuan Tentara
Shan. Raja obat-obatan, Khun Sa, menjadi
tersangka karena mencoba memusnahkan sisa-sisa
Kuomintang yang melarikan diri dari komunis
Cina ke Myanmar tahun 1949 dan dari Myanmar ke
wilayah Thai tahun 1961.
·
11 Mei 1984 - Paus Yohannes Paulus II
tiba di Bangkok dan berkunjung selama dua hari.
Ia memimpin misa di halaman terbuka dan mengunjungi
kamp pengungsian di perbatasan Kamboja.
· 20 Juli 1984 - Militer menyerang persembunyian
komunis di Bangkok dan menahan 16 pemimpin
pemberontak komunis. Barang milik mereka yang
ditemukan adalah 131.000 dolar AS, beberapa kartu
dan senjata api.
·
14 September 1984 - Perekonomian Thai mengalami
penurunan. Para nasabah dan investor bank ramai-ramai
mengambil uang mereka di bank dan kantor penanaman
modal. Persediaan pasar pun menipis.
· 23 Oktober 1984 - 159 anggota
PBB menyetujui Thailand masuk dalam 15 anggota
Dewan Keamanan.
·
6 November 1984 - Baht mengalami devaluasi
sebesar 14.8%. 1 dolar AS bernilai sekitar
23 sampai 27 Baht. Akibat devaluasi ini, lima
jenderal menulis ke Perdana Menteri Prem untuk
merombak kabinet. Mereka yakin, perdana menteri
dapat memulihkan perekonomian bila beberapa kursi
kabinat dikosongkan. Pada hari yang sama, pasukan
Vietnam menyerang pos terdepan polisi patroli
perbatasan Thai dekat Surin, di perbatasan Thai-Kamboja
yang berjarak 420 km dari Bangkok. Penyerangan
tersebut menewaskan tiga orang Thai, 31 orang
luka-luka dan 5 orang menghilang.
·
7 November 1984 - Jenderal Arthit Kamlangek,
panglima tentara tertinggi dan komandan angkatan
militer kerajaan tertinggi, menegaskan mengenai
devaluasi Baht melalui siaran radio. Akibatnya,
pemerintahan mengatur suatu program pro-devaluasi.
Empat dari lima jenderal menandatangai surat persetujuan
program tersebut kepada Prem, untuk menunjukkan
loyalitasnya pada perdana menteri.
·
6 Maret 1985 - Angkatan militer Thai memukul
mundur sekitar 1000 pasukan Vietnam dari
tiga pegunungan di wilayah Thai yang pernah direbutnya.
Pasukan Vietnam terus-menerus memaksa masuk ke
dalam wilayah Thai, dan mencoba mengepung kelompok
pertahanan Kamboja yang mendapat dukungan dari
Thailand. Kelompok ini bebas melarikan diri di
wilayah Thai, selama pasukan Vietnam menyerang.
Thai menyerang pasukan Vietnam dan
menyebabkan 60 orang tewas.
· 20 April 1985 - Sekitar 1.200 pasukan
Vietnam menyerang posisi Thai di Trat, yang terletak
sekitar 3-4 km dari Teluk Thailand.
· 9 September 1985 - Angkatan Muda Turki
yang merupakan pecahan dari militer Thai, mencoba
menjatuhkan pemerintahan Jenderal Prem tapi gagal
lagi. Kolonel Manoon Roopkachorn dan saudaranya,
Komandan Udara Manas Roopkachorn dipecat
karena merupakan tersangka utama pada percobaan
kup tersebut. Manas dan Manoon juga pernah gagal
melakukan percobaan kup pada April 1981, dan mereka
melarikan diri. Di antara pendukung percobaan
kup itu, ada beberapa pejabat tinggi yang terlibat,
di antaranya mantan perdana menteri Kriangsak
Chomanan, mantan komandan tinggi Jenderal
Sermna Nakhon, mantan komandan angkatan darat
Jenderal Yos Thepasdin, mantan komandan angkatan
udara Marshall Krasae Satharat dan mantan komandan
angkatan udara Marshall Arum Promthep. Pasukan
pemerintahan yang dipimpin oleh Jenderal Chavalit
Yongchaiyuth, menumpas pemberontakan dalam
waktu 10 jam. Akibat penumpasan itu, menyebabkan
lima korban luka-luka, dua di antaranya wartawan
asing.
·
17 September 1985 - Para pemimpin pensiunan
militer yang terlibat ditahan. Dan ada 40 pejabat
militer yang masih aktif juga ditahan.
·
12 Januari 1986 - Kukrit Pramoj mengundurkan
diri sebagai ketua Partai Aksi Sosial,
yang merupakan koalisi partai terbesar di bawah
kepemimpinan perdana menteri Prem yang bukan anggota
partai. Ia di gantikan oleh Menteri Luar Negeri
Siddhi Savetsila.
· April 1986 - Perdana Menteri Prem tidak
memberi perpanjangan tugas pada Jenderal Arthit
selama satu tahun. Sehingga ia mengakhiri masa
tugasnya pada tanggal 1 September 1986. Tindakan
perdana menteri ini menolak anggapan bahwa pimpinan
tentara dapat menjabat sebagai perdana menteri.
·
1 Mei 1986 - Terjadi ketegangan karena perbedaan
persiapan pemilihan parlemen pada tanggal 27 Juli.
· 9 Mei 1986 - Curah hujan yang tinggi,
yaitu 25 cm (10in) selama 24 jam, telah menyebabkan
musibah banjir yang hebat di Bangkok.
·
27 Mei 1986 - Perdana Menteri Prem membebastugaskan
Jenderal Arthit dari kekuasaannya sebagai
panglima tertinggi angkatan darat, karena beredar
isu adanya rencana pembunuhan dan aksi kup yang
dipimpin oleh Arthit. Jenderal Arthit digantikan
oleh Jenderal Chavalit Yongchaiyuth.
· 23 Juni 1986 - Para pengunjuk rasa membuat
tanaman yang diolah sebagai tantalum di
atas api, ketika Menteri Industri Chirayu Issarangkun
menghadiri pertemuan mengenai tanaman di Pulau
Phuket. Mereka juga membakar Hotel Merlin
(tempat menginap menteri), beberapa mobil dan
bis. Unjuk rasa itu diprakarsai oleh Jenderal
Sanong, pejabat yang dipecat dari tugas militer.
· Agustus 1986 - Parlemen terpilih yang
baru memilih Prem sebagai perdana menteri
lagi. Kelompok anti-Prem di parlemen keluar dari
ruang parlemen, pada saat pengukuhan Prem sebagai
nominasi. Tetapi hal ini tidak berpengaruhi pada
hasil akhir, dan Prem tetap menjadi perdana menteri.
· 8 November 1986 - Enam rangkaian lokomotif
yang sedang diperbaiki di fasilitas rel kereta
api Bangsue, mengalami masalah dan bergerak
sejauh 7 km tanpa diawasi. Akhirnya kereta tersebut
menabrak di stasiun utama Bangkok, Hua Lamphong.
Kecelakaan itu menyebabkan empat orang tewas dan
tiga orang luka-luka.
·
Desember 1986 - Wakil pemerintah Thai dan
Laos mengadakan pertemuan untuk membahas
mengenai konflik perbatasan di antara kedua negara
tersebut.
·
25 Maret 1987 - Komandan angkatan darat, Jenderal
Chavalit, mengumumkan untuk melakukan serangan
terhadap pasukan Vietnam yang memaksa masuk dalam
wilayah Thai melewati batas 5 km.
· 1 April 1987 - Mantan perdana menteri
Kukrit Pramoj, dalam seminar mengenai politik
Thai di Bangkok, membicarakan mengenai Chavalit
sebagai pimpinan operasi keamanan internal,
yang merupakan kekuatan badan pemberontakan yang
memiliki indoktrinasi komunis.
·
5 April 1987 - 250 orang pasukan keamanan
Thailand menyerang kediaman Kukrit Pramoj,
karena pernyataannya mengenai Chavalit dan bagian
militernya.
·
28 April 1987 - Di provinsi Pattani, 540 anggota
Partai Komunis Malaysia menyerahkan diri kepada
pemerintahan Thai. Alasannya karena mereka ingin
turut berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi
Thailand.
· 31 Agustus 1988 - Pesawat Thai Airways
Boeing 737 jatuh ke lautan Pulau Phuket,
dan menyebabkan seluruh penumpangnya yang berjumlah
74 orang dan anggota krunya tewas. Berdasarkan
hasil investigasi, tabrakan itu disebabkan karena
pilot menghindari tabrakan di udara dengan Boeing
737 milik perusahaan penerbangan Hongkong, Dragonair.
· 2 Januari 1988 - Hotel pertama
di Bangkok terbakar. 13 tamu tewas, dan 11 di
antaranya orang asing.
·
Februari 1988 - Chavalit mengadakan
persetujuan gencatan senjata dengan Laos, untuk
mengakhiri pertikaian dengan negara tetangga komunis
tersebut.
· 9 Februari 1988 - Jet Vietnam
buatan Soviet mengalami kecelakaan saat mendarat
di Bandar Udara Don Muang, Bangkok. 75 dari 81
penumpang tewas dan pilot serta ko-pilotnya selamat.
· 28 April 1988 - Krisis politik di parlemen
selama pembicaraan mengenai hukum hak cipta dan
anti pembajakan. Banyak anggota parlemen yang
menentang alasan kebangsaan. Rancangan undang-undang
meningkatkan efektivitas perlindungan hak cipta
Thai untuk produk-produk yang terdaftar di AS
dan negara-negara lain yang memiliki hubungan
diplomatik dengan Thailand.
·
29 April 1988 - 44 anggota kabinet mengundurkan
diri. Setelah melakukan pertemuan singkat dengan
raja, perdana menteri Prem membubarkan parlemen
dan akan mengadakan pemilihan lagi pada tanggal
24 Juli.
·
2 Mei 1988 - Panglima tertinggi Chavalit
mengajukan surat pengunduran diri. Tetapi Menteri
Pertahanan menganjurkan kepada Perdana Menteri
Prem untuk menolak permohonan itu.
·
24 Mei 1988 - Porntip Nakirunkanok
(yang biasa dipanggil Pui) terpilih sebagai Miss
Universe yang diselenggarakan di Taiwan.
· 24 Juli 1988 - Partai Thai Chart memenangkan
pemilihan umum nasional.
· 4 Agustus 1988 - Ketua Partai Thai Chart,
Jenderal Chatichai Choonhavan, menjadi
perdana menteri Thailand yang ke-17. Salah satu
koran Bangkok berbahasa Inggris, The Nation,
dalam publikasinya pada saat ulang tahun koran
tersebut yang ke-20, menampilkan rubrik mengenai
Chatichai sebagai "seorang playboy politik yang
terkenal dan selama dua setengah tahun terlibat
skandal dan bermusuhan dengan militer" (edisi
ul |