|
Perayaan-perayaan
Upacara
Membajak Sawah
Upacara
membajak sawah setiap tahunnya jatuh pada bulan
keenam (biasanya akhir Mei). Dilaksanakan di Phramane,
dekat istana kerajaan di Bangkok. Upacara itu
penting artinya bagi para petani di Thailand.
Mereka sengaja datang ke Bangkok untuk mengikuti
upacara itu. Dulunya, upacara ini dijadikan pertanda
waktu yang tepat untuk mulai membajak sawah.
Dalam
State Ceremonies and Festivals of Twelve Months,
yang ditulis oleh Raja Rama V, upacara ini sudah
ada sejak jaman Buddha, 2500 tahun yang lalu.
Dan terus dilaksanakan sampai sekarang.
Pada
masa pemerintahan Sukhothai (1257-1350),
upacara ini dirayakan dengan melakukan arak-arakan
panjang yang dipimpin oleh raja. Dan Menteri Pertanian
secara simbolis melakukan pembajakan sawah.
Pada
masa pemerintahan Ayutthaya (1350-1767),
upacara ini dijadikan ajang untuk memberikan pengarahan
kepada wakil-wakil rakyat.
Pada
masa pemerintahan Raja Chakri I (Kerajaan Bangkok),
segala tradisi dalam upacara ini tetap dipelihara,
hanya saja raja tidak lagi ikut memimpin upacara
tersebut.
Kebiasaan
mencari hari dan waktu yang tepat untuk melaksanakan
upacara, berasal dari kebiasaan kaum Brahmana
yang memiliki banyak ahli nujum. Orang-orang Buddha
sendiri sebenarnya memiliki pedoman-pedoman dalam
menentukan hari dan waktu baik. Sekarang hal tersebut
sudah masuk menjadi bagian dalam tata cara pelaksanaan
upacara.
Raja
mengangkat seorang Phaya Raek Nah (pemimpin
upacara), sebagai wakilnya untuk memimpin upacara.
Setibanya di Phramane, Phaya Raek Nah dipersilakan
memilih satu dari tiga Panung (kain yang
dikenakan di pinggang) yang berlainan panjangnya.
Jika yang dipilih yang paling panjang, maka curah
hujan sepanjang musim tanam ini rendah. Dan jika
yang dipilih adalah yang paling pendek, maka curah
hujannya akan tinggi. Sedangkan jika yang dipilih
berukuran sedang, maka curah hujannya juga sedang-sedang
saja (curah hujan rata-rata).
Dalam
arak-arakan, kerbau yang dihiasi bunga-bunga,
menarik bajak suci yang berwarna merah dan emas.
Penabuh genderang dengan kostum serba hijau, mengiringi
para Brahmana menyanyi dan meniup terompet dari
kulit kerang. Sedangkan empat Nang Thepi
atau wanita suci membawa keranjang-keranjang emas
dan perak yang berisi benih padi.
Kerbau-kerbau
itu kemudian membuat alur bajakan setelah di suguhi
makanan dan minuman tujuh rupa, yaitu benih padi,
buncis, jagung, jerami, biji wijen, air dan minuman
keras. Apapun yang dipilih untuk dimakan atau
diminum, akan dapat membawa hasil panen yang berlimpah.
Penyemaian
benih padi dilakukan oleh Phaya Raek Nah setelah
pembajakan sawah. Setelah upacara selesai, palang-palang
dilepaskan dan ratusan orang bergegas menuju sawah
untuk mengambil beberapa butir padi untuk keberuntungan.
Bahkan jika hanya menemukan satu butir padi, butir
padi tersebut akan dicampurkan dengan padi miliknya
untuk menjamin keberhasilan panen tahun mendatang.
back
to content page
|