|
Sejarah
Asal
Mula Berdirinya Bangkok
Sejarah
Bangkok dimulai pada 200 tahun yang lalu, saat
dinasti Chakri mulai memerintah hingga saat ini.
Setelah Chao Phaya Chakri dimahkotai dengan
gelar raja Rama I pada tahun 1782, salah satu
keputusan utamanya adalah menetapkan ibu kota.
Secara singkat, sejarah mengatakan bahwa Rama
I menemukan Bangkok sebagai ibu kota sebelum
ibu kotanya Thonburi. Tetapi sejarah yang
disimpulkan saja itu seringkali kurang akurat.
Pada
mulanya, Bangkok tidak didirikan oleh Rama I.
Selama beratus-ratus tahun, daerah ini menjadi
tempat pemberhentian yang terkenal bagi para pedagang
Eropa yang berhenti di Bangkok sebelum melanjutkan
perjalanan ke Ayutthaya.
Garis
pembatas antara Thonburi dan Bangkok tidak jelas.
Sementara para pedagang Eropa menamakan Bangkok
di tempat pemberhentian itu, masyarakat di sekitar
Sungai Chao Phaya, yang dikenal dengan nama orang
Siam, menamakan tempat itu kota Thonburi yang
statusnya lebih tinggi dari Bangkok.
Thonburi
dipilih oleh Raja Taksin sebagai ibu kotanya.
Raja Taksin membangun istananya dan bangunan-bangunan
utama lainnya di tepi kanan Sungai Chao Phaya.
Kota Thonburi ini terletak di area kanan dan kiri
tepi sungai.
Raja
Taksin menetapkan ibu kotanya di sepanjang aliran
sungai, karena ia takut akan serangan orang-orang
Burma, seperti Ayutthaya yang pernah diduduki
oleh tentara Burma pada tahun 1767. Bila terjadi
serangan, sungai merupakan pilihan yang tepat
untuk melarikan diri. Mereka mempertahankan aliran
sungai, tidak hanya di sepanjang ibu kota. Ia
dapat menaikkan orang-orang dan pasukannya ke
kapal dan kemudian membuat pintu gerbang di Chao
Phaya. Benteng tua Chantaburi didirikan
sebagai tempat tujuannya di pantai timur yang
sekarang dikenal sebagai Kamboja.
Di
lain pihak, saat Chao Phaya Chakri menjadi
Raja Siam, orang Burma bukanlah merupakan ancaman
lagi bagi Siam. Sebab Siam sudah memiliki kekuatan
yang sama dengan Burma. Rama I tidak menganggap
tempat ini sebagai rute untuk melarikan diri lagi,
tapi merupakan pertahanan yang kuat. Ia juga tidak
bermaksud mengosongkan ibu kotanya dari barisan
orang Burma, tapi mempertahankannya. Sungai yang
mengalir melalui ibu kota sebenarnya tidaklah
menguntungkan, karena sulit untuk mengontrol keamanan
pintu masuknya. Akhirnya ia mengubah konsentrasinya
ke sisi paling timur, termasuk kerajaannya. Ia
mengabaikan orang barat, dan beralih ke daerah
yang lebih besar yaitu Thonburi.
Di
area paling timur Thonburi diruntuhkan sebagai
tempat bagi istananya. Di akhir abad ke-18, area
istana sekarang ditempati oleh penduduk Cina.
Chao Phaya Chakri memindahkan masyarakat Cina
sekitar tiga kilometer di hilir. Area tersebut
kemudian terkenal dengan nama Sampheng.
Saat ini orang-orang Cina masih tinggal di area
tersebut, dan Jalur Sampheng terkenal sebagai
tempat belanja yang terkenal. (after it had been
a red-light district for many decades).
Pembangunan
Istana Kerajaan dan Kuil Buddha Emerald
telah selesai pada tahun 1785. Dengan ibu kota
yang baru di area paling timur itu, Chao Phaya
juga memberikan nama baru "Krung Thep Maha
Nakhon Amorn Rattanakosindra Mahindrayutthaya
Mahadilokpop Noparattana Radchhani Burirom Udom
Rachnivet Mahastan Amorn Pimarn Avatarn Satit
Sakatuttiya Vishnukarm Prasit". Dalam bahasa Indonesia
: "Kota Malaikat, Kota dan Kediaman Buddha
Emerald yang Agung, Kota Dewa Indra yang tak Terkalahkan,
Ibu Kota Terbesar di Dunia, Diberkati dengan Sembilan
Permata Berharga, Kekayaan Berlimpah di Istana
Kerajaan yang Mirip dengan Surga dimana Dewa Reinkarnasi
Tinggal, sebuah Kota yang diberikan oleh Indra
dan Dibangun oleh Vishnukarm". Karena terlalu
panjang, maka biasa disingkat menjadi Krung Thep
saja. Dan agar lebih mudah diucapkan, orang-orang
barat menyebutnya menjadi Bangkok.
back
to content page
|